Rabu, 29 April 2026

Rumah yang Dibangun dari Hati




Suatu hari, ada sepasang calon pengantin yang datang menemui seorang penasehat pernikahan. Mereka terlihat bahagia, penuh senyum, dan yakin bahwa cinta mereka cukup untuk menjalani kehidupan rumah tangga.

Sang penasehat lalu bertanya,
“Menurut kalian, apa yang paling penting dalam pernikahan?”

Mereka menjawab kompak,
“Cinta.”

Penasehat itu tersenyum, lalu mengambil segelas air dan sedikit garam. Ia memasukkan segenggam garam ke dalam gelas, lalu mengaduknya.
“Silakan diminum.”

Keduanya mencicipi, lalu langsung meringis.
“Asin sekali.”

Kemudian penasehat itu mengajak mereka ke luar, menuju sebuah danau. Ia mengambil segenggam garam lagi, lalu menaburkannya ke dalam danau.
“Sekarang coba minum airnya.”

Mereka mencicipi air danau itu.
“Segar… tidak terasa asin.”

Penasehat itu pun berkata,
“Masalah dalam pernikahan itu seperti garam. Jumlahnya bisa sama, tetapi rasa yang kita rasakan bergantung pada luasnya hati kita.”

Ia melanjutkan,
“Kalau hati kita sempit, sedikit masalah saja terasa sangat menyakitkan. Tapi kalau hati kita lapang, penuh kesabaran dan pengertian, masalah sebesar apa pun tidak akan merusak kebahagiaan.”

Pasangan itu terdiam, mulai memahami.

Penasehat itu menutup dengan pesan,
“Pernikahan bukan hanya tentang cinta saat ini, tetapi tentang bagaimana kalian memperluas hati—dengan sabar, komunikasi, saling menghargai, dan komitmen. Karena rumah tangga bukan dibangun dari perasaan saja, tetapi dari kesiapan untuk bertumbuh bersama.”

Pesan utama untuk peserta Bimcatin:Pernikahan pasti ada masalah
Kunci bukan menghindari masalah, tapi memperbesar kapasitas hati
Dibutuhkan komunikasi, kesabaran, dan komitmen

Kalau mau, aku bisa buatkan versi lain (lebih islami, lebih humor, atau lebih dramatis) sesuai kebutuhan materi kamu.







Jodoh dalam Skenario Allah: Bimbingan Menuju Keluarga Sakinah Mawaddah Warahmah

 


Pada hari Senin, 27 April 2026, Abdul Khanip melaksanakan bimbingan kepada calon suami istri, Dwi dan teguh, dalam rangka pembinaan menuju kehidupan rumah tangga yang sakinah.

Dalam kesempatan tersebut disampaikan bahwa jodoh adalah rahasia Allah yang tidak ada seorang pun mengetahui secara pasti kapan, di mana, dan dengan siapa seseorang akan dipertemukan. Sebagaimana kisah sederhana namun penuh makna, seorang guru SD di wilayah Tegowanu yang dipertemukan jodohnya dengan seorang tukang foto. Pertemuan itu bermula dari jasa dokumentasi ujian anak-anak kelas 6, yang kemudian berlanjut hingga ke jenjang pernikahan. Dari kisah tersebut dapat diambil pelajaran bahwa jodoh adalah bagian dari skenario Allah yang harus diyakini dan disyukuri.

Allah berfirman:

وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah).”
(QS. Adz-Dzariyat: 49)

Jodoh bukan semata-mata ditentukan oleh rupa, harta, atau kedudukan, melainkan kecenderungan hati yang digerakkan oleh Allah melalui perantara hamba-hamba-Nya. Rasulullah bersabda:

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا، وَلِحَسَبِهَا، وَلِجَمَالِهَا، وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Wanita dinikahi karena empat perkara: hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu beruntung.”

Namun demikian, untuk mencapai keluarga yang harmonis tidaklah mudah. Dibutuhkan pengorbanan, keseriusan, dan keuletan. Rumah tangga ibarat bahtera yang berlayar di lautan, tidak lepas dari ombak dan badai. Oleh karena itu, komunikasi yang baik menjadi kunci utama dalam menjaga keharmonisan.

Rasulullah juga mengingatkan pentingnya menjaga keharmonisan dalam rumah tangga:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya.” (HR. Tirmidzi)

Selain itu, dalam menghadapi permasalahan rumah tangga, hendaknya tidak mudah melibatkan orang lain secara berlebihan, karena bisa menimbulkan persoalan baru. Menjaga aib dan kehormatan rumah tangga merupakan bagian dari tanggung jawab suami istri.

Yang tidak kalah penting, pasangan harus selalu mengingat janji suci yang diucapkan di hadapan penghulu, orang tua, dan para saksi. Janji tersebut bukan hanya ikatan lahir, tetapi juga ikatan batin yang disaksikan oleh Allah .

Sebagai pondasi utama dalam rumah tangga adalah agama, khususnya menjaga shalat. Allah berfirman:

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45)

Dengan menjaga shalat dan ketaatan kepada Allah, insyaAllah rumah tangga akan dibimbing menuju ketenangan dan kedamaian yang hakiki.

Semoga Lilis Kh dan Andreas dapat membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah, serta senantiasa diberi kekuatan dalam menghadapi setiap ujian kehidupan rumah tangga. Aamiin.

 

Jumat, 24 April 2026

Pendampingan Pendaftaran Wakaf Tanah Milik Bapak Supriyadi di Desa Kejawan



Pada tanggal 23 April 2026, Abdul Khanip melaksanakan kegiatan pendampingan dalam proses pendaftaran wakaf atas tanah milik Bapak Supriyadi. Kegiatan ini merupakan bentuk partisipasi aktif penyuluh agama dalam mendukung dan menyukseskan program wakaf di masyarakat, sekaligus memberikan kemudahan bagi wakif dalam mengurus administrasi perwakafan.

Dalam pendampingan tersebut, Abdul Khanip mendampingi secara langsung setiap tahapan proses yang harus dilalui oleh wakif. Proses dimulai dari pendaftaran tapak kapling tanah yang akan diwakafkan, dilanjutkan dengan pengajuan pengukuran tanah oleh petugas terkait. Hal ini dilakukan karena status tanah masih berupa Sertifikat Hak Milik (SHM) atas nama Bapak Supriyadi, sehingga perlu dilakukan pemecahan sertifikat terlebih dahulu sebelum dapat diwakafkan.

Setelah melalui tahapan pemecahan sertifikat, barulah sebagian tanah tersebut dapat diproses untuk diwakafkan. Tanah yang diwakafkan ini diperuntukkan bagi kepentingan Masjid Baitul Muttaqin yang berada di Desa Kejawan.

Pendampingan ini diharapkan dapat membantu masyarakat dalam memahami alur dan prosedur wakaf secara benar, serta memberikan rasa aman dan kemudahan dalam proses administrasi. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya penyuluh dalam meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya wakaf sebagai amal jariyah yang memberikan manfaat berkelanjutan bagi umat.

Selasa, 21 April 2026

Pendampingan Pengukuran Tanah Wakaf di Desa Kejawan Tegowanu


Pada hari Kamis, 16 April 2026, Abdul Khanip melaksanakan pendampingan kegiatan pengukuran tanah milik Bapak Supriyadi yang berlokasi di Desa Kejawan. Kegiatan ini dilakukan oleh dua petugas dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) sebagai bagian dari proses administrasi pertanahan.

Pendampingan ini merupakan salah satu bentuk pelayanan penyuluh dalam mendukung dan menyukseskan program wakaf di wilayah Tegowanu. Sebelumnya, kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari proses pemecahan Sertifikat Hak Milik (SHM) yang akan diwakafkan. Abdul Khanip juga telah mendampingi proses pendaftaran pemecahan tanah tersebut, yang direncanakan untuk kepentingan Masjid Baitul Muttaqin dan Madrasah Diniyah Miftahul Ulum Kejawan.

Dalam pelaksanaan pengukuran tanah, kegiatan ini turut dihadiri oleh perangkat desa setempat serta para pemilik tanah yang berbatasan langsung dengan lahan milik Bapak Supriyadi. Kehadiran mereka bertujuan untuk memastikan kejelasan batas-batas tanah serta menghindari potensi sengketa di kemudian hari.

Dengan adanya pendampingan ini, diharapkan proses wakaf tanah dapat berjalan lancar, tertib administrasi, serta memberikan manfaat yang luas bagi kepentingan ibadah dan pendidikan masyarakat sekitar.


Rabu, 15 April 2026

Dipisahkan Waktu, Disatukan Takdir: Kisah Cinta yang Kembali Oleh Kehendak Allah


Pada hari Rabu, 15 April 2026, di Aula KUA Tegowanu, Abdul Khanip melaksanakan bimbingan perkawinan (bimcatin) kepada sepasang calon pengantin dengan inisial JTS dan SHT. Namun, pertemuan itu bukan sekadar bimbingan biasa—melainkan sebuah kisah perjalanan cinta yang begitu panjang, penuh ujian, dan sangat menggugah hati siapa pun yang mendengarnya.

Pasangan ini sejatinya bukan orang asing satu sama lain. Mereka pernah menjadi suami istri, pernah membangun rumah tangga bersama, dan dikaruniai dua orang anak—seorang putra dan seorang putri. Bertahun-tahun mereka menjalani kehidupan sebagai keluarga, berbagi suka dan duka, hingga pada suatu masa, tanpa sebab yang begitu jelas, takdir membawa mereka pada perpisahan. Perceraian pun terjadi.

Namun yang unik, bahkan sangat langka, adalah apa yang terjadi setelah perpisahan itu. Selama 23 tahun berpisah, tidak pernah ada kebencian yang tumbuh di antara keduanya. Tidak ada dendam yang membekas di hati. Mereka tetap menjalin komunikasi yang baik, saling menyapa melalui pesan singkat, saling berbagi kabar, dan tetap hadir sebagai orang tua bagi kedua anaknya. Ikatan itu tidak pernah benar-benar putus—hanya berubah bentuk.

Seolah Allah masih menyimpan cerita indah yang belum selesai, suatu hari anak bungsu mereka mengirimkan pesan kepada keduanya. Sebuah pesan sederhana, namun penuh makna dan harapan: agar ayah dan ibunya kembali bersatu, membangun kembali rumah tangga yang dulu sempat runtuh di tengah jalan.

Pesan itu dikirim beberapa hari sebelum takdir Allah kembali berbicara. Anak yang menjadi penghubung harapan itu dipanggil oleh Allah SWT akibat sebuah kecelakaan. Kepergiannya meninggalkan duka yang mendalam, namun sekaligus meninggalkan wasiat cinta yang begitu kuat—sebuah pesan yang kini terpatri dalam hati kedua orang tuanya.

Pesan itulah yang kemudian menjadi titik balik. Menjadi jembatan yang menghubungkan kembali dua hati yang telah lama berjalan sendiri-sendiri. Menjadi alasan untuk membuka lembaran baru, bukan sebagai orang asing, tetapi sebagai dua insan yang pernah saling mencintai dan kini dipertemukan kembali oleh takdir-Nya.

Betapa indah skenario Allah. Dia yang menggerakkan hati manusia, yang membolak-balikkan perasaan, yang mengatur setiap pertemuan dan perpisahan. Tidak ada satu pun yang terjadi di langit dan di bumi ini tanpa izin-Nya. Bahkan hati manusia pun tidak luput dari campur tangan-Nya.

Kisah ini seakan menjadi pengingat akan perkataan para salafus shalihin:
"Engkau tidak akan berhenti tersenyum ketika melihat betapa indahnya takdir Allah bagi hamba-Nya."

Di balik luka, Allah menyimpan penyembuh.
Di balik perpisahan, Allah siapkan pertemuan kembali.
Dan di balik duka yang mendalam, Allah hadirkan hikmah yang tak terhingga.

Kini, JTS dan SHT melangkah kembali, bukan sebagai dua orang yang baru bertemu, tetapi sebagai dua hati yang telah diuji oleh waktu, disucikan oleh kesabaran, dan dipersatukan kembali oleh cinta yang diridhai-Nya.

Semoga rumah tangga yang akan mereka bangun kembali menjadi lebih kokoh, lebih penuh syukur, dan lebih dekat kepada Allah SWT. Aamiin.

Menghormati Orang Tua dan Mertua sebagai Kunci Keharmonisan Rumah Tangga


Pada hari Rabu, 15 April 2026, bertempat di Aula KUA Tegowanu, Abdul Khanip melaksanakan kegiatan bimbingan perkawinan (bimcatin) kepada calon pengantin, yaitu Yusuf Maimun dan Dewi Ernawati dari Kedungwungu. Kegiatan ini berlangsung dengan penuh kehangatan dan suasana yang menyentuh hati.

Dalam kesempatan tersebut, Abdul Khanip mengawali dengan sebuah pertanyaan sederhana namun sarat makna kepada kedua calon pengantin, “Siapa yang paling berjasa dalam hidup njenengan hingga bisa berada di titik ini, duduk berdampingan di sini?” Dengan penuh keyakinan, keduanya menjawab, “Orang tua.”

Jawaban tersebut menjadi momen refleksi yang mendalam. Disampaikan bahwa memang benar, orang tua adalah sosok yang paling berjasa dalam kehidupan setiap manusia. Sejak lahir hingga dewasa, merekalah yang telah mencurahkan segalanya kasih sayang, perhatian, pengorbanan, bahkan tanpa pernah meminta balasan sedikit pun.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa setelah memasuki jenjang pernikahan, akan hadir orang tua baru dalam kehidupan, yaitu mertua. Bersamaan dengan itu, hadir pula keluarga baru dan lingkungan baru yang harus diterima dengan lapang dada serta disikapi dengan penuh cinta dan penghormatan. Mertua bukan sekadar keluarga tambahan, melainkan orang tua yang harus dimuliakan sebagaimana memuliakan orang tua kandung.

Ditekankan pula bahwa hubungan dengan mertua tidak boleh dipandang sebelah mata. Bahkan dalam kondisi apapun, termasuk jika terjadi hal yang tidak diinginkan dalam rumah tangga, mertua tetaplah orang tua yang harus dihormati. Oleh karena itu, jangan sampai terucap kata-kata yang menyakiti, seperti menganggap mertua pelit atau tidak menyayangi, karena hal tersebut tidak mencerminkan sikap seorang anak yang berakhlak mulia.

Suasana semakin haru ketika disampaikan bahwa pada hari pernikahan nanti, orang tua akan menyerahkan sesuatu yang paling berharga dalam hidup mereka, yaitu anak yang telah mereka rawat, didik, dan cintai sejak lahir. Penyerahan itu bukanlah hal yang sederhana, melainkan bentuk kepercayaan yang sangat besar.

Jika diandaikan semua pengorbanan orang tua harus dibalas dengan materi, maka tidak akan ada seorang pun yang mampu menggantinya. Berapapun jumlah harta yang dimiliki, bahkan jika seseorang berpenghasilan jutaan setiap hari, tetap tidak akan sanggup membayar kasih sayang, pendidikan, dan pengorbanan orang tua sejak anak dilahirkan hingga dewasa.

Melalui penyampaian tersebut, diharapkan calon pengantin mampu menyadari betapa pentingnya menghormati orang tua dan mertua, serta menjadikannya sebagai landasan dalam membangun rumah tangga yang harmonis, penuh cinta, dan diliputi keberkahan.

Bimbingan Calon Pengantin: Membangun Kesetiaan dan Keharmonisan Rumah Tangga

 

Pada hari Selasa, 14 April 2026, Abdul Khanip melaksanakan kegiatan bimbingan perkawinan (bimcatin) kepada calon pengantin yang bernama Deny Eka Prasetyo dan Aini Nur Khabibah. Kegiatan ini berlangsung dalam suasana yang hangat dan penuh kekhidmatan, dengan tujuan memberikan bekal pemahaman kepada calon pasangan dalam membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.

Dalam kesempatan tersebut, Abdul Khanip menyampaikan pentingnya menjaga kesetiaan dalam kehidupan pernikahan. Kesetiaan bukan hanya sekadar komitmen lahiriah, tetapi juga harus dibangun melalui pendekatan spiritual kepada Allah Swt. sebagai Dzat Yang Maha Menentukan jodoh. Dengan mendekatkan diri kepada Allah, pasangan suami istri akan memiliki landasan iman yang kuat dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan rumah tangga.

Lebih lanjut disampaikan bahwa jodoh yang diperoleh merupakan pilihan terbaik yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. Setiap individu pada hakikatnya dipertemukan dengan pasangan yang memiliki kesesuaian, baik dalam kelebihan maupun kekurangan. Oleh karena itu, penting bagi setiap pasangan untuk saling menerima, memahami, dan menyayangi satu sama lain.

Rasa kasih sayang terhadap pasangan hendaknya dipelihara dengan penuh keikhlasan, karena pasangan hidup merupakan anugerah sekaligus amanah dari Allah Swt. yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian, diharapkan calon pengantin mampu membangun rumah tangga yang harmonis, penuh cinta, serta diliputi keberkahan dalam setiap langkah kehidupannya.

Kamis, 09 April 2026

Jangan Pernah Main-Main dalam Menjalankannya”

Pernikahan adalah Ibadah, Maka Jangan Pernah Main-Main dengannya

 

BIMCATIN  : Abdul Khanip 

Pada hari Kamis, tanggal 9 April 2026, Abdul Khanip selaku penyuluh agama melaksanakan kegiatan Bimbingan Perkawinan Calon Pengantin (Bimcatin) kepada pasangan calon pengantin dari Desa Cangkring, yaitu Saudara Hendra dan Saudari Ruminah. Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam mempersiapkan calon pengantin agar memiliki bekal yang cukup dalam mengarungi kehidupan rumah tangga.

Dalam penyampaiannya, beliau menegaskan bahwa pernikahan bukan sekadar ikatan lahir antara laki-laki dan perempuan, melainkan sebuah ibadah yang agung di hadapan Allah SWT. Pernikahan adalah jalan suci yang harus dijalani dengan penuh kesungguhan, bukan sekadar formalitas atau mengikuti kebiasaan semata.

Sebagaimana firman Allah SWT:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
(QS. Ar-Rum: 21)

Ayat ini menegaskan bahwa pernikahan adalah bagian dari tanda kekuasaan Allah, yang bertujuan menghadirkan ketenangan (sakinah), cinta (mawaddah), dan kasih sayang (rahmah). Oleh karena itu, pernikahan harus dilandasi dengan niat ibadah, bukan sekadar memenuhi keinginan duniawi.

Lebih lanjut, disampaikan bahwa pernikahan adalah sebuah perjanjian yang kuat (mitsaqan ghalidzan), sebagaimana firman Allah:

وَأَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا
(QS. An-Nisa: 21)

Makna dari perjanjian yang kuat ini adalah bahwa pernikahan bukanlah sesuatu yang boleh dipermainkan. Tidak boleh dilakukan hanya karena ikut-ikutan, tekanan lingkungan, atau tanpa kesiapan yang matang.

Dalam rumah tangga, suami memiliki peran sebagai pemimpin yang bertanggung jawab memberikan nafkah lahir dan batin, serta membimbing keluarga menuju kebaikan. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ
(QS. An-Nisa: 34)

Sementara itu, istri berperan sebagai pendamping yang setia dan penyejuk hati. Hubungan suami istri diibaratkan seperti pakaian satu sama lain:


هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ
(QS. Al-Baqarah: 187)

Makna “pakaian” adalah saling menutupi kekurangan, melindungi, dan melengkapi satu sama lain.

Dalam membangun rumah tangga yang harmonis, diperlukan komunikasi yang baik, sikap saling menghargai, serta kesabaran. Allah SWT berfirman:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
(QS. An-Nisa: 19)

Selain itu, kesiapan dalam menikah juga menjadi hal yang sangat penting:

وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحًا
(QS. An-Nur: 33)

Di akhir penyampaian, beliau berpesan bahwa pernikahan bukanlah tempat untuk bermain-main. Jangan mudah mengucapkan cerai dan jangan mempermainkan hukum Allah:

وَلَا تَتَّخِذُوا آيَاتِ اللَّهِ هُزُوًا
(QS. Al-Baqarah: 231)

Dengan demikian, setiap pasangan hendaknya menanamkan niat yang lurus karena Allah SWT, menjaga komitmen dalam rumah tangga, serta menjadikan pernikahan sebagai ladang ibadah sepanjang hayat. Diharapkan melalui kegiatan ini, calon pengantin mampu membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah, serta penuh keberkahan.

Rabu, 08 April 2026

Perjalanan Menuju Keluarga Sakinah: Pesan Bimcatin untuk Calon Pengantin

 


Bimbingan Perkawinan (Bimcatin) di KUA Tegowanu


Pada hari Rabu, 8 April 2026 pukul 10.00 WIB, Abdul Khanip selaku penyuluh agama melaksanakan kegiatan Bimbingan Perkawinan (Bimcatin) di Aula KUA Tegowanu kepada calon pengantin, yaitu Chaniful Haq (Sayung) dan Fitriyana (Tegowanu).

Dalam kesempatan tersebut, disampaikan bahwa membangun rumah tangga bukanlah perkara yang mudah. Hal ini terbukti dari banyaknya pasangan suami istri yang gagal dalam mempertahankan keutuhan rumah tangga. Oleh karena itu, diperlukan kesiapan mental, kesabaran, serta komitmen yang kuat dari kedua belah pihak.

Beliau memberikan perumpamaan bahwa kehidupan rumah tangga ibarat sebuah perjalanan. Dalam perjalanan tersebut tentu tidak selalu mulus, akan ada jalan berlubang, kerikil, dan rintangan lainnya. Jika seseorang tidak fokus pada tujuan, maka ia akan mudah berhenti di tengah jalan. Begitu pula dalam rumah tangga, jika tidak memiliki tujuan yang jelas, yaitu membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah, maka akan mudah goyah ketika menghadapi ujian.

Selain itu, beliau juga menekankan pentingnya menghormati dan berbakti kepada orang tua. Karena di dunia ini, orang yang paling berjasa dalam kehidupan seseorang adalah bapak dan ibu. Mereka telah membesarkan, merawat, dan mendidik anak-anaknya dengan penuh kasih sayang, pengorbanan, serta tanpa mengharapkan balasan apa pun.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua."
(QS. Al-Isra: 23)

Ketika seseorang telah menikah, maka ia tidak hanya memiliki pasangan hidup, tetapi juga mendapatkan keluarga baru. Orang tua pasangan (mertua) harus diterima dengan penuh keikhlasan dan tidak boleh dibeda-bedakan dengan orang tua sendiri. Menghormati mertua merupakan bagian dari akhlak mulia dalam membangun rumah tangga yang harmonis.

Beliau juga mengingatkan bahwa orang tua telah berjuang dengan penuh keringat dan air mata demi membesarkan anak-anaknya. Maka sudah sepantasnya seorang anak tetap berbakti kepada mereka, meskipun telah berkeluarga.

Sebagaimana firman Allah SWT:

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا
"Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya."
(QS. Al-Ankabut: 8)

Di akhir penyampaian, beliau berpesan agar calon pengantin senantiasa menjaga niat dalam membangun rumah tangga, saling memahami, serta menjadikan agama sebagai landasan utama dalam kehidupan berumah tangga.

Dengan demikian, diharapkan pasangan calon pengantin dapat membangun keluarga yang harmonis, penuh keberkahan, serta mampu menghadapi berbagai ujian kehidupan dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.

Jumat, 03 April 2026

3 Golongan Manungsa Sakbadane Ramadan


 االْحَمْدُ للهِ جَعَلَ رَمَضَانَ شَهْرًا مُبَارَكًا، وَفَرَضَ عَلَيْنَا الصِّيَامَ لِأَجْلِ التَّقْوٰى. أَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مَحَمَّدٍ الْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ، فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى. فَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ وَذَكَرَ ٱسْمَ رَبِّهِۦ فَصَلَّىٰ

Alhamdulillah, sampun kalih minggu Ramadan ninggalaken kita. 2 minggu punika ugi kita sampun ngrayakake dinten riyaya ing wulan Syawal. Para sahabat Nabi rumiyin ngantos nangis nalika pisah kaliyan wulan Ramadan, amargi padha kuwatir bilih amal-amale mboten dipun tampi dening Allah. senajen ditampi utawi mbotenipun amal punika hakipun Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah ngendika:

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Tegese: Satemene Allah namung nampi amal saking tiyang-tiyang ingkang bertakwa.” (QS. Al-Ma’idah: 27)

Mila saking punika, para ulama nerangake wonten tandha-tandha ditampinipun amal, ingkang dipun wastani alamatul qabul.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Mulo Ing khutbah punika, kanti teme, wonten “Tiga Golongan Manungsa Sawise Ramadan.”

Golongan kapisan, inggih punika tiyang ingkang sakbadane Ramadan tambah rajin lan tambah taat dhateng Allah. Nalika Ramadan piyambakipun rajin salat berjamaah wonten ing masjid, mushola, saksampunipun Ramadan ugi tetep dipun jaga sholat jamahipun. Rasulullah ngendika:

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ أَوْ رَاحَ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُ فِي الْجَنَّةِ نُزُلًا كُلَّمَا غَدَا أَوْ رَاحَ

“Tegese: Sinten ingkang tindak dhateng masjid esuk utawi sonten, Allah nyawisaken papan wonten ing swarga saben piyambakipun tindak lan wangsul.” (HR. Bukhari & Muslim)

Nalika Ramadan rajin maos Al-Qur’an, sasampunipun Ramadan ugi tetep dipun lanjutaken maos al quran. Rasulullah ngendika:

اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

“Tegese: Maosono Al-Qur’an, amargi badhe dados syafaat kangge tiyang ingkang maos wonten ing dinten kiamat.” (HR. Muslim)

Nalika Ramadan remen sedekah, sasampunipun Ramadan ugi tetep sedekah. Rasulullah ngendika:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Tegese: Amal ingkang paling dipun tresnani Allah inggih punika ingkang terus-terusan senajan sethithik.” (HR. Bukhari & Muslim)

Hadirin ingkang dipun mulyaaken Allah,

Puniki ingkang dipun wastani tandha ditampinipun amal, inggih punika kebaikan ingkang kontinyu utawi kebaikan ingkang terus menerus dipun lampahi. Kados firman Allah:

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ

“Tegese: Menawi sampun rampung saking satunggaling urusan, mila tekunana/tumandang ing urusan sanes.” (QS. Al-Insyirah: 7)

Golongan punika insyaAllah kalebet tiyang ingkang dipun tampi amalipun, imanipun tambah sae lan saged njagi diri saking maksiat. Mugi-mugi kita sedoyo saget kalebet golongan punika.

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

Golongan kaping kalih, inggih punika tiyang ingkang sadèrèngipun Ramadan males ibadah. Nalika Ramadan dugi, dados rajin salat berjamaah wonten masjid, maos Al-Qur’an, sedekah, lan njagi lisanipun.

Nanging sasampunipun Ramadan mungkur pamit ninggalaken,  mongko sedaya dipun tinggal. Bali maring setelan awal mboten rajin tindak wonten masjid utowo mushola, maos al quran dipun tinggal, sedekah kroso iman lan mboten saget njagi lisan lan agngota badan lintune sangkeng perkawis ingkang haram, padahal tasih wonten ing wulan Syawal. Rasulullah ngendika:

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ

“Tegese: Kathah tiyang ingkang puasa, nanging mboten pikantuk apa-apa kejawi lapar lan ngelak.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah)

Puniki golongan ingkang mboten pikantuk pahala, kejawi namung rasa lapar lan ngelak. Na’udzubillah.

Hadirin jamaah rahimakumullah,

Menawi Ramadan ingkang kita lampahi mboten saged ndadosaken kita hamba ingkang langkung sae, punika tandha bilih puasane namung pikantuk lapar lan ngelak kemawon.

Mugi-mugi Allah njagi kita saking golongan punika.

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

Golongan ingkang pungkasan inggih punika tiyang ingkang sadèrèngipun Ramadan males ibadah, nalika Ramadan tetep males, lan saksampunipun Ramadan malah saya tebih saking Allah. Punika golongan ingkang cilaka. Rasulullah ngendika:

رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ

“Tegese: Celaka tiyang ingkang ketemu kaliyan Ramadan, nanging mboten dipun paringi pangapunten.” (HR. Tirmidzi)

Wonten tiyang ingkang kados mekaten, awan Ramadan mangan lan ngombe tanpa isin, boten ngajeni tiyang ingkang puasa. Padahal kiambake tiang ingkang muslim, agamanipun islam, KTP enipun tertulis ceto islam, bahkan praktik ibadahipun secoro islam, nagging mboten wonten rasa hormat terhadap Ramadan Padahal mboten gerah, mboten safar, lan mboten wonten uzur syar’i. Nanging kedah dipun eling, bilih puasa punika panggilan iman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا

“Tegese: Wahai tiyang-tiyang ingkang iman…” Namung tiyang ingkang gadhah imanlah ingkang saged nindakaken puasa kanthi temen.

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

Monggo kita sami ndedonga dhateng Allah: mugi-mugi kita dipun lebokaken wonten ing golongan kapisan, golongan ingkang ditampi amalipun. Lan Mugi-mugi dosa-dosa kita dipun ngapuro dateng allah, gesang kita dipun benahi dados langkung sae, lan dipun paringi kesempatan malih pinanggih Ramadan tahun ngajaeng. Lan mugi pungkasan gesang kita husnul khatimah.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

 

: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ وَذَكَرَ ٱسْمَ رَبِّهِۦ فَصَلَّىٰ

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ بِاْلُقْرءَانِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ ِبمَا ِفيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهٗ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


Kamis, 02 April 2026

Makna Halal Bihalal

 



اَلْحَمْدُ ِللهِ وَكَفٰى ، وَسَلاَمٌ عَلٰى عِبَادِهِ الَّذِيْنَ اصْطَفٰى. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ.
اَللهُمّ صَلِّ وَسَلّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ, اَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ اللهِ, اُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فىِ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Al hamdulilah, indalaem jumah puniko kito Wonten penghujung bulan sawal, bulan ingakng   sedoyo intansi pemrintah, kantor-kantor madrsah sekolahan lan sanesipun sami ngadaaken halal bihalal. 

Halal bihalal inggih puniko nyuwun halal lipun tiang dateng sederek ipun supados dipun halalaken kesalahanipun, coro gampilipun kosong kosong. Halal bihalal sejatosipun mboten bahasa arab senaoso istilah niku kados bahasa arab sebab mendet kata arab, halal bihalal merupakan produk ulama nusantara ingkang dipun popularaken dening KH. Wahab hasbullah tokoh muasis pendiri dan pengerak nadlotul ulama.

Nalikane tahun  1948. KH Wahab h. memperkenalkan istilah halalbihalal dateng Bung karno sebagai bentuk cara silaturahim antar pemimpin politik yang pada saat itu masih memiliki konflik. Atas saranipun KH wahab, nalikane idul fitri 1948 Bungkarno mengundang sedoyo tokoh politik wonten istana negara sakperlu  menghadiri silaturahim yang diberi judul halalbihalal. Para tokoh politik akhirpun purun duduk satu meja.  Sakbadane niku sedoyo instansi pemerintah menyelengarakan halal bihalal lan dipun ikuti sedoyo masyarakat khususipun masyarakat muslim di tanah jawa  sebagai pengikut para ulama. Hingga sakniki  halalbihalal menjadi tradisi di Indonesia. 

 Nalikane KH wahab hasbullah mencetuskan halalbihalal beliau medet dasar hadis. 


مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلِمَةٌ لِأَخِيْهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ مِنْ شَيْءٍ، فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ، قَبْلَ أَنْ لَا يَكُوْنَ دِيْنَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلِمَتِهِ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ، أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ

Sinten tiang ingkang gadahi kesalahan kalih sederikipun, kesalahan arupoi harga diri utawi  perkawis ingkang hubuganipun kalih materi mongko nyuwuno halal mareng sederek saking kesalahan ingkag dipun perbuat. Dinten niki, sakderengipun ketekan dino, dino ingkang dinar kalih dirham sampun mboten wonten reganipun inggih puniko dinten qiyamat. 

Nalikane dereng sempet nyuwun halal nagtos dinten qiyamat mongkonhg ingkang dados masalah inggih puniko ngamalipun.  Nalikane gadah amal sholih mongko amalipun sholih dipendet diparengake dateng tiang kang dipun dholimi utawi dipun salahai. 

إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلِمَتِهِ

Menawi mboten gadah ngamal sholih utawi amal sholih sampun telas, dipun pendet kangge tiang ingkang dipun salahi mongko keburukan utawi kesalahan tiang ingkang kito berbuat salah, dipun pendet dibebanaken dateng kito ingakng berbuat salah. 

وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ، أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ، فَحُمِلَ عَلَيْهِ

Ningali hadis lan keterangan kolo wau mongko bilih kesalah ingkang hubunganipun kalih menungso hablum minannas niku wonten kalih. 

  1. Inngih puniko kesalahan iangakng arupi harga diri kados ngerasani utawi merendahkan membicarakan kejelekan di muka umum lan lintunipun mongko wajib nyuwun halalipun dateng tiaang ingkang dipun dholimi utawi tiang ingkang bersangkutan. Menawi tiang  ingkang bersangkutan sampun sedo, apa perlu nyuwun ngapuroi lewat keluargane, niku mboten cekap. Sebab ngapuro niku hak tiang ingkang sampun sedo mboten hak ahliwarisipun. 
  2. kesalahan ingkang hibungan kalih materi. Mongko kados pundi carane nyuwun halal, inggih piniko wajib mbaliakae barang ingkang dipun pendet, menawi barang ingkang sampun mboten wonten mongko wajib ngijoli kaloihan barang ingkang sepadan. 

Menawi sampun sedo mongko wajib baliake marang ahli warisipun utawi keluarganipun. Menawi keluarganipunsampun sedoyo mongko kito wajib nguleki hakim utawi tiang alim supados mentasharupkan harta ingkang kito pendet utawi saget langsung ditashorupkan kangge kemaslahatan umat. Niku sedanten mboten cekap sebab pengapuro niku hak tiang ingkang dipun dholimi.  

Mongko solusinipun nalikane tiang ingkang kito dolimi sampun sedo dereg sempet nyuwun ngapuro utawi halalipun  mongko  

  1. memperbanyak amal sholih, sebab menowo nalikane amal kito dipun pendet dateng tiang ingkang kito dholmi setidaknya kito tasih gadah setok amal katah.
  2. nyuwunakaen ngapuro dateng tiang ingakng kito dholimi utawi tiang inhakng kito perbuat salah. اللهم اغفرلنا وله. اللهم اغفرلي ولوالدي ولاصحاب الحقوق الواجبات علي 

Dengan harapana kesalahan kito dipun ngapuro dening allah sebab nyuwunake nagpuro dateng tiang ingakng kito perbuat salah. 

Nikulah beratipun kesalahan ingkang sehubungan kalih menungso ateges hablum minannas. 

Menawi kesalahan ingkang hubunganipun kalih allah hablum minallah. Mongko cukup kalih taubat kanti taubatan nashuha inggih puniko taubat ingakng ngraoas getun dateng doso ingkang dipun lampai, ninggalaken doso ingkang dipun lampai lan azam mboten ngelampai dosa malih.  Ingsayaal dipun ngapuro dining allah swt. Disamaping niku allah membukak fashilatas pembersih dosa ingkang hubungani kalih allah. Kados poso romadhon, istigfar, sholat taubat lan sanesipun. 


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Tiga Golongan Manusia Setelah Ramadan: Siapakah Kita?

 


الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله.
اللهم صلِّ وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

Hadirin jemaah Jumat rahimakumullah,

Alhamdulillah, satu pekan sudah Ramadan meninggalkan kita. Satu pekan pula kita telah berhari raya di bulan Syawal ini. Para sahabat Rasulullah menangis ketika berpisah dengan Ramadan. Mereka khawatir amal-amal mereka tidak diterima oleh Allah. Karena memang, diterima atau tidaknya suatu amal adalah hak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah berfirman:

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Ma’idah: 27) Oleh karena itu, para ulama menyebutkan adanya alamatul qabul, yaitu tanda-tanda diterimanya amal.

Hadirin jemaah Jumat rahimakumullah,

Pada kesempatan khutbah ini, khatib menyampaikan tema: “Tiga Golongan Manusia Setelah Ramadan.” Yang pertama, golongan yang setelah Ramadan semakin rajin dan semakin taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di bulan Ramadan, mereka rajin salat berjamaah di masjid. Setelah Ramadan, mereka tetap menjaga salat berjamaah. Rasulullah bersabda:

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ أَوْ رَاحَ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُ فِي الْجَنَّةِ نُزُلًا كُلَّمَا غَدَا أَوْ رَاحَ

“Barang siapa pergi ke masjid di pagi atau sore hari, Allah sediakan baginya tempat di surga setiap kali ia pergi dan pulang.” (HR. Bukhari & Muslim)

Ketika di bulan Ramadan mereka rajin membaca Al-Qur’an, maka setelah Ramadan pun mereka tetap membacanya. Rasulullah bersabda:

اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

“Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi pembacanya.” (HR. Muslim)

Ketika di bulan Ramadan mereka rajin bersedekah, maka setelah Ramadan pun sedekah itu terus dilanjutkan. Rasulullah bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Bukhari & Muslim)

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Inilah yang disebut oleh para ulama sebagai alamatul qabul, tanda diterimanya amal, yaitu kebaikan yang berlanjut setelahnya. Sebagaimana firman Allah:

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ

“Apabila engkau telah selesai dari suatu urusan, maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain.” (QS. Al-Insyirah: 7)

Hadirin jemaah Jumat yang dirahmati oleh Allah,

Golongan pertama ini, ketika di bulan Ramadan rajin beribadah, maka setelah Ramadan pun ia melanjutkan ibadahnya. Inilah golongan pertama, yaitu golongan yang diterima amalnya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang terus meningkat keimanannya dan menjaga diri dari perbuatan yang diharamkan. Mudah-mudahan kita semua termasuk dalam golongan yang pertama ini.

Kemudian golongan yang kedua, yaitu orang yang sebelum Ramadan malas beribadah. Namun ketika Ramadan datang, ia menjadi rajin beribadah. Salat berjamaahnya pun di masjid, bahkan sebelum azan berkumandang ia sudah berada di dalam masjid. Ia membaca Al-Qur’an setiap hari, bersedekah dengan rutin, dan menjaga lisannya selama bulan Ramadan.

Akan tetapi, ketika Ramadan berlalu, ia meninggalkan semua itu. Ia kembali berpesta, kembali berpoya-poya. Ia merasa senang karena tidak lagi berlapar-lapar di siang hari, dan merasa senang karena tidak lagi bangun di waktu subuh untuk sahur. Dan na’udzubillah, tidak sedikit di antara golongan ini yang kembali bermaksiat kepada Allah, padahal masih dalam suasana Idul Fitri atau syawal.

Hadirin jemaah Jumat yang dirahmati oleh Allah,

Marilah kita senantiasa waspada terhadap godaan setan. Karena dalam sebuah riwayat dari sahabat Wahab bin Munabbih disebutkan bahwa Rasulullah pernah bersabda:

إِنَّ إِبْلِيْسَ عَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ يَصِيْحُ فِي كُلِّ يَوْمِ عِيْدٍ، فَيَجْتَمِعُ أَهْلُهُ عِنْدَهُ، فَيَقُوْلُوْنَ

يَا سَيِّدَنَا مَنْ أَغْضَبَكَ نَكْسِرْهُ؟ فَيَقُوْلُ:

 لاَ شَيْءَ، وَلَكِنَّ اللهَ قَدْ غَفَرَ لِهَذِهِ الأُمَّةِ فِي هَذَا الْيَوْمِ، فَعَلَيْكُمْ أَنْ تُشْغِلُوْهُمْ بِاللَّذَّاتِ

 وَالشَّهَوَاتِ وَشُرْبِ الْخَمْرِ حَتَّى يُبْغِضَهُمُ اللهُ

“Sesungguhnya Iblis yang terlaknat berteriak pada setiap hari raya. Lalu para pengikutnya berkumpul di sekelilingnya dan berkata: ‘Wahai pemimpin kami, siapa yang telah membuatmu marah, akan kami hancurkan dia.’

Maka Iblis menjawab: ‘Tidak ada. Akan tetapi Allah telah mengampuni umat Nabi Muhammad pada hari ini. Maka tugas kalian adalah menyibukkan mereka dengan kesenangan, hawa nafsu, dan hal-hal yang melalaikan, hingga akhirnya mereka kembali dimurkai oleh Allah.’”

Hadirin jemaah yang dirahmati Allah,

Oleh karena itu, marilah kita menjaga kesucian setalah bulan sawal ini dengan senantiasa ingat dan waspada, tidak terjerumus dalam hawa nafsu, dan tetap berada di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Golongan ini disebutkan oleh Nabi dalam hadis yang sahih:

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan haus.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah)

Kelompok ini adalah orang-orang yang tidak mendapatkan pahala dari puasanya, kecuali hanya rasa lapar dan dahaga saja. Na’udzubillahi min dzalik.

Hadirin jemaah Jumat rahimakumullah,

Jika Ramadan yang kita lewati tidak mampu menjadikan kita pribadi yang lebih baik, maka itulah tanda bahwa Ramadan kita hanya menghasilkan lapar dan haus saja.

Mudah-mudahan Allah menjauhkan kita dari golongan yang kedua ini.

Hadirin jemaah Jumat rahimakumullah, Golongan yang terakhir adalah orang yang sebelum Ramadan malas beribadah, ketika Ramadan datang tetap tidak beribadah, dan setelah Ramadan justru semakin jauh dari Allah. Golongan ini disebut oleh Nabi sebagai golongan yang celaka. Rasulullah bersabda:

رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ

“Sungguh celaka seseorang yang menjumpai Ramadan, kemudian Ramadan berlalu, namun ia tidak diampuni.” (HR. Tirmidzi)

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Ada orang seperti ini: di siang hari Ramadan ia makan dan minum tanpa rasa malu kepada Allah, tanpa menghormati orang yang berpuasa. Padahal ia seorang Muslim. Agamanya Islam, identitasnya Islam, bahkan ibadahnya pun secara Islam. Namun tidak ada rasa hormat terhadap Ramadan. Padahal ia bukan orang sakit, bukan musafir, dan tidak memiliki uzur syar’i. Namun kembali kita ingat, bahwa puasa adalah panggilan iman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا

“Wahai orang-orang yang beriman…” Karena imanlah seseorang mampu berpuasa.

Hadirin jemaah Jumat yang dirahmati oleh Allah, Marilah kita berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala: Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan yang pertama, yaitu golongan yang diterima amal ibadahnya. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, memperbaiki diri kita, dan mempertemukan kita kembali dengan Ramadan yang akan datang. Dan semoga Allah menjadikan akhir hayat kita dalam keadaan husnul khatimah.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكمفاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم

 


Rabu, 01 April 2026

Meraih Keluarga Sakinah: Antara Takdir Jodoh dan Ridha Orang Tua

 


Bimcanti Meraih Keluarga Sakinah: Antara Takdir Jodoh dan Ridha Orang Tua

Pada hari Rabu, tanggal 1 April 2026, Abdul Khanip selaku Penyuluh Agama Islam Kecamatan Tegowanu melaksanakan kegiatan Bimbingan Perkawinan (BIMCATIN) kepada calon pengantin, yaitu saudari Asna dan saudara Hilmi yang berasal dari Desa Curug. Kegiatan ini berlangsung dengan penuh khidmat dan suasana yang hangat, meskipun calon mempelai laki-laki tidak dapat hadir secara langsung karena sedang mendampingi orang tuanya yang sedang sakit di rumah sakit.

Dalam penyampaian materi, disampaikan bahwa jodoh merupakan bagian dari skenario Allah SWT yang telah ditetapkan sejak zaman azali. Jodoh, rezeki, kaya dan miskin, serta ajal merupakan ketentuan Allah yang tidak akan tertukar dan tidak akan pernah salah alamat. Sebagaimana firman Allah SWT:

وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ

"Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu." (QS. Adz-Dzariyat: 22)

Hal ini menegaskan bahwa setiap manusia telah memiliki ketetapan masing-masing, termasuk dalam hal pasangan hidup. Jodoh tidak akan lari ke mana, dan akan datang pada waktu yang tepat sesuai dengan kehendak Allah SWT.

Disampaikan pula kisah inspiratif dari calon mempelai perempuan yang telah menempuh pendidikan di pondok pesantren selama kurang lebih tujuh tahun tanpa sempat pulang ke rumah. Dalam perjalanan tersebut, ia menerima pilihan jodoh dari orang tuanya, dan hanya dipertemukan sebanyak tiga kali sebelum memasuki tahap pernikahan. Ini menunjukkan bahwa dalam Islam, restu orang tua memiliki peranan yang sangat penting dalam menentukan keberkahan rumah tangga.

Ketidakhadiran calon mempelai laki-laki dalam bimbingan ini bukan tanpa alasan, melainkan karena sedang berbakti kepada orang tuanya yang sedang sakit. Hal ini merupakan bentuk nyata dari pengamalan ajaran Islam tentang berbakti kepada orang tua, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

رِضَا اللَّهِ فِي رِضَا الْوَالِدَيْنِ وَسَخَطُ اللَّهِ فِي سَخَطِ الْوَالِدَيْنِ

"Ridha Allah tergantung pada ridha kedua orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka keduanya." (HR. Tirmidzi)

Selain itu, juga diingatkan bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu, sebagaimana dalam hadits:

الْجَنَّةُ تَحْتَ أَقْدَامِ الْأُمَّهَاتِ

"Surga berada di bawah telapak kaki ibu." (HR. Ahmad)

Pesan penting lainnya yang disampaikan adalah bahwa kebahagiaan dalam rumah tangga tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya harta. Harta memang dapat menjadi sarana untuk mencapai kesejahteraan, namun bukan jaminan kebahagiaan. Kebahagiaan sejati terletak pada keberkahan hidup, ketentraman hati, serta hubungan yang dilandasi iman dan takwa kepada Allah SWT.

Sebagaimana firman Allah SWT:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً

"Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik." (QS. An-Nahl: 97)

Di akhir bimbingan, disampaikan doa dan harapan agar kedua calon pengantin senantiasa diberikan kemudahan dalam menjalani kehidupan rumah tangga, serta memperoleh keberkahan, ketentraman, dan kebahagiaan yang hakiki dalam membangun keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah.

 

LAPORAN PELAKSANAAN BIMBINGAN CALON PENGANTIN (BIMCATIN)

LAPORAN PELAKSANAAN BIMBINGAN CALON PENGANTIN (BIMCATIN) Pada hari Selasa, 9 Juni 2026, telah dilaksanakan kegiatan Bimbingan Calon Penganti...