الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له.
Hadirin jemaah Jumat
rahimakumullah,
Alhamdulillah, satu pekan sudah Ramadan meninggalkan
kita. Satu pekan pula kita telah berhari raya di bulan Syawal ini. Para sahabat
Rasulullah menangis ketika berpisah dengan Ramadan. Mereka khawatir amal-amal
mereka tidak diterima oleh Allah. Karena memang, diterima atau tidaknya suatu
amal adalah hak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah berfirman:
إِنَّمَا
يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang
bertakwa.” (QS. Al-Ma’idah: 27) Oleh karena itu, para ulama menyebutkan
adanya alamatul qabul, yaitu tanda-tanda diterimanya amal.
Hadirin jemaah Jumat rahimakumullah,
Pada kesempatan khutbah ini, khatib menyampaikan tema: “Tiga Golongan
Manusia Setelah Ramadan.” Yang pertama, golongan yang setelah Ramadan
semakin rajin dan semakin taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di bulan
Ramadan, mereka rajin salat berjamaah di masjid. Setelah Ramadan, mereka tetap
menjaga salat berjamaah. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ
غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ أَوْ رَاحَ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُ فِي الْجَنَّةِ نُزُلًا
كُلَّمَا غَدَا أَوْ رَاحَ
“Barang siapa pergi ke masjid di pagi atau sore hari, Allah sediakan
baginya tempat di surga setiap kali ia pergi dan pulang.” (HR. Bukhari
& Muslim)
Ketika di bulan Ramadan mereka rajin membaca Al-Qur’an, maka setelah
Ramadan pun mereka tetap membacanya. Rasulullah ﷺ bersabda:
اقْرَؤُوا
الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ
“Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai
pemberi syafaat bagi pembacanya.” (HR. Muslim)
Ketika di bulan Ramadan mereka rajin bersedekah, maka setelah Ramadan pun
sedekah itu terus dilanjutkan. Rasulullah ﷺ bersabda:
أَحَبُّ
الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus meskipun
sedikit.” (HR. Bukhari & Muslim)
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Inilah yang disebut oleh para ulama sebagai alamatul qabul, tanda
diterimanya amal, yaitu kebaikan yang berlanjut setelahnya. Sebagaimana
firman Allah:
فَإِذَا
فَرَغْتَ فَانْصَبْ
“Apabila engkau telah selesai dari suatu urusan, maka kerjakanlah
dengan sungguh-sungguh urusan yang lain.” (QS. Al-Insyirah: 7)
Hadirin jemaah Jumat yang dirahmati oleh Allah,
Golongan pertama ini, ketika di bulan Ramadan rajin beribadah, maka
setelah Ramadan pun ia melanjutkan ibadahnya. Inilah golongan pertama, yaitu
golongan yang diterima amalnya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang terus
meningkat keimanannya dan menjaga diri dari perbuatan yang diharamkan. Mudah-mudahan
kita semua termasuk dalam golongan yang pertama ini.
Kemudian golongan yang kedua, yaitu orang yang sebelum
Ramadan malas beribadah. Namun ketika Ramadan datang, ia menjadi rajin
beribadah. Salat berjamaahnya pun di masjid, bahkan sebelum azan berkumandang
ia sudah berada di dalam masjid. Ia membaca Al-Qur’an setiap hari, bersedekah
dengan rutin, dan menjaga lisannya selama bulan Ramadan.
Akan tetapi, ketika Ramadan berlalu, ia meninggalkan semua itu. Ia
kembali berpesta, kembali berpoya-poya. Ia merasa senang karena tidak lagi
berlapar-lapar di siang hari, dan merasa senang karena tidak lagi bangun di
waktu subuh untuk sahur. Dan na’udzubillah, tidak sedikit di antara golongan
ini yang kembali bermaksiat kepada Allah, padahal masih dalam suasana Idul
Fitri atau syawal.
Hadirin jemaah Jumat yang dirahmati oleh Allah,
Marilah kita senantiasa waspada terhadap godaan setan. Karena dalam
sebuah riwayat dari sahabat Wahab bin Munabbih disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ
pernah bersabda:
إِنَّ إِبْلِيْسَ عَلَيْهِ لَعْنَةُ
اللهِ يَصِيْحُ فِي كُلِّ يَوْمِ عِيْدٍ، فَيَجْتَمِعُ أَهْلُهُ عِنْدَهُ،
فَيَقُوْلُوْنَ
: يَا سَيِّدَنَا
مَنْ أَغْضَبَكَ نَكْسِرْهُ؟ فَيَقُوْلُ:
لاَ شَيْءَ، وَلَكِنَّ اللهَ قَدْ
غَفَرَ لِهَذِهِ الأُمَّةِ فِي هَذَا الْيَوْمِ، فَعَلَيْكُمْ أَنْ تُشْغِلُوْهُمْ
بِاللَّذَّاتِ
وَالشَّهَوَاتِ وَشُرْبِ الْخَمْرِ حَتَّى
يُبْغِضَهُمُ اللهُ
“Sesungguhnya Iblis yang terlaknat berteriak pada setiap hari raya. Lalu
para pengikutnya berkumpul di sekelilingnya dan berkata: ‘Wahai pemimpin kami,
siapa yang telah membuatmu marah, akan kami hancurkan dia.’
Maka Iblis menjawab: ‘Tidak ada. Akan tetapi Allah telah mengampuni umat
Nabi Muhammad pada hari ini. Maka tugas kalian adalah menyibukkan mereka dengan
kesenangan, hawa nafsu, dan hal-hal yang melalaikan, hingga akhirnya mereka
kembali dimurkai oleh Allah.’”
Hadirin jemaah yang dirahmati Allah,
Oleh karena itu, marilah kita menjaga kesucian setalah bulan sawal ini
dengan senantiasa ingat dan waspada, tidak terjerumus dalam hawa nafsu, dan
tetap berada di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Golongan ini disebutkan oleh Nabi ﷺ dalam hadis yang sahih:
كَمْ
مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ
“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa
dari puasanya kecuali lapar dan haus.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah)
Kelompok ini adalah orang-orang yang tidak mendapatkan pahala dari
puasanya, kecuali hanya rasa lapar dan dahaga saja. Na’udzubillahi min dzalik.
Hadirin jemaah Jumat rahimakumullah,
Jika Ramadan yang kita lewati tidak mampu menjadikan kita pribadi yang
lebih baik, maka itulah tanda bahwa Ramadan kita hanya menghasilkan lapar dan
haus saja.
Mudah-mudahan Allah menjauhkan kita dari golongan yang kedua ini.
Hadirin jemaah Jumat rahimakumullah, Golongan yang
terakhir adalah orang yang sebelum Ramadan malas beribadah, ketika Ramadan
datang tetap tidak beribadah, dan setelah Ramadan justru semakin jauh dari
Allah. Golongan ini disebut oleh Nabi ﷺ sebagai golongan yang celaka. Rasulullah ﷺ
bersabda:
رَغِمَ
أَنْفُ عَبْدٍ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ
“Sungguh celaka seseorang yang menjumpai Ramadan, kemudian Ramadan
berlalu, namun ia tidak diampuni.” (HR. Tirmidzi)
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Ada orang seperti ini: di siang hari Ramadan ia makan dan minum tanpa
rasa malu kepada Allah, tanpa menghormati orang yang berpuasa. Padahal ia
seorang Muslim. Agamanya Islam, identitasnya Islam, bahkan ibadahnya pun secara
Islam. Namun tidak ada rasa hormat terhadap Ramadan. Padahal ia bukan orang
sakit, bukan musafir, dan tidak memiliki uzur syar’i. Namun kembali kita ingat,
bahwa puasa adalah panggilan iman:
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
“Wahai orang-orang yang beriman…” Karena imanlah seseorang mampu
berpuasa.
Hadirin jemaah Jumat yang dirahmati oleh Allah, Marilah
kita berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala: Semoga Allah memasukkan kita ke
dalam golongan yang pertama, yaitu golongan yang diterima amal ibadahnya. Semoga
Allah mengampuni dosa-dosa kita, memperbaiki diri kita, dan mempertemukan kita
kembali dengan Ramadan yang akan datang. Dan semoga Allah menjadikan akhir
hayat kita dalam keadaan husnul khatimah.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكمفاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم

Tidak ada komentar:
Posting Komentar