Jumat, 27 Februari 2026

Sebelum Napas Terhenti: Manfaatkan Kemuliaan Ramadan

 


لْحَمْدُ للهِ. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْاِنْسَانَ فِيْ أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْعَظِيْمِ الْكَرِيْمِ. وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كُنِّيَ بِأَبِي الْقَاسِمِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ. اَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ  

Pada hari ini adalah hari yang paling mulia di sisi Allah, sayyidul ayyām (penghulu segala hari), yaitu hari Jumat. Dan hari Jumat ini berada dalam bulan suci Ramadan, sehingga bertemulah dua kemuliaan: kemuliaan waktu dan kemuliaan bulan.Pada hari ini kita berada di tempat yang paling mulia, yaitu masjid. Manusia yang paling mulia adalah orang yang beriman. Dan saat ini termasuk waktu yang mustajab untuk berdoa. Perlu kita sadari bahwa saat ini napas masih keluar masuk, jantung masih berdetak, kaki masih bisa berjalan, tangan masih bisa bergerak, mata masih bisa berkedip. Semua itu adalah nikmat besar dari Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā yang wajib kita syukuri.

Jamaah sekalian…
Apakah semua ini akan kekal selamanya?

 وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

“Dan bagi setiap umat ada ajalnya. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya.”

Akan datang waktunya napas itu berhenti. Mata terbelalak ketika melihat ruh keluar dari jasad. Jantung berhenti berdetak, kaki tidak dapat berjalan lagi. Perkara yang paling ringan bukan lagi menggerakkan lidah, bahkan untuk memejamkan mata pun tidak mampu. Mata kita akan ditutupkan oleh orang lain. Anak, istri, menantu, teman, tetangga, dan sanak saudara menangis melihat tubuh kita terbujur kaku. Tidak ada perbedaan antara orang yang berkuasa dan orang kecil. Tidak ada perbedaan antara orang kaya dan orang miskin. Semua sama, terbujur tanpa daya.

Ketika hidup, kita bisa mandi sendiri. Ketika meninggal, kita dimandikan.
Ketika hidup, kita memakai pakaian sendiri. Ketika meninggal, kita dipakaikan.
Ketika hidup, kita berjalan sendiri. Ketika meninggal, kita dipikul di atas pundak tetangga dan teman.

Rumah besar yang dibangun dengan susah payah, pagi hingga sore, sore hingga malam, akhirnya berdiri megah. Namun tidak sejengkal pun dari rumah itu yang menjadi tempat tinggal terakhir kita. Hanya liang lahat yang kita tempati.

مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَىٰ

“Dari tanah Kami menciptakan kalian, ke dalamnya Kami mengembalikan kalian, dan darinya pula Kami akan mengeluarkan kalian sekali lagi.”

Dari tanah kembali ke tanah. Diantar beramai-ramai masuk ke liang kubur. Ada yang memegang kepala, ada yang memegang pinggang, ada yang memegang kaki. Tubuh dimasukkan perlahan, lalu tanah ditimbunkan. Bahkan tanah itu diinjak-injak agar padat.Istri, anak, kerabat, dan tetangga yang dahulu senang bersama kita, pada akhirnya hanya sampai di pemakaman. Tidak ada yang mau menemani walau sehari di dalam kubur.Anak, istri, tetangga, kendaraan, dan harta mengantar sampai ke pemakaman. Namun setelah jasad dimasukkan ke dalam kubur, istri kembali, anak pulang, kendaraan dan harta dibagi.

Di mana anak? Di mana teman? Di mana tetangga? Semua kembali ke rumah masing-masing.Hari pertama mereka menangis. Hari kedua masih menangis. Namun setelah itu mereka duduk bermusyawarah membagi warisan. Orang lain menikmati hasil jerih payah kita, keringat dan darah kita. Mereka tidak ikut mencari, tetapi ikut memiliki, bahkan terkadang saling berebut.

Bagaimana keadaan kita di dalam kubur? Tubuh membusuk, kulit membengkak, perut membesar, kuku terlepas, rambut rontok. Tidak ada yang mau melihat. Karena itu kubur ditinggikan agar bau tidak keluar, disiram agar tidak diganggu hewan. Tubuh yang dahulu dirawat, dibersihkan, dihias, dan dibanggakan, kini menjadi pemandangan yang mengerikan. Cacing tanah memakan daging, kulit, tulang, dan sumsum. Pada akhirnya hanya menjadi kenangan. Walaupun dahulu pernah kaya. Pernah menjadi penguasa. Pernah terkenal dan dihormati. Pada akhirnya hilang, ditelan bumi, menghadap Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.

Apa yang kekal? Semua akan sirna. Yang berkuasa mati. Yang kaya mati. Yang kuat mati. Apalagi orang yang lemah dan fakir. Tidak ada yang kekal kecuali iman dan amal saleh yang kita miliki.

مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ وَمَا عِندَ اللَّهِ بَاقٍ

“Apa yang ada di sisi kalian akan habis, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.”

Harta, jabatan, dan dunia akan sirna. Tetapi pahala dan amal yang diterima Allah itulah yang kekal.

Apa yang masih kita miliki?

Jika selama hidup kita pernah ikut membangun masjid, setiap orang yang shalat di dalamnya Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, Isya, tarawih, tahajud, witir—pahalanya terus mengalir tanpa putus. Jika kita mengajarkan Al-Qur’an, dan di bulan Ramadan ayat-ayat itu dibaca dan dikhatamkan, pahalanya menjadi cahaya di alam kubur. Jika kita memberi makan orang berbuka, menyantuni anak yatim, dan bersedekah di bulan Ramadan, itu akan menjadi penolong ketika kita sendirian.

Ramadan adalah kesempatan sebelum kesempatan itu habis, sebelum kita ditinggalkan Ramadan tanpa keberkahan. Jangan sampai Ramadan meninggalkan kita tanpa bekas taubat, tanpa sedekah, tanpa tilawah, dan tanpa air mata di sepertiga malam.

Semoga Ramadan ini menjadi saksi bahwa kita telah kembali kepada Allah dengan taubat yang sungguh-sungguh. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan dipertemukan kembali dengan Ramadan dalam keadaan yang lebih baik, atau diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah. Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ

Senin, 23 Februari 2026

Khutbah Idul Fitri “Allahu Akbar: Antara Bakti kepada Orang Tua dan Bekal Menuju Akhirat”



 اَللهُ اَكْبَرْ (×9)

اَلْحَمْدُ ِللهِ المبدء المعيد الفعال لما يريد الذي خلق الانسان فمنهم شقي وسعيد  وَاَشْهَدُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ الوفي الوعيد وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ المبعوث بدين التوحيد. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا  وعلى اله وصجبه علي التابيد اما بعد اِتَّقُوا اللهَ حقاتقاته وَاعْلَمُوْا اَنَّ هَذَا يَوْمُ عِيْدٍ

Pada pagi hari ini seluruh umat Islam di dunia mengumandangkan takbir Allahu Akbar. Kita telah menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Namun janganlah kita mengira bahwa karena puasa kita, lalu kita dapat dengan mudah masuk ke surga Allah.

Puasa yang kita lakukan belumlah sebanding dengan nikmat hembusan napas, detak jantung, dan aliran darah yang Allah berikan kepada kita setiap saat. Puasa kita juga tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rezeki berupa makan, minum, tidur, dan bangun yang setiap hari kita rasakan. Terlebih lagi jika dibandingkan dengan kenikmatan surga Allah.

Maka bagi orang-orang yang beriman, setelah selesai menjalankan ibadah puasa, sudah sepantasnya kita mengucapkan Allahu Akbar — sungguh Maha Besar kekuasaan dan kasih sayang-Mu ya Allah.

Terkadang terlintas dalam hati kita bahwa sedekah yang kita berikan, termasuk memberi hidangan berbuka puasa, juga tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan nikmat besar Allah yang dititipkan melalui ibu kita.

Yaitu rezeki kehidupan sejak berada dalam kandungan seorang ibu selama sembilan bulan, hingga kita dilahirkan dari rahimnya ke dunia. Kemudian kita disusui selama kurang lebih dua tahun. Semua itu tidak lain adalah kasih sayang Allah yang begitu besar, yang tidak dapat dibandingkan dengan sedekah apa pun yang kita lakukan.

Maka sudah sepantasnya kita mengucapkan Allahu Akbar — sungguh Maha Besar kekuasaan dan kasih sayang-Mu ya Allah.

Pagi ini mari kita bayangkan, seandainya ibu dan bapak kita masih hidup. Tentu setelah pulang dari shalat Id, kita masih bisa mencium tangan mereka, memeluk tubuhnya yang mungkin telah rapuh dimakan usia.

Kulit bapak yang menghitam dan melepuh karena terik matahari demi mengayuh rezeki untuk sesuap nasi dan biaya sekolah kita, hingga kita menjadi manusia yang mulia dan dihormati — hari ini masih bisa kita rangkul dengan penuh cinta.

Betapa besar jasa dan pengorbanan mereka yang sering kali tidak mampu kita balas dengan apa pun. Namun malang tidak dapat ditolak dan untung tidak dapat diraih. Bapak dan Ibu yang seharusnya kita datangi setelah shalat Id, yang seharusnya kita peluk dan kita cium tangannya, hari ini sudah tidak lagi berada di tengah-tengah kita.

Kini yang tersisa hanyalah doa, kenangan, dan penyesalan karena belum sempat membalas semua cinta serta pengorbanan mereka. Semoga Allah melapangkan kuburnya, mengampuni dosa-dosanya, dan menempatkan mereka di tempat terbaik di sisi-Nya.

Senyum dan kasih sayangnya masih terbayang di pelupuk mata, namun beliau sudah tidak lagi berada di tengah-tengah kita. Kini mereka telah berpindah ke alam kubur. Kita hanya bisa berdiri di sisi makamnya sambil mengucapkan:

السلام عليكم يا أهل الديار من المؤمنين

“Semoga keselamatan tercurah atas kalian, wahai penghuni negeri (kubur) dari golongan orang-orang beriman.”

وإنا إن شاء الله بكم لاحقون

“Dan sesungguhnya kami, insyaAllah, akan menyusul kalian.”

نسأل الله لنا ولكم العافية

“Kami memohon kepada Allah keselamatan dan kebaikan untuk kami dan untuk kalian.”

Kita hanya mampu memanjatkan doa, semoga kita yang masih hidup dan mereka yang telah lebih dahulu berpulang sama-sama memperoleh kebaikan, rahmat, dan ampunan dari Allah Swt.

Tidak ada yang dapat kita kirimkan kepada mereka selain untaian doa. Tidak ada kata-kata yang dapat kita ucapkan selain:

اللهم اجعل قبرهما روضة من رياض الجنان ولا تجعل قبرهما حفرة من حفر النيران

“Ya Allah, jadikanlah makam kedua orang tua kami sebagai salah satu taman dari taman-taman surga-Mu, dan jangan Engkau jadikan makam mereka sebagai salah satu lubang dari lubang-lubang neraka.”

Lalu apa yang mampu kita lakukan untuk membalas kebaikan Ibu dan Bapak kita? Seandainya kita menggendong mereka dari halaman rumah hingga ke Kota Suci Makkah, kemudian kita thawaf tujuh kali putaran, itu pun belum mampu menebus satu teriakan dan satu hembusan napas ketika ibu melahirkan kita. Ia mempertaruhkan nyawanya saat melahirkan kita, mengantarkan kita dari alam rahim menuju alam dunia.

Begitu besar pengorbanan mereka, hingga sejatinya kita hanya bisa membalas dengan doa, bakti, dan memohonkan ampunan untuk keduanya. Semoga Allah membalas segala kebaikan mereka dengan pahala yang berlipat ganda dan menempatkan mereka di tempat terbaik di sisi-Nya.

Berapa kali ibu kita terbangun di tengah malam karena tangisan kita?

Berapa kali beliau mengganti pakaian karena air kencing kita?

Berapa kali ibu kita harus keluar dari keramaian karena kita menangis?

Berapa kali beliau meninggalkan atau menunda puasa, mengqadha puasanya karena mengandung dan menyusui kita?

Dan berapa kali pula Ibu dan Bapak kita menahan lapar dan haus, menahan keinginan dan kepayahan, demi mengalah untuk kita?

Semua itu tidak dapat dihitung dengan jari-jari kita. Semua itu adalah bukti pengorbanan yang begitu besar untuk kita semua.

Lalu apa yang dapat kita balas di hari yang penuh kebahagiaan ini?

Seandainya harta kita melimpah ruah, itu pun tidak akan mampu menebus kasih sayang yang telah mereka berikan kepada kita. Kita hanya mampu memanjatkan doa:

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, serta sayangilah mereka sebagaimana mereka telah menyayangiku dan mendidikku ketika aku masih kecil.”

Semoga Allah menerima doa-doa kita, mengampuni dosa kedua orang tua kita, melimpahkan rahmat-Nya kepada mereka, dan menjadikan kita anak-anak yang berbakti meskipun mereka telah tiada.

Apabila doa pun terasa tak mampu kita ucapkan, lalu apa lagi yang bisa kita katakan di hadapan Allah? Apa yang dapat kita persembahkan?

Sekalipun kita berdiri di samping kubur ibu kita, menangis hingga air mata seakan menjadi darah, itu pun tidak akan mampu menebus kesedihan dan kehilangan kita. Bibir ini hanya mampu berucap, Allahu Akbar — sungguh Maha Besar kasih sayang-Mu ya Allah.

Maka selagi kita masih memiliki orang tua pada hari Id ini, sepantasnya kita bersimpuh di hadapan Ibu dan Bapak kita. Mencium tangan mereka, memohon maaf, dan berbakti sepenuh hati. Karena boleh jadi Idulfitri ini adalah yang terakhir bagi kita atau bagi mereka.

Allahu Akbar…

Jamaah Shalat Idulfitri rahimakumullah,

Selama satu bulan kita menahan makan dan minum. Kita menahan lapar dan dahaga hanya sampai terdengar azan Magrib. Lapar yang melilit perut ada batasnya, haus yang mengeringkan kerongkongan pun ada ujungnya.

Namun saudara-saudara kita yang fakir, miskin, dan hidup dalam kesusahan, merasakan lapar dan haus tanpa batas. Hari ini lapar, esok pun masih lapar.

غْنُوْهُمْ عَنِ الْمَسْأَلَةِ فِي مِثْلِ هَذَا الْيَوْمِ

“Cukupilah kebutuhan mereka agar tidak meminta-minta pada hari seperti ini.”

Maka cukupkanlah kebutuhan fakir miskin pada hari raya ini. Jangan sampai di hari Id yang penuh kebahagiaan ini mereka justru dalam keadaan lapar dan harus mengemis meminta-minta.

Sungguh bisa jadi dosa besar bagi kita apabila membiarkan mereka pada hari raya tanpa merasakan kegembiraan. Jangan sampai di saat kita mengenakan pakaian baru, bersuka cita dengan hidangan dan jajanan, justru ada saudara kita yang berjalan dengan pakaian lusuh, tanpa sandal, menadahkan tangan memohon belas kasihan.

Allahu Akbar…

Jamaah Shalat Idulfitri rahimakumullah,

Mari kita merenung sejenak. Banyak orang yang mempersiapkan diri untuk menyambut datangnya Idulfitri: mudik ke kampung halaman, berbelanja ke pasar, membawa bekal dan oleh-oleh sebanyak-banyaknya. Seakan-akan bekerja setahun penuh hanya untuk merayakan Idulfitri yang berlangsung satu hari saja.

Namun hanya sedikit orang yang benar-benar mempersiapkan bekal untuk perjalanan yang sangat panjang, perjalanan yang tidak bisa dipastikan kapan waktunya dan tidak ada kepastian untuk kembali. Itulah kematian.

Tidak ada jaminan bahwa kita akan bertemu Ramadan tahun depan. Bahkan bisa jadi Ramadan yang baru saja kita lalui adalah Ramadan terakhir bagi kita. Sehat, harta, pangkat, kedudukan, bahkan anak-anak kita, semuanya tidak dapat menjamin bahwa kita akan kembali berjumpa dengan bulan Ramadan yang akan datang.

Perlu kita sadari, ketika jasad kita telah terbujur di atas keranda dan diusung menuju pemakaman, maka tidak ada lagi artinya harta yang selama ini kita miliki.

ما أكلت فأفنيت

Harta yang kita makan akan habis dan musnah.

وما لبست فأبليت

Pakaian dan perhiasan yang kita kenakan akan usang dan lapuk.

وما تصدقت فأمضيت

Dan harta yang kita sedekahkan, itulah yang akan kita bawa menghadap Allah.

Hari ini kita masih bisa membanggakan sawah, ladang, harta benda, pangkat, kedudukan, anak dan cucu. Tetapi ketika tiba waktunya:

يوم لا ينفع مال ولا بنون

“Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi bermanfaat sedikit pun.”

Seindah-indahnya pakaian yang kita miliki dan kita kenakan hari ini, pakaian terakhir yang akan kita pakai hanyalah kain kafan—tidak dijahit, hanya disobek dan diikat sederhana.

Sebagus-bagusnya kendaraan yang kita miliki dan kita tumpangi sekarang, kendaraan terakhir yang akan kita naiki adalah keranda. Rumah dan tanah yang kita dambakan hari ini, tempat terakhir kita adalah kuburan berukuran kurang lebih 2 x 1 meter, yang akan kita tempati untuk waktu yang sangat lama.

Setinggi-tingginya pangkat dan kedudukan kita, gelar terakhir kita hanyalah “almarhum” atau “mayit”.

Istri, anak, kerabat, saudara, dan tetangga yang mencintai serta menemani kita, pada akhirnya hanya akan mengantar sampai ke liang lahat. Mereka tidak mampu menemani kita sehari pun di dalam kubur. Setelah jasad dimasukkan ke dalam kubur, istri yang kita cintai pulang, anak-anak yang kita banggakan kembali, kendaraan dan harta dibagi-bagi.

Lalu apa yang masih kita miliki?

Hanyalah puasa kita, tarawih kita, tadarus kita, zakat kita, dan seluruh amal saleh yang akan setia menemani kita hingga hari kiamat. Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah kita dan menjadikannya cahaya di alam kubur serta pemberat timbangan kebaikan kita kelak.

Maka hendaknya amal ibadah kita setelah Ramadan tetap sebagaimana ketika Ramadan. Anggaplah Ramadan yang baru saja kita tinggalkan adalah Ramadan terakhir bagi kita, sehingga kita terus menjaga semangat ibadah, ketaatan, dan ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari.

Demikian khutbah yang dapat saya sampaikan. Semoga kita semua tergolong hamba-hamba yang pandai bersyukur kepada Allah, dengan bukti mampu bersimpuh dan berbakti di hadapan Ibu dan Bapak, mampu mengasihi saudara di sekitar kita, serta peduli kepada sesama.

Semoga kita semua menjadi orang-orang yang selalu ingat dan waspada terhadap datangnya kematian — kapan waktunya, di mana tempatnya, dan apakah kita sudah siap atau belum. Dan yang paling penting, semoga Allah menganugerahkan kepada kita akhir kehidupan yang baik, husnul khatimah. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

 

 

Kamis, 19 Februari 2026

Khutbah Idul fitri “Aamiin dari Langit: Jangan Sia-siakan Ridha Orang Tua di Hari Raya”

 

اَللهُ اَكْبَرْ (×9)

اَلْحَمْدُ ِللهِ المبدء المعيد الفعال لما يريد الذي خلق الانسان فمنهم شقي وسعيد  وَاَشْهَدُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ الوفي الوعيد وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ المبعوث بدين التوحيد. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا  وعلى اله وصجبه علي التابيد اما بعد اِتَّقُوا اللهَ حقاتقاته وَاعْلَمُوْا اَنَّ هَذَا يَوْمُ عِيْدٍ 


Allahu Akbar…

Jamaah Shalat Idul Fitri rahimakumullah,

Suatu ketika Rasulullah pada tanggal 1 Syawal seperti hari ini, naik ke mimbar untuk menyampaikan khutbah Idul Fitri. Ketika beliau menaiki mimbar, beliau melangkah tiga anak tangga.

Saat naik ke tangga pertama, Nabi mengucapkan, “Aamiin.”

Saat naik ke tangga kedua, beliau kembali mengucapkan, “Aamiin.”

Dan ketika naik ke tangga ketiga, beliau mengucapkan lagi, “Aamiin.”

Setelah khutbah selesai, para sahabat bertanya,

“Wahai Rasulullah, tadi kami mendengar engkau mengucapkan ‘Aamiin’ sampai tiga kali, dan itu tidak seperti biasanya. Ada apakah gerangan?”

Lalu Rasulullah menjelaskan bahwa saat itu Malaikat Jibril datang dan membisikkan doa kepada beliau, berdoa kepada Allah terkait keadaan umat beliau di bulan Ramadhan, dan Rasulullah pun mengaminkannya.

Allahu Akbar…

Jamaah Shalat Idul Fitri rahimakumullah,

Bayangkan… Malaikat Jibril, semulia-mulianya malaikat, pemimpin para malaikat, berdoa. Lalu doa itu diaminkan oleh pemimpin seluruh nabi dan rasul, manusia termulia, junjungan kita Nabi Muhammad .

Apa doa Malaikat Jibril tersebut?

“Ya Allah, jangan Engkau terima shalat, zakat, dan puasa orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya.”

Saudara-saudaraku,

Walaupun puasa kita baik, tahajud kita setiap malam, tadarus kita dua atau tiga kali khatam, sedekah kita tidak terhitung jumlahnya  tetapi jika kita masih meneteskan air mata orang tua kita, menyakiti hati mereka, mengecewakan mereka maka demi Allah, puasa kita bisa tidak ada gunanya. Shalat kita, tahajud kita, sedekah kita, bisa jadi tidak sampai di hadapan Allah.

Rasulullah pernah ditanya oleh para sahabat, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan seseorang yang baik agamanya, bagus ibadahnya, tetapi ia membuat kedua orang tuanya menangis dan kecewa?”

Apa jawab Nabi?

Anak itu jangankan masuk surga, mencium bau surga pun tidak akan mampu.

Maka bersyukurlah jika kedua orang tua kita masih hidup, walaupun dalam keadaan sakit. Jika kita diberi kesempatan merawat mereka bertahun-tahun, ketahuilah bahwa itu adalah kemuliaan yang tidak semua anak mendapatkannya.

Karena setiap kali kita merawat ayah dan ibu kita dengan ikhlas, sesungguhnya Allah tersenyum kepada kita. Tidak semua anak diberi kesempatan untuk berbakti dan merawat orang tuanya.

Maka muliakanlah ayah dan ibu kita. Lembutkanlah ucapan kita kepada mereka. Berikan yang terbaik dari harta dan perhatian kita. Karena apa pun yang kita miliki hari ini adalah buah dari jasa, doa, dan pengorbanan mereka.

Berapa kali ibu kita kelelahan, terbangun di tengah malam karena tangisan kita?

Berapa kali beliau mengganti pakaian karena air kencing kita?

Berapa kali beliau harus keluar dari keramaian karena kita menangis?

Berapa kali ibu kita meninggalkan puasa, tidak menyempurnakan puasanya karena sedang mengandung dan menyusui kita?

Dan berapa kali pula ayah dan ibu kita menahan lapar, menahan lelah, menahan keinginan, demi mengalah untuk kita?

Semua itu tidak bisa dihitung dengan jari-jari kita. Semua itu adalah bukti pengorbanan yang luar biasa untuk kita.

Lalu apa yang bisa kita balas di hari bahagia ini?

Seandainya kita memiliki harta yang melimpah, itu pun tidak akan mampu menebus kasih sayang yang telah mereka berikan. Yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa:

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan dosa kedua orang tuaku, dan sayangilah mereka sebagaimana mereka telah merawat dan mendidikku ketika aku masih kecil.”

Diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab pernah bertanya kepada Rasulullah,
“Ya Rasulullah, aku mungkin tidak bisa melihat wajah Allah di dunia ini. Tetapi aku ingin tahu, bagaimana tanda Allah tersenyum ridha kepadaku?”

Maka Nabi menjawab,

“Buatlah kedua orang tuamu tersenyum, niscaya Allah akan tersenyum kepadamu.”

Maka di hari Lebaran ini, mari kita buat ayah dan ibu kita tersenyum bahagia dan ridha kepada kita. Jika mereka ridha, Allah pun akan ridha kepada kita.

Tidak ada gunanya kita beramai-ramai pergi ke tempat hiburan jika kita belum berkunjung ke rumah orang tua kita. Datangilah mereka. Cium tangan dan kaki mereka. Jangan lepaskan sampai mereka berkata,

“Sudah Nak… Bapak, Ibu maafkan… lahir dan batin.”

Kemuliaan orang tua itu luar biasa. Bahkan sebelum kita meminta maaf pun, sering kali mereka sudah berkata,

“Nak, tidak ada salah apa-apa… kalaupun ada, sudah Ibu maafkan.”

Di luar sana banyak orang yang ingin pulang, ingin mudik, ingin mencium tangan ibu bapaknya yang mulai keriput, ingin memeluk tubuh mereka yang mulai rapuh. Tetapi tidak mampu pulang karena keterbatasan biaya atau keadaan.

Maka kita yang masih memiliki orang tua di dekat kita, jangan sia-siakan kesempatan ini. Datangilah mereka. Buat mereka tersenyum dan ridha kepada kita. Insya Allah, Allah pun akan tersenyum dan ridha kepada kita.

Jika kita ingin menyumbang pembangunan masjid, kita bisa transfer.

Jika ingin membantu fakir miskin, bisa lewat jasa pengiriman.

Tetapi jika ingin memuliakan orang tua, datanglah langsung. Sentuhkan tangan kita pada tangan mereka. Peluk mereka.

Karena sesungguhnya, yang mereka butuhkan bukanlah harta yang banyak. Mereka hanya ingin melihat anak dan cucunya bahagia di hari yang fitri ini.

Allahu Akbar… jamaah Sholat Idul Fitri rahimakumullah,

Dalam salah satu riwayat disebutkan bahwa Malaikat Jibril berdoa dan diaminkan oleh Nabi, di antaranya: celakalah seorang istri yang durhaka kepada suaminya. Mengapa istri yang durhaka kepada suami ditekankan? Karena dalam rumah tangga, suami memikul tanggung jawab besar, bukan hanya di dunia tetapi juga di akhirat.

Suami adalah pemimpin dalam keluarganya. Rasulullah bersabda bahwa setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang suami bertanggung jawab atas istri dan anak-anaknya. Jika istri tidak shalat, tidak berpuasa, lalai dalam kewajiban agama, maka di akhirat kelak suamilah yang akan ditanya: “Di mana tanggung jawabmu? Mengapa keluargamu tidak engkau jaga dari api neraka?” Sebagaimana firman Allah:

“Quu anfusakum wa ahlikum naara”

“Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Tanggung jawab suami bukan hanya di akhirat, tetapi juga di dunia. Coba kita bayangkan, ketika pulang kampung saat Lebaran, jika istri tidak memiliki pakaian yang layak, anak-anak tidak bisa mengenakan pakaian baru, siapa yang merasa malu dan memikul beban itu? Suami.

Berapa banyak suami yang berani berutang ke sana kemari demi agar anak dan istrinya bisa berlebaran dengan bahagia.

Berapa kali suami tidak tidur di tengah malam, memikirkan biaya pendidikan anak agar bisa ikut ujian.
Berapa kali ia memikirkan belanja dapur agar esok hari ada makanan yang bisa dihidangkan untuk keluarga.

Berapa kali suami memeras keringat, membanting tulang; panas matahari tidak ia hiraukan, dingin malam tidak ia pedulikan.

Berapa kali ia menahan rasa sakit dan lelah, tidak membangunkan istri karena tidak ingin mengganggu istirahatnya.

Berapa kali ia menyembunyikan keluh kesah dan penderitaan, karena tidak ingin istrinya ikut merasakan beban berat yang ia tanggung.

Maka ketika seorang istri meremehkan suaminya, membentaknya, membuka aibnya, merendahkan harga dirinya, sungguh itu perbuatan yang sangat berat. Jika ada ketidaksenangan, carilah jalan terbaik. Bicarakan dengan baik. Jaga kehormatan pasangan. Jangan sampai kemarahan menurunkan martabat diri sendiri.

Di hari raya ini, wahai para istri, datangilah suamimu. Cium tangannya yang mungkin kasar karena bekerja siang malam mencari rezeki. Peluk tubuhnya yang mungkin legam oleh terik matahari, yang melepuh demi biaya sekolah anak-anakmu agar kelak menjadi manusia yang mulia dan dihormati.

Dan sebaliknya, wahai para suami, jadilah suami yang baik. Jadilah teladan. Bagaimana mungkin anak dan istri kita menjadi baik jika kita sendiri tidak memberi contoh yang baik? Kepemimpinan bukan hanya tentang perintah, tetapi tentang keteladanan, kelembutan, dan tanggung jawab.

Allahu Akbar… jamaah Sholat Idul Fitri rahimakumullah,

Ya Allah, jangan Engkau terima shalat, zakat, dan puasa orang yang tidak mau memaafkan sesamanya.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Ketika tangan kita terluka karena pisau, lambat laun pasti akan sembuh. Namun ketika lisan ini melukai hati saudara kita hingga hatinya mati, luka itu sulit diobati. Luka fisik bisa kering, tetapi luka batin bisa dibawa sampai mati.

Ketika kuku kita panjang, yang dipotong adalah kukunya, bukan jarinya. Demikian pula ketika kita memiliki masalah dengan saudara kita, yang dibuang adalah masalahnya, bukan saudaranya. Jangan sampai perkara warisan, perkara batas tanah, atau persoalan dunia merusak tali silaturahmi di antara kita.

Memang memaafkan itu lebih berat daripada meminta maaf. Namun memaafkan itu lebih mulia daripada meminta maaf, karena kedudukannya berada di atas orang yang meminta maaf. Orang yang memaafkan adalah orang yang lapang dadanya dan tinggi derajatnya di sisi Allah.

Selama bulan Ramadhan, kita memperbaiki hubungan kita dengan Allah. Itulah hubungan ḥablum minallāh.an di bulan Syawal, di hari Idul Fitri ini, kita memperbaiki hubungan kita dengan sesama manusia, ḥablum minannās. Itulah makna silaturahmi dan halal bihalal.

Sengaja ataupun tidak, besar ataupun kecil, pasti kita punya salah. Jika tidak kepada Allah, pasti kepada sesama manusia. Para ulama sufi mengajarkan: tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus-menerus, dan tidak ada dosa besar jika disertai dengan istighfar dan taubat.

Sekecil apa pun dosa, jika ditumpuk terus-menerus akan menjadi gunung. Sebesar apa pun dosa, jika digempur dengan istighfar dan taubat, akan hancur dan lebur.

Maka inilah momen terbaik untuk saling meminta maaf.

Jangan merasa gengsi karena lebih tua.

Jangan merasa malu karena lebih muda.

Tidak harus yang muda selalu mendatangi yang tua. Tidak salah pula yang tua memulai meminta maaf kepada yang muda. Karena yang kita cari bukan harga diri, tetapi ridha Allah dan bersihnya hati.

Maka sepulang dari sholat Id ini, ciumlah tangan orang tua kita, suami atau istri kita, saudara-saudara kita. Jangan lepaskan sebelum mereka berkata,

“Sudah, Nak… sudah Ibu maafkan.”

“Sudah, Bu… sudah saya maafkan.”

“Sudah, Dik… aku maafkan.”

Karena kita tidak pernah tahu, apakah kita masih bisa merasakan Ramadhan dan Lebaran tahun depan. Bisa jadi inilah Ramadhan terakhir kita. Bisa jadi inilah Idul Fitri terakhir kita.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mau meminta maaf dan mau memaafkan.
Hati kita bersih, dosa kita diampuni, dan silaturahmi kita kembali terjalin.

 

Makna Hadis: Benarkah Setan Dibelenggu di Bulan Ramadhan?


Pak, bagaimana maksud hadis yang menyatakan bahwa ketika masuk bulan Ramadhan setan-setan itu dibelenggu?”

Untuk memahami hadis tersebut, kita perlu memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan setan.

Banyak orang membayangkan setan seperti dalam film horor: sosok menyeramkan atau makhluk gaib tertentu. Padahal kata gaib artinya sesuatu yang samar. Karena kesamarannya itu, para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan hakikat setan. Ada yang menjelaskan bahwa setan bisa dari golongan jin dan bisa pula dari manusia, sebagaimana dalam Al-Qur’an disebutkan “minal jinnati wan naas.”

Namun, menurut Imam Ghazali, yang terpenting bukanlah membahas bentuk setan itu seperti apa. Itu bukan inti persoalan. Beliau mengibaratkan seperti seseorang yang bajunya kemasukan ular. Kalau ia malah sibuk bertanya, “Ini ular jenis apa? Panjangnya berapa?” maka ia bisa keburu celaka. Yang terpenting adalah bagaimana cara mengeluarkannya.

Demikian pula dengan setan. Yang penting adalah memahami cara kerjanya.
Imam Ghazali menjelaskan bahwa tugas setan adalah menjauhkan manusia dari ketaatan kepada Allah. Senjata setan adalah hawa nafsu dan syahwat. Bahkan dalam sebuah hadis disebutkan bahwa setan mengalir dalam diri manusia seperti aliran darah.

Lalu bagaimana cara melemahkannya?
Caranya adalah dengan lapar.
Karena ketika manusia lapar, syahwatnya melemah, hawa nafsunya melemah. Ketika nafsu melemah, maka setan kehilangan senjatanya.

Nah, kembali kepada hadis tadi:
Ketika masuk bulan Ramadhan, setan-setan dibelenggu. Maksudnya bukan semata-mata secara fisik dirantai seperti dalam gambaran harfiah, tetapi maknanya adalah bahwa ketika seorang hamba benar-benar menjalankan puasa sesuai syariat dan adab-adabnya, tidak memperturutkan hawa nafsu, menjaga lisan, menjaga pandangan, menjaga hati — maka setan menjadi lemah.

Karena senjatanya dilemahkan.

Jika hawa nafsu tidak diberi ruang, maka setan seperti terbelenggu. Ia tidak punya kekuatan untuk menggoda sebagaimana di bulan-bulan lainnya.
Namun sayangnya, sebagian orang hanya menahan makan dan minum di siang hari. Ketika berbuka, seluruh nafsu justru dilampiaskan. Berlebihan dalam makan, berlebihan dalam belanja, bahkan pengeluaran Ramadhan lebih besar daripada bulan biasa. Dalam kondisi seperti ini, hawa nafsu tetap kuat. Jika nafsu kuat, maka setan pun kembali kuat.

Jadi makna “setan dibelenggu” itu terkait erat dengan kualitas puasa kita.
Jika puasa dijalankan dengan benar, setan lemah.
Jika puasa hanya formalitas, setan tetap memiliki jalan.

Maka Ramadhan sejatinya adalah momentum melemahkan hawa nafsu agar setan kehilangan kekuatannya.

Wallahu a‘lam.
Copas Gus Haris Muhyidin.

Puasa dan Kemenangan Akal atas Nafsu

         


        Puasa tidak hanya diwajibkan kepada umat Nabi Muhammad
semata, tetapi juga telah diwajibkan kepada umat-umat terdahulu sebelum beliau. Sejak dahulu, ibadah puasa sudah menjadi jalan pembinaan ruhani bagi para hamba Allah, sebagai sarana mendidik jiwa dan menumbuhkan ketakwaan.

Sebagaimana telah difirmankan oleh Allah dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu menjadi orang-orang yang bertakwa.”

Sungguh merupakan predikat yang sangat luar biasa apabila seseorang dapat menjadi manusia yang bertakwa.

Lalu mengapa puasa dapat menjadikan manusia sebagai orang yang bertakwa?

Seseorang disebut sebagai muttaqin ketika akalnya mampu mengalahkan hawa nafsunya. Di dalam diri manusia terdapat proses pergulatan, yakni “perang” antara akal dan nafsu. Ketika akal mampu mengendalikan, menundukkan, dan memenangkan pertarungan melawan nafsu itulah tanda ketakwaan mulai tumbuh.

Namun, seseorang belum dapat disebut sebagai muttaqin hanya karena ia melaksanakan semua perintah dan meninggalkan semua larangan, jika dalam dirinya tidak pernah terjadi proses perjuangan antara akal dan nafsu. Ketakwaan bukan sekadar menjalankan aturan secara lahiriah, tetapi ada proses batin: ada dorongan nafsu yang ingin menyimpang, lalu akal dan iman menahannya karena Allah.

Puasa menghadirkan proses itu secara nyata. Saat lapar dan dahaga, nafsu ingin makan dan minum, tetapi akal dan iman menahannya karena perintah Allah. Di situlah latihan ketakwaan terjadi  ketika akal, dengan cahaya iman, mampu menguasai nafsu.

Di sini kita dapat memperhatikan makhluk Allah yang disebut malaikat. Seluruh malaikat Allah, tanpa terkecuali, tidak pernah melanggar perintah maupun larangan-Nya. Mereka selalu patuh dan tunduk terhadap apa pun yang diperintahkan dan apa pun yang dilarang oleh Allah.

Namun demikian, malaikat tidak memperoleh derajat muttaqin. Mengapa? Karena malaikat diciptakan dengan akal tetapi tanpa hawa nafsu. Sehingga ketika mereka menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah, tidak ada proses pergulatan atau “perang” antara akal dan nafsu di dalam diri mereka.

Berbeda dengan manusia. Manusia memiliki akal sekaligus nafsu. Maka ketika manusia mampu menundukkan nafsunya dengan akalnya karena Allah, di situlah letak kemuliaannya. Di situlah nilai perjuangan dan derajat ketakwaan itu lahir.

Berbeda dengan manusia dan jin. Ketika keduanya melakukan kebaikan, di dalam dirinya terjadi proses pergulatan antara akal dan hawa nafsu. Akal mendorong untuk berbuat baik, sedangkan nafsu berusaha menghalangi agar tidak melakukannya.

Hal ini dapat kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, setelah kita pulang dari masjid, muncul keinginan untuk bersedekah. Hati terasa tersentuh, iman bergetar, dan akal mengajak untuk berbagi. Namun pada saat yang sama, muncul pula berbagai alasan: takut uang berkurang, masih ada kebutuhan lain, atau menunda hingga waktu yang tidak pasti. Itulah suara nafsu yang mencoba menghalangi kebaikan.

Di sinilah terjadi “peperangan” batin. Jika akal yang diterangi iman mampu mengalahkan dorongan nafsu, lalu kita benar-benar bersedekah, maka saat itulah kita sedang melangkah menuju derajat ketakwaan. Karena ketakwaan lahir dari perjuangan, bukan dari ketiadaan godaan.

Lalu mengapa ketika berpuasa akal dapat memenangkan nafsu, sehingga nafsu bisa dikalahkan?

Ada sebuah kisah dalam hadis yang menjelaskan tentang penciptaan akal dan nafsu.

Ketika Allah menciptakan akal, Allah berfirman kepadanya:

اقبل فأقبل

“Wahai akal, menghadaplah.” Maka akal pun menghadap.

Kemudian Allah berfirman:

أدبر فأدبر

“Berpalinglah.” Maka akal pun berpaling.

Lalu Allah bertanya kepadanya:

من أنت ومن أنا؟

“Siapakah engkau dan siapakah Aku?”

Akal menjawab dengan penuh adab dan ketawadhuan:

أنت ربي وأنا عبدك الضعيف

“Engkau adalah Tuhanku, dan aku adalah hamba-Mu yang lemah.”

Berbeda dengan nafsu. Ketika Allah menciptakan nafsu, Allah berfirman:

أقبلي
“Wahai nafsu, menghadaplah.” Namun nafsu enggan menghadap.

Allah berfirman lagi:

أدبري
“Berpalinglah.” Tetapi nafsu pun tetap tidak patuh.

Kemudian Allah bertanya:

من أنت ومن أنا؟

“Siapakah engkau dan siapakah Aku?”

Nafsu menjawab dengan angkuh dan sombong:

أنا أنا وأنت أنت

“Aku adalah aku, dan Engkau adalah Engkau.”

Tidak ada pengakuan bahwa Allah-lah yang menciptakannya.

Karena kesombongan itu, Allah menyiksa nafsu dengan memasukkannya ke dalam neraka selama seratus tahun. Setelah itu Allah bertanya lagi:

من أنت ومن أنا؟

Namun nafsu tetap menjawab sebagaimana sebelumnya:

أنا أنا وأنت أنت

Ternyata siksa neraka selama seratus tahun belum mampu menghilangkan keangkuhan dan kesombongan nafsu.

Lalu Allah menyiksa nafsu dengan siksaan kelaparan selama seratus tahun. Setelah itu Allah kembali bertanya:

من أنت ومن أنا؟

Kali ini nafsu menjawab:

أنت ربي وأنا عبدك الضعيف

“Engkau adalah Tuhanku, dan aku adalah hamba-Mu yang lemah.”

Dari kisah ini dapat dipahami bahwa kesombongan dan keangkuhan nafsu luluh ketika ia merasakan lapar. Di sinilah rahasia puasa. Dengan menahan lapar dan dahaga, nafsu dilemahkan. Ketika nafsu melemah, akal yang disinari iman menjadi kuat dan mampu mengendalikannya.

Maka puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi proses melemahkan nafsu agar akal dan iman mampu memimpin. Dari sinilah lahir ketakwaan.

Inilah jawaban mengapa Allah mewajibkan puasa kepada hamba-hamba-Nya. Karena dengan berpuasa, hawa nafsu kita dapat dikendalikan, dan akal kita mampu menguasai serta menuntunnya. Ketika nafsu terkendali, kita menjadi lebih mudah melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Puasa melatih diri untuk menahan, mengendalikan, dan menundukkan dorongan yang sering membawa kepada kelalaian. Dengan melemahnya nafsu, iman menjadi kuat, hati menjadi lembut, dan ketaatan terasa lebih ringan untuk dijalankan.

Pada akhirnya, tujuan agung itu tercapai, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an: لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ  agar kamu menjadi orang-orang yang bertakwa. Itulah derajat yang mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta‘ala.

Semoga kita termasuk hamba-hamba yang mampu meraih derajat ketakwaan melalui ibadah puasa. Aamiin.

 


Bimbingan Calon Pengantin (Bimcatin) kepada pasangan calon pengantin Daryanto dan Dika Novia Pangestuti

  aporan Kegiatan Bimbingan Calon Pengantin (Bimwin/Bimcatin) P ada tanggal 3 Juni 2026, KUA Kecamatan Tegowanu melaksanakan kegiatan Bimbi...