Kamis, 19 Februari 2026

Puasa dan Kemenangan Akal atas Nafsu

         


        Puasa tidak hanya diwajibkan kepada umat Nabi Muhammad
semata, tetapi juga telah diwajibkan kepada umat-umat terdahulu sebelum beliau. Sejak dahulu, ibadah puasa sudah menjadi jalan pembinaan ruhani bagi para hamba Allah, sebagai sarana mendidik jiwa dan menumbuhkan ketakwaan.

Sebagaimana telah difirmankan oleh Allah dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu menjadi orang-orang yang bertakwa.”

Sungguh merupakan predikat yang sangat luar biasa apabila seseorang dapat menjadi manusia yang bertakwa.

Lalu mengapa puasa dapat menjadikan manusia sebagai orang yang bertakwa?

Seseorang disebut sebagai muttaqin ketika akalnya mampu mengalahkan hawa nafsunya. Di dalam diri manusia terdapat proses pergulatan, yakni “perang” antara akal dan nafsu. Ketika akal mampu mengendalikan, menundukkan, dan memenangkan pertarungan melawan nafsu itulah tanda ketakwaan mulai tumbuh.

Namun, seseorang belum dapat disebut sebagai muttaqin hanya karena ia melaksanakan semua perintah dan meninggalkan semua larangan, jika dalam dirinya tidak pernah terjadi proses perjuangan antara akal dan nafsu. Ketakwaan bukan sekadar menjalankan aturan secara lahiriah, tetapi ada proses batin: ada dorongan nafsu yang ingin menyimpang, lalu akal dan iman menahannya karena Allah.

Puasa menghadirkan proses itu secara nyata. Saat lapar dan dahaga, nafsu ingin makan dan minum, tetapi akal dan iman menahannya karena perintah Allah. Di situlah latihan ketakwaan terjadi  ketika akal, dengan cahaya iman, mampu menguasai nafsu.

Di sini kita dapat memperhatikan makhluk Allah yang disebut malaikat. Seluruh malaikat Allah, tanpa terkecuali, tidak pernah melanggar perintah maupun larangan-Nya. Mereka selalu patuh dan tunduk terhadap apa pun yang diperintahkan dan apa pun yang dilarang oleh Allah.

Namun demikian, malaikat tidak memperoleh derajat muttaqin. Mengapa? Karena malaikat diciptakan dengan akal tetapi tanpa hawa nafsu. Sehingga ketika mereka menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah, tidak ada proses pergulatan atau “perang” antara akal dan nafsu di dalam diri mereka.

Berbeda dengan manusia. Manusia memiliki akal sekaligus nafsu. Maka ketika manusia mampu menundukkan nafsunya dengan akalnya karena Allah, di situlah letak kemuliaannya. Di situlah nilai perjuangan dan derajat ketakwaan itu lahir.

Berbeda dengan manusia dan jin. Ketika keduanya melakukan kebaikan, di dalam dirinya terjadi proses pergulatan antara akal dan hawa nafsu. Akal mendorong untuk berbuat baik, sedangkan nafsu berusaha menghalangi agar tidak melakukannya.

Hal ini dapat kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, setelah kita pulang dari masjid, muncul keinginan untuk bersedekah. Hati terasa tersentuh, iman bergetar, dan akal mengajak untuk berbagi. Namun pada saat yang sama, muncul pula berbagai alasan: takut uang berkurang, masih ada kebutuhan lain, atau menunda hingga waktu yang tidak pasti. Itulah suara nafsu yang mencoba menghalangi kebaikan.

Di sinilah terjadi “peperangan” batin. Jika akal yang diterangi iman mampu mengalahkan dorongan nafsu, lalu kita benar-benar bersedekah, maka saat itulah kita sedang melangkah menuju derajat ketakwaan. Karena ketakwaan lahir dari perjuangan, bukan dari ketiadaan godaan.

Lalu mengapa ketika berpuasa akal dapat memenangkan nafsu, sehingga nafsu bisa dikalahkan?

Ada sebuah kisah dalam hadis yang menjelaskan tentang penciptaan akal dan nafsu.

Ketika Allah menciptakan akal, Allah berfirman kepadanya:

اقبل فأقبل

“Wahai akal, menghadaplah.” Maka akal pun menghadap.

Kemudian Allah berfirman:

أدبر فأدبر

“Berpalinglah.” Maka akal pun berpaling.

Lalu Allah bertanya kepadanya:

من أنت ومن أنا؟

“Siapakah engkau dan siapakah Aku?”

Akal menjawab dengan penuh adab dan ketawadhuan:

أنت ربي وأنا عبدك الضعيف

“Engkau adalah Tuhanku, dan aku adalah hamba-Mu yang lemah.”

Berbeda dengan nafsu. Ketika Allah menciptakan nafsu, Allah berfirman:

أقبلي
“Wahai nafsu, menghadaplah.” Namun nafsu enggan menghadap.

Allah berfirman lagi:

أدبري
“Berpalinglah.” Tetapi nafsu pun tetap tidak patuh.

Kemudian Allah bertanya:

من أنت ومن أنا؟

“Siapakah engkau dan siapakah Aku?”

Nafsu menjawab dengan angkuh dan sombong:

أنا أنا وأنت أنت

“Aku adalah aku, dan Engkau adalah Engkau.”

Tidak ada pengakuan bahwa Allah-lah yang menciptakannya.

Karena kesombongan itu, Allah menyiksa nafsu dengan memasukkannya ke dalam neraka selama seratus tahun. Setelah itu Allah bertanya lagi:

من أنت ومن أنا؟

Namun nafsu tetap menjawab sebagaimana sebelumnya:

أنا أنا وأنت أنت

Ternyata siksa neraka selama seratus tahun belum mampu menghilangkan keangkuhan dan kesombongan nafsu.

Lalu Allah menyiksa nafsu dengan siksaan kelaparan selama seratus tahun. Setelah itu Allah kembali bertanya:

من أنت ومن أنا؟

Kali ini nafsu menjawab:

أنت ربي وأنا عبدك الضعيف

“Engkau adalah Tuhanku, dan aku adalah hamba-Mu yang lemah.”

Dari kisah ini dapat dipahami bahwa kesombongan dan keangkuhan nafsu luluh ketika ia merasakan lapar. Di sinilah rahasia puasa. Dengan menahan lapar dan dahaga, nafsu dilemahkan. Ketika nafsu melemah, akal yang disinari iman menjadi kuat dan mampu mengendalikannya.

Maka puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi proses melemahkan nafsu agar akal dan iman mampu memimpin. Dari sinilah lahir ketakwaan.

Inilah jawaban mengapa Allah mewajibkan puasa kepada hamba-hamba-Nya. Karena dengan berpuasa, hawa nafsu kita dapat dikendalikan, dan akal kita mampu menguasai serta menuntunnya. Ketika nafsu terkendali, kita menjadi lebih mudah melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Puasa melatih diri untuk menahan, mengendalikan, dan menundukkan dorongan yang sering membawa kepada kelalaian. Dengan melemahnya nafsu, iman menjadi kuat, hati menjadi lembut, dan ketaatan terasa lebih ringan untuk dijalankan.

Pada akhirnya, tujuan agung itu tercapai, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an: لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ  agar kamu menjadi orang-orang yang bertakwa. Itulah derajat yang mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta‘ala.

Semoga kita termasuk hamba-hamba yang mampu meraih derajat ketakwaan melalui ibadah puasa. Aamiin.

 


Tidak ada komentar:

Bimbingan Calon Pengantin (Bimcatin) kepada pasangan calon pengantin Daryanto dan Dika Novia Pangestuti

  aporan Kegiatan Bimbingan Calon Pengantin (Bimwin/Bimcatin) P ada tanggal 3 Juni 2026, KUA Kecamatan Tegowanu melaksanakan kegiatan Bimbi...