Sebagaimana telah difirmankan oleh Allah dalam
Al-Qur’an:
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى
الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana
telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu menjadi orang-orang
yang bertakwa.”
Sungguh
merupakan predikat yang sangat luar biasa apabila seseorang dapat menjadi manusia
yang bertakwa.
Lalu mengapa puasa dapat menjadikan manusia
sebagai orang yang bertakwa?
Seseorang disebut sebagai muttaqin
ketika akalnya mampu mengalahkan hawa nafsunya. Di dalam diri manusia terdapat
proses pergulatan, yakni “perang” antara akal dan nafsu. Ketika akal mampu
mengendalikan, menundukkan, dan memenangkan pertarungan melawan nafsu itulah
tanda ketakwaan mulai tumbuh.
Namun, seseorang belum dapat disebut sebagai
muttaqin hanya karena ia melaksanakan semua perintah dan meninggalkan semua
larangan, jika dalam dirinya tidak pernah terjadi proses perjuangan antara akal
dan nafsu. Ketakwaan bukan sekadar menjalankan aturan secara lahiriah, tetapi
ada proses batin: ada dorongan nafsu yang ingin menyimpang, lalu akal dan iman
menahannya karena Allah.
Puasa menghadirkan proses itu secara nyata.
Saat lapar dan dahaga, nafsu ingin makan dan minum, tetapi akal dan iman
menahannya karena perintah Allah. Di situlah latihan ketakwaan terjadi ketika
akal, dengan cahaya iman, mampu menguasai nafsu.
Di sini kita
dapat memperhatikan makhluk Allah yang disebut malaikat. Seluruh malaikat
Allah, tanpa terkecuali, tidak pernah melanggar perintah maupun larangan-Nya.
Mereka selalu patuh dan tunduk terhadap apa pun yang diperintahkan dan apa pun
yang dilarang oleh Allah.
Namun demikian, malaikat tidak memperoleh
derajat muttaqin. Mengapa? Karena malaikat
diciptakan dengan akal tetapi tanpa hawa nafsu. Sehingga ketika mereka
menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah, tidak ada proses pergulatan
atau “perang” antara akal dan nafsu di dalam diri mereka.
Berbeda dengan manusia. Manusia memiliki akal
sekaligus nafsu. Maka ketika manusia mampu menundukkan nafsunya dengan akalnya
karena Allah, di situlah letak kemuliaannya. Di situlah nilai perjuangan dan
derajat ketakwaan itu lahir.
Berbeda
dengan manusia dan jin. Ketika keduanya melakukan kebaikan, di dalam dirinya
terjadi proses pergulatan antara akal dan hawa nafsu. Akal mendorong untuk
berbuat baik, sedangkan nafsu berusaha menghalangi agar tidak melakukannya.
Hal ini dapat kita rasakan dalam kehidupan
sehari-hari. Misalnya, setelah kita pulang dari masjid, muncul keinginan untuk
bersedekah. Hati terasa tersentuh, iman bergetar, dan akal mengajak untuk
berbagi. Namun pada saat yang sama, muncul pula berbagai alasan: takut uang
berkurang, masih ada kebutuhan lain, atau menunda hingga waktu yang tidak
pasti. Itulah suara nafsu yang mencoba menghalangi kebaikan.
Di sinilah terjadi “peperangan” batin. Jika
akal yang diterangi iman mampu mengalahkan dorongan nafsu, lalu kita
benar-benar bersedekah, maka saat itulah kita sedang melangkah menuju derajat
ketakwaan. Karena ketakwaan lahir dari perjuangan, bukan dari ketiadaan godaan.
Lalu mengapa ketika berpuasa akal dapat
memenangkan nafsu, sehingga nafsu bisa dikalahkan?
Ada sebuah kisah dalam hadis yang menjelaskan
tentang penciptaan akal dan nafsu.
Ketika Allah menciptakan akal, Allah berfirman
kepadanya:
اقبل
فأقبل
“Wahai
akal, menghadaplah.” Maka akal pun menghadap.
Kemudian Allah berfirman:
أدبر
فأدبر
“Berpalinglah.”
Maka akal pun berpaling.
Lalu Allah bertanya kepadanya:
من أنت
ومن أنا؟
“Siapakah
engkau dan siapakah Aku?”
Akal menjawab dengan penuh adab dan
ketawadhuan:
أنت ربي
وأنا عبدك الضعيف
“Engkau
adalah Tuhanku, dan aku adalah hamba-Mu yang lemah.”
Berbeda dengan nafsu. Ketika Allah menciptakan
nafsu, Allah berfirman:
أقبلي
“Wahai nafsu, menghadaplah.” Namun nafsu enggan menghadap.
Allah berfirman lagi:
أدبري
“Berpalinglah.” Tetapi nafsu pun tetap tidak patuh.
Kemudian Allah bertanya:
من أنت
ومن أنا؟
“Siapakah
engkau dan siapakah Aku?”
Nafsu menjawab dengan angkuh dan sombong:
أنا أنا
وأنت أنت
“Aku
adalah aku, dan Engkau adalah Engkau.”
Tidak ada pengakuan bahwa Allah-lah yang
menciptakannya.
Karena kesombongan itu, Allah menyiksa nafsu
dengan memasukkannya ke dalam neraka selama seratus tahun. Setelah itu Allah
bertanya lagi:
من أنت
ومن أنا؟
Namun nafsu tetap menjawab sebagaimana
sebelumnya:
أنا أنا
وأنت أنت
Ternyata siksa neraka selama seratus tahun
belum mampu menghilangkan keangkuhan dan kesombongan nafsu.
Lalu Allah menyiksa nafsu dengan siksaan
kelaparan selama seratus tahun. Setelah itu Allah kembali bertanya:
من أنت
ومن أنا؟
Kali ini nafsu menjawab:
أنت ربي
وأنا عبدك الضعيف
“Engkau adalah Tuhanku, dan aku adalah hamba-Mu
yang lemah.”
Dari kisah ini dapat dipahami bahwa kesombongan
dan keangkuhan nafsu luluh ketika ia merasakan lapar. Di sinilah rahasia puasa.
Dengan menahan lapar dan dahaga, nafsu dilemahkan. Ketika nafsu melemah, akal
yang disinari iman menjadi kuat dan mampu mengendalikannya.
Maka
puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi proses melemahkan nafsu
agar akal dan iman mampu memimpin. Dari sinilah lahir ketakwaan.
Inilah jawaban mengapa Allah mewajibkan puasa
kepada hamba-hamba-Nya. Karena dengan berpuasa, hawa nafsu kita dapat
dikendalikan, dan akal kita mampu menguasai serta menuntunnya. Ketika nafsu
terkendali, kita menjadi lebih mudah melaksanakan perintah-perintah Allah dan
menjauhi segala larangan-Nya.
Puasa melatih diri untuk menahan,
mengendalikan, dan menundukkan dorongan yang sering membawa kepada kelalaian.
Dengan melemahnya nafsu, iman menjadi kuat, hati menjadi lembut, dan ketaatan
terasa lebih ringan untuk dijalankan.
Pada akhirnya, tujuan agung itu tercapai,
sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an: “لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ” agar kamu menjadi orang-orang yang bertakwa.
Itulah derajat yang mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta‘ala.
Semoga kita termasuk hamba-hamba yang mampu
meraih derajat ketakwaan melalui ibadah puasa. Aamiin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar