Kamis, 19 Februari 2026

Makna Hadis: Benarkah Setan Dibelenggu di Bulan Ramadhan?


Pak, bagaimana maksud hadis yang menyatakan bahwa ketika masuk bulan Ramadhan setan-setan itu dibelenggu?”

Untuk memahami hadis tersebut, kita perlu memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan setan.

Banyak orang membayangkan setan seperti dalam film horor: sosok menyeramkan atau makhluk gaib tertentu. Padahal kata gaib artinya sesuatu yang samar. Karena kesamarannya itu, para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan hakikat setan. Ada yang menjelaskan bahwa setan bisa dari golongan jin dan bisa pula dari manusia, sebagaimana dalam Al-Qur’an disebutkan “minal jinnati wan naas.”

Namun, menurut Imam Ghazali, yang terpenting bukanlah membahas bentuk setan itu seperti apa. Itu bukan inti persoalan. Beliau mengibaratkan seperti seseorang yang bajunya kemasukan ular. Kalau ia malah sibuk bertanya, “Ini ular jenis apa? Panjangnya berapa?” maka ia bisa keburu celaka. Yang terpenting adalah bagaimana cara mengeluarkannya.

Demikian pula dengan setan. Yang penting adalah memahami cara kerjanya.
Imam Ghazali menjelaskan bahwa tugas setan adalah menjauhkan manusia dari ketaatan kepada Allah. Senjata setan adalah hawa nafsu dan syahwat. Bahkan dalam sebuah hadis disebutkan bahwa setan mengalir dalam diri manusia seperti aliran darah.

Lalu bagaimana cara melemahkannya?
Caranya adalah dengan lapar.
Karena ketika manusia lapar, syahwatnya melemah, hawa nafsunya melemah. Ketika nafsu melemah, maka setan kehilangan senjatanya.

Nah, kembali kepada hadis tadi:
Ketika masuk bulan Ramadhan, setan-setan dibelenggu. Maksudnya bukan semata-mata secara fisik dirantai seperti dalam gambaran harfiah, tetapi maknanya adalah bahwa ketika seorang hamba benar-benar menjalankan puasa sesuai syariat dan adab-adabnya, tidak memperturutkan hawa nafsu, menjaga lisan, menjaga pandangan, menjaga hati — maka setan menjadi lemah.

Karena senjatanya dilemahkan.

Jika hawa nafsu tidak diberi ruang, maka setan seperti terbelenggu. Ia tidak punya kekuatan untuk menggoda sebagaimana di bulan-bulan lainnya.
Namun sayangnya, sebagian orang hanya menahan makan dan minum di siang hari. Ketika berbuka, seluruh nafsu justru dilampiaskan. Berlebihan dalam makan, berlebihan dalam belanja, bahkan pengeluaran Ramadhan lebih besar daripada bulan biasa. Dalam kondisi seperti ini, hawa nafsu tetap kuat. Jika nafsu kuat, maka setan pun kembali kuat.

Jadi makna “setan dibelenggu” itu terkait erat dengan kualitas puasa kita.
Jika puasa dijalankan dengan benar, setan lemah.
Jika puasa hanya formalitas, setan tetap memiliki jalan.

Maka Ramadhan sejatinya adalah momentum melemahkan hawa nafsu agar setan kehilangan kekuatannya.

Wallahu a‘lam.
Copas Gus Haris Muhyidin.

Bimbingan Calon Pengantin (Bimcatin) kepada pasangan calon pengantin Daryanto dan Dika Novia Pangestuti

  aporan Kegiatan Bimbingan Calon Pengantin (Bimwin/Bimcatin) P ada tanggal 3 Juni 2026, KUA Kecamatan Tegowanu melaksanakan kegiatan Bimbi...