Senin, 23 Februari 2026

Khutbah Idul Fitri “Allahu Akbar: Antara Bakti kepada Orang Tua dan Bekal Menuju Akhirat”



 اَللهُ اَكْبَرْ (×9)

اَلْحَمْدُ ِللهِ المبدء المعيد الفعال لما يريد الذي خلق الانسان فمنهم شقي وسعيد  وَاَشْهَدُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ الوفي الوعيد وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ المبعوث بدين التوحيد. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا  وعلى اله وصجبه علي التابيد اما بعد اِتَّقُوا اللهَ حقاتقاته وَاعْلَمُوْا اَنَّ هَذَا يَوْمُ عِيْدٍ

Pada pagi hari ini seluruh umat Islam di dunia mengumandangkan takbir Allahu Akbar. Kita telah menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Namun janganlah kita mengira bahwa karena puasa kita, lalu kita dapat dengan mudah masuk ke surga Allah.

Puasa yang kita lakukan belumlah sebanding dengan nikmat hembusan napas, detak jantung, dan aliran darah yang Allah berikan kepada kita setiap saat. Puasa kita juga tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rezeki berupa makan, minum, tidur, dan bangun yang setiap hari kita rasakan. Terlebih lagi jika dibandingkan dengan kenikmatan surga Allah.

Maka bagi orang-orang yang beriman, setelah selesai menjalankan ibadah puasa, sudah sepantasnya kita mengucapkan Allahu Akbar — sungguh Maha Besar kekuasaan dan kasih sayang-Mu ya Allah.

Terkadang terlintas dalam hati kita bahwa sedekah yang kita berikan, termasuk memberi hidangan berbuka puasa, juga tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan nikmat besar Allah yang dititipkan melalui ibu kita.

Yaitu rezeki kehidupan sejak berada dalam kandungan seorang ibu selama sembilan bulan, hingga kita dilahirkan dari rahimnya ke dunia. Kemudian kita disusui selama kurang lebih dua tahun. Semua itu tidak lain adalah kasih sayang Allah yang begitu besar, yang tidak dapat dibandingkan dengan sedekah apa pun yang kita lakukan.

Maka sudah sepantasnya kita mengucapkan Allahu Akbar — sungguh Maha Besar kekuasaan dan kasih sayang-Mu ya Allah.

Pagi ini mari kita bayangkan, seandainya ibu dan bapak kita masih hidup. Tentu setelah pulang dari shalat Id, kita masih bisa mencium tangan mereka, memeluk tubuhnya yang mungkin telah rapuh dimakan usia.

Kulit bapak yang menghitam dan melepuh karena terik matahari demi mengayuh rezeki untuk sesuap nasi dan biaya sekolah kita, hingga kita menjadi manusia yang mulia dan dihormati — hari ini masih bisa kita rangkul dengan penuh cinta.

Betapa besar jasa dan pengorbanan mereka yang sering kali tidak mampu kita balas dengan apa pun. Namun malang tidak dapat ditolak dan untung tidak dapat diraih. Bapak dan Ibu yang seharusnya kita datangi setelah shalat Id, yang seharusnya kita peluk dan kita cium tangannya, hari ini sudah tidak lagi berada di tengah-tengah kita.

Kini yang tersisa hanyalah doa, kenangan, dan penyesalan karena belum sempat membalas semua cinta serta pengorbanan mereka. Semoga Allah melapangkan kuburnya, mengampuni dosa-dosanya, dan menempatkan mereka di tempat terbaik di sisi-Nya.

Senyum dan kasih sayangnya masih terbayang di pelupuk mata, namun beliau sudah tidak lagi berada di tengah-tengah kita. Kini mereka telah berpindah ke alam kubur. Kita hanya bisa berdiri di sisi makamnya sambil mengucapkan:

السلام عليكم يا أهل الديار من المؤمنين

“Semoga keselamatan tercurah atas kalian, wahai penghuni negeri (kubur) dari golongan orang-orang beriman.”

وإنا إن شاء الله بكم لاحقون

“Dan sesungguhnya kami, insyaAllah, akan menyusul kalian.”

نسأل الله لنا ولكم العافية

“Kami memohon kepada Allah keselamatan dan kebaikan untuk kami dan untuk kalian.”

Kita hanya mampu memanjatkan doa, semoga kita yang masih hidup dan mereka yang telah lebih dahulu berpulang sama-sama memperoleh kebaikan, rahmat, dan ampunan dari Allah Swt.

Tidak ada yang dapat kita kirimkan kepada mereka selain untaian doa. Tidak ada kata-kata yang dapat kita ucapkan selain:

اللهم اجعل قبرهما روضة من رياض الجنان ولا تجعل قبرهما حفرة من حفر النيران

“Ya Allah, jadikanlah makam kedua orang tua kami sebagai salah satu taman dari taman-taman surga-Mu, dan jangan Engkau jadikan makam mereka sebagai salah satu lubang dari lubang-lubang neraka.”

Lalu apa yang mampu kita lakukan untuk membalas kebaikan Ibu dan Bapak kita? Seandainya kita menggendong mereka dari halaman rumah hingga ke Kota Suci Makkah, kemudian kita thawaf tujuh kali putaran, itu pun belum mampu menebus satu teriakan dan satu hembusan napas ketika ibu melahirkan kita. Ia mempertaruhkan nyawanya saat melahirkan kita, mengantarkan kita dari alam rahim menuju alam dunia.

Begitu besar pengorbanan mereka, hingga sejatinya kita hanya bisa membalas dengan doa, bakti, dan memohonkan ampunan untuk keduanya. Semoga Allah membalas segala kebaikan mereka dengan pahala yang berlipat ganda dan menempatkan mereka di tempat terbaik di sisi-Nya.

Berapa kali ibu kita terbangun di tengah malam karena tangisan kita?

Berapa kali beliau mengganti pakaian karena air kencing kita?

Berapa kali ibu kita harus keluar dari keramaian karena kita menangis?

Berapa kali beliau meninggalkan atau menunda puasa, mengqadha puasanya karena mengandung dan menyusui kita?

Dan berapa kali pula Ibu dan Bapak kita menahan lapar dan haus, menahan keinginan dan kepayahan, demi mengalah untuk kita?

Semua itu tidak dapat dihitung dengan jari-jari kita. Semua itu adalah bukti pengorbanan yang begitu besar untuk kita semua.

Lalu apa yang dapat kita balas di hari yang penuh kebahagiaan ini?

Seandainya harta kita melimpah ruah, itu pun tidak akan mampu menebus kasih sayang yang telah mereka berikan kepada kita. Kita hanya mampu memanjatkan doa:

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, serta sayangilah mereka sebagaimana mereka telah menyayangiku dan mendidikku ketika aku masih kecil.”

Semoga Allah menerima doa-doa kita, mengampuni dosa kedua orang tua kita, melimpahkan rahmat-Nya kepada mereka, dan menjadikan kita anak-anak yang berbakti meskipun mereka telah tiada.

Apabila doa pun terasa tak mampu kita ucapkan, lalu apa lagi yang bisa kita katakan di hadapan Allah? Apa yang dapat kita persembahkan?

Sekalipun kita berdiri di samping kubur ibu kita, menangis hingga air mata seakan menjadi darah, itu pun tidak akan mampu menebus kesedihan dan kehilangan kita. Bibir ini hanya mampu berucap, Allahu Akbar — sungguh Maha Besar kasih sayang-Mu ya Allah.

Maka selagi kita masih memiliki orang tua pada hari Id ini, sepantasnya kita bersimpuh di hadapan Ibu dan Bapak kita. Mencium tangan mereka, memohon maaf, dan berbakti sepenuh hati. Karena boleh jadi Idulfitri ini adalah yang terakhir bagi kita atau bagi mereka.

Allahu Akbar…

Jamaah Shalat Idulfitri rahimakumullah,

Selama satu bulan kita menahan makan dan minum. Kita menahan lapar dan dahaga hanya sampai terdengar azan Magrib. Lapar yang melilit perut ada batasnya, haus yang mengeringkan kerongkongan pun ada ujungnya.

Namun saudara-saudara kita yang fakir, miskin, dan hidup dalam kesusahan, merasakan lapar dan haus tanpa batas. Hari ini lapar, esok pun masih lapar.

غْنُوْهُمْ عَنِ الْمَسْأَلَةِ فِي مِثْلِ هَذَا الْيَوْمِ

“Cukupilah kebutuhan mereka agar tidak meminta-minta pada hari seperti ini.”

Maka cukupkanlah kebutuhan fakir miskin pada hari raya ini. Jangan sampai di hari Id yang penuh kebahagiaan ini mereka justru dalam keadaan lapar dan harus mengemis meminta-minta.

Sungguh bisa jadi dosa besar bagi kita apabila membiarkan mereka pada hari raya tanpa merasakan kegembiraan. Jangan sampai di saat kita mengenakan pakaian baru, bersuka cita dengan hidangan dan jajanan, justru ada saudara kita yang berjalan dengan pakaian lusuh, tanpa sandal, menadahkan tangan memohon belas kasihan.

Allahu Akbar…

Jamaah Shalat Idulfitri rahimakumullah,

Mari kita merenung sejenak. Banyak orang yang mempersiapkan diri untuk menyambut datangnya Idulfitri: mudik ke kampung halaman, berbelanja ke pasar, membawa bekal dan oleh-oleh sebanyak-banyaknya. Seakan-akan bekerja setahun penuh hanya untuk merayakan Idulfitri yang berlangsung satu hari saja.

Namun hanya sedikit orang yang benar-benar mempersiapkan bekal untuk perjalanan yang sangat panjang, perjalanan yang tidak bisa dipastikan kapan waktunya dan tidak ada kepastian untuk kembali. Itulah kematian.

Tidak ada jaminan bahwa kita akan bertemu Ramadan tahun depan. Bahkan bisa jadi Ramadan yang baru saja kita lalui adalah Ramadan terakhir bagi kita. Sehat, harta, pangkat, kedudukan, bahkan anak-anak kita, semuanya tidak dapat menjamin bahwa kita akan kembali berjumpa dengan bulan Ramadan yang akan datang.

Perlu kita sadari, ketika jasad kita telah terbujur di atas keranda dan diusung menuju pemakaman, maka tidak ada lagi artinya harta yang selama ini kita miliki.

ما أكلت فأفنيت

Harta yang kita makan akan habis dan musnah.

وما لبست فأبليت

Pakaian dan perhiasan yang kita kenakan akan usang dan lapuk.

وما تصدقت فأمضيت

Dan harta yang kita sedekahkan, itulah yang akan kita bawa menghadap Allah.

Hari ini kita masih bisa membanggakan sawah, ladang, harta benda, pangkat, kedudukan, anak dan cucu. Tetapi ketika tiba waktunya:

يوم لا ينفع مال ولا بنون

“Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi bermanfaat sedikit pun.”

Seindah-indahnya pakaian yang kita miliki dan kita kenakan hari ini, pakaian terakhir yang akan kita pakai hanyalah kain kafan—tidak dijahit, hanya disobek dan diikat sederhana.

Sebagus-bagusnya kendaraan yang kita miliki dan kita tumpangi sekarang, kendaraan terakhir yang akan kita naiki adalah keranda. Rumah dan tanah yang kita dambakan hari ini, tempat terakhir kita adalah kuburan berukuran kurang lebih 2 x 1 meter, yang akan kita tempati untuk waktu yang sangat lama.

Setinggi-tingginya pangkat dan kedudukan kita, gelar terakhir kita hanyalah “almarhum” atau “mayit”.

Istri, anak, kerabat, saudara, dan tetangga yang mencintai serta menemani kita, pada akhirnya hanya akan mengantar sampai ke liang lahat. Mereka tidak mampu menemani kita sehari pun di dalam kubur. Setelah jasad dimasukkan ke dalam kubur, istri yang kita cintai pulang, anak-anak yang kita banggakan kembali, kendaraan dan harta dibagi-bagi.

Lalu apa yang masih kita miliki?

Hanyalah puasa kita, tarawih kita, tadarus kita, zakat kita, dan seluruh amal saleh yang akan setia menemani kita hingga hari kiamat. Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah kita dan menjadikannya cahaya di alam kubur serta pemberat timbangan kebaikan kita kelak.

Maka hendaknya amal ibadah kita setelah Ramadan tetap sebagaimana ketika Ramadan. Anggaplah Ramadan yang baru saja kita tinggalkan adalah Ramadan terakhir bagi kita, sehingga kita terus menjaga semangat ibadah, ketaatan, dan ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari.

Demikian khutbah yang dapat saya sampaikan. Semoga kita semua tergolong hamba-hamba yang pandai bersyukur kepada Allah, dengan bukti mampu bersimpuh dan berbakti di hadapan Ibu dan Bapak, mampu mengasihi saudara di sekitar kita, serta peduli kepada sesama.

Semoga kita semua menjadi orang-orang yang selalu ingat dan waspada terhadap datangnya kematian — kapan waktunya, di mana tempatnya, dan apakah kita sudah siap atau belum. Dan yang paling penting, semoga Allah menganugerahkan kepada kita akhir kehidupan yang baik, husnul khatimah. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

 

 

Tidak ada komentar:

Bimbingan Calon Pengantin (Bimcatin) kepada pasangan calon pengantin Daryanto dan Dika Novia Pangestuti

  aporan Kegiatan Bimbingan Calon Pengantin (Bimwin/Bimcatin) P ada tanggal 3 Juni 2026, KUA Kecamatan Tegowanu melaksanakan kegiatan Bimbi...