Jumat, 27 Februari 2026

Sebelum Napas Terhenti: Manfaatkan Kemuliaan Ramadan

 


لْحَمْدُ للهِ. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْاِنْسَانَ فِيْ أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْعَظِيْمِ الْكَرِيْمِ. وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كُنِّيَ بِأَبِي الْقَاسِمِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ. اَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ  

Pada hari ini adalah hari yang paling mulia di sisi Allah, sayyidul ayyām (penghulu segala hari), yaitu hari Jumat. Dan hari Jumat ini berada dalam bulan suci Ramadan, sehingga bertemulah dua kemuliaan: kemuliaan waktu dan kemuliaan bulan.Pada hari ini kita berada di tempat yang paling mulia, yaitu masjid. Manusia yang paling mulia adalah orang yang beriman. Dan saat ini termasuk waktu yang mustajab untuk berdoa. Perlu kita sadari bahwa saat ini napas masih keluar masuk, jantung masih berdetak, kaki masih bisa berjalan, tangan masih bisa bergerak, mata masih bisa berkedip. Semua itu adalah nikmat besar dari Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā yang wajib kita syukuri.

Jamaah sekalian…
Apakah semua ini akan kekal selamanya?

 وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

“Dan bagi setiap umat ada ajalnya. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya.”

Akan datang waktunya napas itu berhenti. Mata terbelalak ketika melihat ruh keluar dari jasad. Jantung berhenti berdetak, kaki tidak dapat berjalan lagi. Perkara yang paling ringan bukan lagi menggerakkan lidah, bahkan untuk memejamkan mata pun tidak mampu. Mata kita akan ditutupkan oleh orang lain. Anak, istri, menantu, teman, tetangga, dan sanak saudara menangis melihat tubuh kita terbujur kaku. Tidak ada perbedaan antara orang yang berkuasa dan orang kecil. Tidak ada perbedaan antara orang kaya dan orang miskin. Semua sama, terbujur tanpa daya.

Ketika hidup, kita bisa mandi sendiri. Ketika meninggal, kita dimandikan.
Ketika hidup, kita memakai pakaian sendiri. Ketika meninggal, kita dipakaikan.
Ketika hidup, kita berjalan sendiri. Ketika meninggal, kita dipikul di atas pundak tetangga dan teman.

Rumah besar yang dibangun dengan susah payah, pagi hingga sore, sore hingga malam, akhirnya berdiri megah. Namun tidak sejengkal pun dari rumah itu yang menjadi tempat tinggal terakhir kita. Hanya liang lahat yang kita tempati.

مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَىٰ

“Dari tanah Kami menciptakan kalian, ke dalamnya Kami mengembalikan kalian, dan darinya pula Kami akan mengeluarkan kalian sekali lagi.”

Dari tanah kembali ke tanah. Diantar beramai-ramai masuk ke liang kubur. Ada yang memegang kepala, ada yang memegang pinggang, ada yang memegang kaki. Tubuh dimasukkan perlahan, lalu tanah ditimbunkan. Bahkan tanah itu diinjak-injak agar padat.Istri, anak, kerabat, dan tetangga yang dahulu senang bersama kita, pada akhirnya hanya sampai di pemakaman. Tidak ada yang mau menemani walau sehari di dalam kubur.Anak, istri, tetangga, kendaraan, dan harta mengantar sampai ke pemakaman. Namun setelah jasad dimasukkan ke dalam kubur, istri kembali, anak pulang, kendaraan dan harta dibagi.

Di mana anak? Di mana teman? Di mana tetangga? Semua kembali ke rumah masing-masing.Hari pertama mereka menangis. Hari kedua masih menangis. Namun setelah itu mereka duduk bermusyawarah membagi warisan. Orang lain menikmati hasil jerih payah kita, keringat dan darah kita. Mereka tidak ikut mencari, tetapi ikut memiliki, bahkan terkadang saling berebut.

Bagaimana keadaan kita di dalam kubur? Tubuh membusuk, kulit membengkak, perut membesar, kuku terlepas, rambut rontok. Tidak ada yang mau melihat. Karena itu kubur ditinggikan agar bau tidak keluar, disiram agar tidak diganggu hewan. Tubuh yang dahulu dirawat, dibersihkan, dihias, dan dibanggakan, kini menjadi pemandangan yang mengerikan. Cacing tanah memakan daging, kulit, tulang, dan sumsum. Pada akhirnya hanya menjadi kenangan. Walaupun dahulu pernah kaya. Pernah menjadi penguasa. Pernah terkenal dan dihormati. Pada akhirnya hilang, ditelan bumi, menghadap Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.

Apa yang kekal? Semua akan sirna. Yang berkuasa mati. Yang kaya mati. Yang kuat mati. Apalagi orang yang lemah dan fakir. Tidak ada yang kekal kecuali iman dan amal saleh yang kita miliki.

مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ وَمَا عِندَ اللَّهِ بَاقٍ

“Apa yang ada di sisi kalian akan habis, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.”

Harta, jabatan, dan dunia akan sirna. Tetapi pahala dan amal yang diterima Allah itulah yang kekal.

Apa yang masih kita miliki?

Jika selama hidup kita pernah ikut membangun masjid, setiap orang yang shalat di dalamnya Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, Isya, tarawih, tahajud, witir—pahalanya terus mengalir tanpa putus. Jika kita mengajarkan Al-Qur’an, dan di bulan Ramadan ayat-ayat itu dibaca dan dikhatamkan, pahalanya menjadi cahaya di alam kubur. Jika kita memberi makan orang berbuka, menyantuni anak yatim, dan bersedekah di bulan Ramadan, itu akan menjadi penolong ketika kita sendirian.

Ramadan adalah kesempatan sebelum kesempatan itu habis, sebelum kita ditinggalkan Ramadan tanpa keberkahan. Jangan sampai Ramadan meninggalkan kita tanpa bekas taubat, tanpa sedekah, tanpa tilawah, dan tanpa air mata di sepertiga malam.

Semoga Ramadan ini menjadi saksi bahwa kita telah kembali kepada Allah dengan taubat yang sungguh-sungguh. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan dipertemukan kembali dengan Ramadan dalam keadaan yang lebih baik, atau diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah. Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ

Tidak ada komentar:

Bimbingan Calon Pengantin (Bimcatin) kepada pasangan calon pengantin Daryanto dan Dika Novia Pangestuti

  aporan Kegiatan Bimbingan Calon Pengantin (Bimwin/Bimcatin) P ada tanggal 3 Juni 2026, KUA Kecamatan Tegowanu melaksanakan kegiatan Bimbi...