Senin, 25 Mei 2026

Khutbah Idul Adha


الحمد لله الحمد لله الذي هدانا لهذا وما كنا لنهتدي لولا أن هدانا الله، نحمده سبحانه وتعالى ونستعينه ونستغفره ونتوب إليه، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له.
وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا محمدًا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

أما بعد

فيا عباد الله، أوصيكم ونفسي بتقوى الله فقد فاز المتقون.

Jamaah Sholat idul Adha rahimakumullah…

Tak terasa hari berganti.Tak lama lagi peristiwa agung itu kembali terulang.Peristiwa yang setiap tahun kita kenang dengan tetesan air mata, dengan takbir yang menggema, dengan hati yang bergetar mengingat pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘alaihimassalam.

Bukan peristiwa biasa…Tetapi peristiwa yang menguji cinta seorang hamba kepada Rabb-nya. Bayangkanlah… Seorang ayah yang puluhan tahun tidak memiliki anak.
Bukan satu tahun… Bukan dua tahun…Tetapi delapan puluh enam tahun lamanya menunggu keturunan. Pagi, siang, sore, dan malam ia berdoa:

﴿رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ﴾  “Ya Rabb, anugerahkanlah kepadaku anak yang saleh.” (QS. Ash-Shaffat: 100)

Doa itu terus dipanjatkan dengan linangan air mata. Betapa rindunya ia kepada seorang anak. Betapa besar harapannya untuk mendengar suara mungil memanggil dirinya sebagai ayah. Hingga akhirnya Allah mengabulkan doa itu.
Lahir seorang anak yang sangat dicintainya: Ismail ‘alaihissalam.

Namun ketika cinta itu mulai tumbuh, ketika kebahagiaan itu mulai sempurna, Allah menguji Nabi Ibrahim. Allah tidak meminta kambingnya. Allah tidak meminta untanya.
Allah tidak meminta hartanya. Tetapi Allah meminta sesuatu yang paling ia cintai. Allah meminta anak yang puluhan tahun ia nanti. Karena cinta kepada Allah tidak boleh dikalahkan oleh cinta kepada selain-Nya. Rasulullah bersabda:

«لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ»

“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai aku lebih ia cintai daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Sungguh berat ujian itu. Namun Nabi Ibrahim tidak membantah.
Beliau mendatangi putranya dengan hati yang hancur. Dengan suara bergetar beliau berkata:

﴿يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ﴾

“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu?” (QS. Ash-Shaffat: 102)

Kalimat itu bukan sekadar pertanyaan. Itu adalah tangisan seorang ayah.
Itu adalah ujian keimanan. Itu adalah pertaruhan antara cinta kepada anak dan cinta kepada Allah. Dan jawaban Ismail adalah jawaban yang mengguncang langit.

Ia tidak berkata: “Wahai Ibrahim…” Tidak. Ia menjawab dengan penuh kelembutan:

﴿يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ﴾ “Wahai ayahandaku tercinta…”

“Laksanakanlah apa yang diperintahkan Allah.”

Panggilan penuh kasih.

Panggilan seorang anak yang dibesarkan dengan makanan halal, dengan doa, dengan iman, dan dengan pendidikan tauhid.

Lalu Ismail berkata:

﴿سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ﴾

 “Engkau akan mendapatiku, insya Allah, termasuk orang-orang yang sabar.”
(QS. Ash-Shaffat: 102)

Perhatikan kalimatnya…

Ia tidak sombong.

Ia tidak berkata, “Aku pasti sabar.”

Tetapi ia berkata:

“Insya Allah…”

Karena orang beriman tidak pernah merasa hebat di hadapan Allah.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Sudah berapa tahun kita mengulang peristiwa ini?

Karena itu dinamakan Idul Adha.

“‘Id” artinya sesuatu yang terus kembali berulang.

Kalau usia kita empat puluh tahun, berarti empat puluh kali kita mendengar kisah ini.

Namun pertanyaannya…

Apakah anak-anak kita hari ini akan menjawab seperti jawaban Nabi Ismail?

Apakah anak-anak kita masih tunduk kepada Allah?

Apakah mereka masih mencintai shalat?

Apakah mereka masih bangga dengan Al-Qur’an?

Ataukah mereka justru malu kepada agama?

Inilah yang seharusnya membuat kita menangis di hari raya ini.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Anak-anak itu ibarat tanah subur.

Allah tidak menciptakan mereka kosong.

Rasulullah bersabda:

«كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ»

 


 “Setiap anak lahir dalam keadaan fitrah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Fitrah itu bukan kertas kosong.

Fitrah itu bukan jiwa tanpa arah.

Kata para ulama, fitrah adalah fitrah Islam.

Sebelum anak-anak itu lahir ke dunia, ruh mereka sudah bersaksi di hadapan Allah.

Allah berfirman:

﴿وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ شَهِدْنَا﴾
“Alastu birabbikum?”

“Bukankah Aku ini Tuhan kalian?”

“Balaa syahidna…”

“Benar, kami bersaksi.”


(QS. Al-A‘raf: 172)

Hari ini setelah khutbah ini selesai, nanti di dalam shalat kita akan kembali mengucapkan syahadat.

أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدًا رسول الله

Pagi, siang, sore, dan malam kita terus mengulang persaksian itu.

Tetapi pertanyaannya…

Apakah anak-anak kita juga masih memiliki keyakinan yang sama?

Inilah yang dahulu dikhawatirkan Nabi Ya‘qub ‘alaihissalam.

Menjelang wafatnya beliau bertanya kepada anak-anaknya:

﴿مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي﴾


“Apa yang kalian sembah setelah aku meninggal?” (QS. Al-Baqarah: 133)

Lihat…

Yang beliau khawatirkan bukan makanan anak-anaknya.

Karena rezeki sudah dijamin Allah.

Allah berfirman:

﴿وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا﴾


“Tidak ada satu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah yang menjamin rezekinya.” (QS. Hud: 6)

Cacing di dalam tanah tetap diberi makan oleh Allah.
Burung yang terbang di angkasa tetap diberi rezeki oleh Allah.

Tetapi yang dikhawatirkan para nabi adalah akidah anak-anaknya.

Apakah mereka istiqamah sampai akhir hayat?

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Ketika anak lahir, kita yang pertama kali membisikkan adzan dan iqamah ke telinganya.

Dengan suara lirih dan air mata kita ucapkan:

الله أكبر الله أكبر

أشهد أن لا إله إلا الله

Apa sebenarnya yang kita inginkan dari anak-anak itu?

Kita tidak berharap mereka hanya membangunkan rumah besar untuk kita.
Kita tidak berharap mereka sekadar memberi kemewahan dunia.

Yang kita harapkan hanyalah satu…

Kelak ketika tubuh kita terbujur kaku, ketika nyawa sampai di tenggorokan, ketika semua keluarga menangis di sekitar kita…

Kita ingin anak kita mendekat ke telinga kita lalu membisikkan:

لا إله إلا الله

Itulah kebahagiaan sejati seorang ayah dan ibu.

Tidak ada gunanya anak kaya raya tetapi jauh dari agama.
Tidak ada gunanya jabatan tinggi tetapi membangkang kepada Allah.

Karena yang kita minta dalam doa adalah:

﴿رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ﴾

“Ya Rabb kami, anugerahkan kepada kami pasangan dan keturunan yang menyejukkan mata.” (QS. Al-Furqan: 74)

Qurrata a‘yun…

Sejuk dipandang mata.

Bukan panas hati melihatnya.

Jangan sampai ketika kita membaca Al-Qur’an, anak kita justru sinis kepada agama.

Jangan sampai ketika kita shalat, mereka malah menertawakan ibadah.

Jangan sampai ketika kita mengangkat tangan berdoa, mereka menganggap agama hanya cerita masa lalu.

Tubuh mereka memang hidup…

Tetapi jika iman rusak, maka jiwanya telah hancur.

Lalu siapa yang merusaknya?

Apakah televisi?

Apakah internet?

Apakah lingkungan?

Jangan terlalu sibuk menyalahkan dunia luar.

Karena Rasulullah telah bersabda:

«فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ»

 “Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Maka renungkanlah…

Di mana kita ketika anak membutuhkan pendidikan agama?

Di mana kita ketika ia ingin menunjukkan hafalan surat pendeknya?

Di mana kita ketika ia membutuhkan pelukan dan kasih sayang?

Ketika anak kehilangan perhatian di rumah, ia akan mencari cinta di luar rumah.
Dan sering kali di situlah kehancurannya dimulai.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Harta sebanyak apa pun akhirnya akan ditinggalkan.

Tanah luas akan berganti nama pemiliknya.

Sertifikat rumah akan berpindah tangan.

Mobil mewah akan diwariskan.

Semua fana.

Rasulullah bersabda:

«يَقُولُ ابْنُ آدَمَ: مَالِي مَالِي، وَهَلْ لَكَ مِنْ مَالِكَ إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ»
“Ma akalta fa afnaita…”

“Apa yang engkau makan akan habis.”

“Wa ma labista fa ablaita…”


“Apa yang engkau pakai akan usang.”

“Wa ma tashaddaqta fa amdhaita.”

“Dan apa yang engkau sedekahkan, itulah yang kekal.”


(HR. Muslim)

Maka di hari Idul Adha ini mari kita belajar dari Ibrahim dan Ismail.

Mari kita didik anak-anak kita dengan iman.

Mari kita hadir untuk mereka sebelum terlambat.

Mari kita tanamkan tauhid sebelum dunia merusak hati mereka.

Karena sesungguhnya warisan terbaik bukan harta…

Tetapi anak saleh yang mendoakan orang tuanya sampai liang kubur.

Rasulullah bersabda:

«إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ»
“Apabila manusia meninggal dunia maka terputus amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم، أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

 

KHUTBAH IDUL ADHA: TANGIS IBRAHIM, UJIAN CINTA, LAN PENDIDIKAN ANAK ING ZAMAN SAK IKI



الحمد لله الحمد لله الذي هدانا لهذا وما كنا لنهتدي لولا أن هدانا الله، نحمده سبحانه وتعالى ونستعينه ونستغفره ونتوب إليه، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له.
وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا محمدًا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

أما بعد…

فيا عباد الله، أوصيكم ونفسي بتقوى الله فقد فاز المتقون.

Jamaah Sholat Idul Adha rahimakumullah…

Mboten kroso dinten sampun berganti. Lan mboten dangu malih, peristiwa ageng menika badhe terulang malih. Peristiwa ingkang saben tahun kita kenang kanthi tetesan air mata, kanthi gema takbir, kanthi ati ingkang bergetar nalikane ngelingi pengorbanan Nabi Ibrahim lan Nabi Ismail ‘alaihimassalam.

Menika dudu peristiwa biasa…

Nanging peristiwa ingkang nguji sepinten ageng cintaipun seorang hamba dhateng Rabbipun.

Coba panjenengan bayangaken…

Wonten seorang bapak ingkang puluhan tahun mboten kagungan putra.

Mboten setahun… Mboten kalih tahun… Nanging wolung puluh enem tahun ngantos ngentosi keturunan.

Esuk, siyang, sonten, lan dalu beliau terus ndedonga:

﴿رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ﴾

“Ya Rabb, paringana kula anak ingkang sholeh.” (QS. Ash-Shaffat: 100)

Donga menika terus dipun panjataken kanthi linangan air mata. Sepinten ageng kerinduanipun dhateng seorang anak. Sepinten ageng pengajeng-ajengipun kangge mireng swanten alit ingkang nyeluk piyambakipun kanthi panggilan “ayah”.

Ngantos pungkasane Allah ngabulaken donga menika.

Lairlah seorang anak ingkang sanget dipun tresnani: Nabi Ismail ‘alaihissalam.

Nanging nalikane rasa cinta menika wiwit tumbuh, nalikane kebahagiaan menika sampurna, Allah nguji Nabi Ibrahim.

Allah mboten nyuwun kambingipun.

Allah mboten nyuwun untanipun.


Allah mboten nyuwun hartanipun.

Nanging Allah nyuwun perkara ingkang paling dipun tresnani. Allah nyuwun anak ingkang puluhan tahun dipun nanti.

Amargi cinta dhateng Allah mboten oleh kalah kaliyan cinta dhateng selain-Nya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ»

“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai aku lebih ia cintai daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jamaah Sholat Idul Adha rahimakumullah…

Sungguh abot ujian menika. Nanging Nabi Ibrahim mboten mbantah. Beliau sowan dhateng putranipun kanthi ati ingkang remuk.

Kanthi suara gemeter beliau ngendika:

﴿يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ﴾

“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu?” (QS. Ash-Shaffat: 102)

Kalimat menika mboten namung pertanyaan.

Menika tangisan seorang bapak.

Menika ujian keimanan.

Menika pertaruhan antawis cinta dhateng anak lan cinta dhateng Allah.

Lan jawaban Nabi Ismail menika jawaban ingkang mengguncang langit.

Beliau mboten matur: “Wahai Ibrahim…” Mboten.

Nanging beliau matur kanthi lembut:

﴿يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ﴾

“Wahai ayahandaku tercinta, lampahana nopo ingkang dipun perintahaken Allah.”

Panggilan kebak kasih sayang.

Panggilan seorang anak ingkang dipun besarken kanthi makanan halal, kanthi donga, kanthi iman, lan kanthi pendidikan tauhid.

Lajeng Nabi Ismail matur:

﴿سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ﴾

“Panjenengan badhe manggih kula, insya Allah, kalebet tiyang ingkang sabar.”
(QS. Ash-Shaffat: 102)

Perhatikan kalimatipun…

Beliau mboten sombong.

Beliau mboten matur: “Kula pasti sabar.”

Nanging beliau matur:

“Insya Allah…”

Amargi tiyang mukmin mboten nate rumangsa hebat wonten ngarsanipun Allah.

Jamaah Sholat Idul Adha rahimakumullah…

Sampun pinten tahun kita ngulang peristiwa menika?

Amargi menika dipun sebat Idul Adha.

“‘Id” tegesipun sesuatu ingkang terus mbaleni.

Menawi umur kita sekawan puluh tahun, tegesipun kita sampun sekawan puluh kali mireng kisah menika.

Nanging pertanyaanipun…

Nopo anak-anak kita sakniki tasih kados Nabi Ismail?

Nopo tasih tunduk dhateng Allah?

Nopo tasih remen shalat?

Nopo tasih bangga kaliyan Al-Qur’an?

Utawi malah isin kaliyan agama?

Menika ingkang kedahipun ndadosaken kita nangis wonten dinten raya menika.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Anak-anak menika ibarat tanah subur. Allah mboten nyiptakaken piyambakipun kosong.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ»

“Saben anak lair wonten ing keadaan fitrah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Fitrah menika dudu kertas kosong.

Fitrah menika fitrah Islam.

Sakderenge anak-anak menika lair wonten donya, ruhipun sampun bersaksi wonten ngarsanipun Allah.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ شَهِدْنَا﴾

“Bukankah Aku ini Tuhan kalian?”


Maka seluruh ruh menjawab:

“Benar, kami bersaksi.” (QS. Al-A‘raf: 172)

Dinten menika sasampunipun khutbah, kita badhe ngulang malih persaksian menika:

أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدًا رسول الله

Nanging pertanyaanipun…

Nopo anak-anak kita ugi tasih kagungan keyakinan ingkang sami?

Menika ingkang dipun khawatiraken Nabi Ya‘qub ‘alaihissalam.

Nalika menjelang wafatipun beliau bertanya:

﴿مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي﴾

“Apa yang kalian sembah setelah aku meninggal?” (QS. Al-Baqarah: 133)

Perhatikan…
Ingkang dipun khawatiraken para nabi dudu panganan anak-anakipun. Amargi rezeki sampun dijamin Allah.

﴿وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا﴾

“Tidak ada satu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah yang menjamin rezekinya.”
(QS. Hud: 6)

Cacing wonten njero lemah dipun paringi pangan dening Allah. Manuk ingkang mabur wonten langit ugi dipun paringi rezeki dening Allah.

Nanging ingkang dipun khawatiraken para nabi menika akidah anak-anakipun.

Nopo tasih istiqamah ngantos akhir hayat kanthi kalimat:

لا إله إلا الله

Jamaah Sholat Idul Adha rahimakumullah…

Nalika anak lair, kita ingkang pertama mbisikaken adzan lan iqamah wonten kupingipun.

Kanthi suara lirih lan air mata kita matur:

الله أكبر الله أكبر

أشهد أن لا إله إلا الله

Sakjane nopo ingkang kita karepaken saking anak-anak menika?

Kita mboten ngarep-arep piyambakipun namung damelaken griya ageng. Kita mboten ngarep-arep kemewahan dunya.

Nanging ingkang kita pengen namung setunggal…

Besok nalikane awak kita terbujur kaku, nalikane nyawa sampun wonten tenggorokan, nalikane sedaya keluarga nangis wonten sekitar kita…

Kita pengen anak kita nyedhak wonten kuping kita lan mbisikaken:

لا إله إلا الله

Menika kebahagiaan sejati seorang bapak lan ibu.

Mboten wonten gunanipun anak sugih raya nanging tebih saking agama. Mboten wonten gunanipun jabatan tinggi nanging mbangkang dhateng Allah.

Amargi ingkang kita suwun wonten donga menika:

﴿رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ﴾

“Ya Rabb kami, paringana pasangan lan keturunan ingkang menyejukkan mata.”
(QS. Al-Furqan: 74)

Qurrata a‘yun…

Sejuk dipandang mata. Mboten damel panas ati.

Sampun ngantos nalika kita maos Al-Qur’an, anak malah sinis kaliyan agama. Sampun ngantos nalika kita shalat, piyambakipun malah ngguyu lan ngece ibadah.

Awakipun pancen urip… Nanging menawi imanipun rusak, sejatinipun jiwane sampun hancur.

Lajeng sinten ingkang merusak? Televisi? Internet? Lingkungan?

Sampun kesusu nyalahaken dunia luar.

Amargi Rasulullah ﷺ sampun bersabda:

«فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ»

“Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
Maka renungkanlah…

Ning pundi kita nalikane anak butuh pendidikan agama?

Ning pundi kita nalikane anak pengen menunjukkan hafalan surat pendekipun?
Ning pundi kita nalikane anak butuh pelukan lan kasih sayang?

Nalika anak kehilangan perhatian wonten griya, piyambakipun badhe golek cinta wonten njawi. Lan saking mriki kehancuran menika dimulai.

Jamaah Sholat Idul Adha rahimakumullah…

Harta sepinten mawon pungkasane badhe ditinggal.

Tanah amba badhe berganti nama pemilikipun.


Sertifikat griya badhe berpindah tangan.

Mobil mewah badhe diwarisaken.

Sedaya fana.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«يَقُولُ ابْنُ آدَمَ: مَالِي مَالِي، وَهَلْ لَكَ مِنْ مَالِكَ إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ»

“Apa yang engkau makan akan habis. Apa yang engkau pakai akan usang. Dan apa yang engkau sedekahkan, itulah yang kekal.” (HR. Muslim)

Maka wonten dinten Idul Adha menika, monggo kita belajar saking Nabi Ibrahim lan Nabi Ismail.

Monggo kita didik anak-anak kita kanthi iman.

Monggo kita hadir kangge mereka sakderenge terlambat.

Monggo kita tanamkan tauhid sakderenge dunia merusak ati mereka.

Amargi sejatinipun warisan terbaik menika dudu harta…

Nanging anak sholeh ingkang terus ndedongakaken tiyang sepahipun ngantos liang kubur.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ»

“Menawi manusia sampun meninggal dunia, terputus amalipun kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu ingkang bermanfaat, lan anak sholeh ingkang ndedongakaken piyambakipun.”
(HR. Muslim)

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم، أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.





Kamis, 21 Mei 2026

PELAYANAN PEMBUATAN DUPLIKAT BUKU NIKAH


Pada tanggal 20 Mei 2026, telah dilaksanakan pelayanan pembuatan duplikat buku nikah atas nama Bagas Ariyadi dan Nesa Amelia, warga Tegowanu Kulon, Kecamatan Tegowanu, Kabupaten Grobogan.

Pelayanan ini dilakukan karena buku nikah milik yang bersangkutan dinyatakan hilang. Oleh sebab itu, pasangan tersebut mengajukan permohonan penerbitan duplikat buku nikah sebagai dokumen resmi pengganti.

Adapun persyaratan yang diperlukan dalam pembuatan duplikat buku nikah antara lain:
Surat permohonan pembuatan duplikat buku nikah.
Surat keterangan kehilangan dari kantor kepolisian.
Fotokopi identitas yang diperlukan.
Materai.
Pas foto ukuran 2×3 sebanyak 2 lembar.

Pelayanan ini diharapkan dapat membantu masyarakat dalam melengkapi administrasi kependudukan dan dokumen pernikahan secara tertib sesuai ketentuan yang berlaku.


Takbir Mursal dan Muqayyad dalam Kitab Nihâyatuz Zain Karya Imam Nawawi Al-Bantani



Hari raya Idul Fitri dan Idul Adha merupakan syiar besar dalam Islam yang dianjurkan untuk dihidupkan dengan memperbanyak takbir. Dalam kitab Nihâyatuz Zain halaman 109, Imam Nawawi Al-Bantani menjelaskan bahwa takbir pada hari raya terbagi menjadi dua macam, yaitu takbir mursal dan takbir muqayyad.

1. Takbir Mursal

Takbir mursal adalah takbir yang tidak terikat dengan sholat tertentu. Takbir ini disunnahkan sejak terbenamnya matahari pada malam Idul Fitri dan Idul Adha. Takbir dapat dikumandangkan di rumah, masjid, mushala, jalan, pasar, dan tempat-tempat lainnya sebagai bentuk mengagungkan Allah SWT serta menampakkan syiar Islam.

Allah SWT berfirman:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan hendaklah kamu menyempurnakan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Kesunnahan takbir mursal berlangsung sampai imam masuk untuk melaksanakan sholat Id. Apabila seseorang melaksanakan sholat Id sendirian, maka kesunnahan takbir berlangsung sampai ia melakukan takbiratul ihram, meskipun ia mengakhirkan sholatnya hingga waktu zawal (masuk waktu Dzuhur).

Sedangkan bagi orang yang tidak hendak melaksanakan sholat Id, maka kesunnahan takbir berlangsung sampai waktu zawal.

Keutamaan Takbir Mursal

Para ulama menjelaskan bahwa takbir mursal pada Idul Fitri lebih utama dibandingkan takbir mursal pada Idul Adha. Sebab, takbir Idul Fitri berkaitan dengan kesempurnaan ibadah puasa Ramadhan yang merupakan rukun Islam dan ibadah besar yang penuh ampunan.

2. Takbir Muqayyad

Takbir muqayyad adalah takbir yang dibaca setelah sholat. Takbir ini khusus terdapat pada Idul Adha dan hari-hari Tasyrik.

Takbir muqayyad dibaca setelah: Sholat fardhu, Sholat sunnah, Sholat jenazah. Waktunya dimulai sejak selesai sholat Subuh pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) hingga terbenamnya matahari pada akhir hari Tasyrik (13 Dzulhijjah).

Jumlah sholat maktubah yang disunnahkan membaca takbir setelahnya adalah 23 sholat.

Mana yang Didahulukan: Wirid atau Takbir?

Apabila setelah sholat terdapat pilihan antara membaca wirid atau langsung membaca takbir, maka yang lebih didahulukan adalah wirid. Sebab, wirid termasuk syi‘ârul waqti (syiar yang berkaitan langsung dengan waktu sholat).

Namun setelah selesai wirid, tetap dianjurkan membaca takbir sebagai bentuk menghidupkan syiar Idul Adha.

Perbedaan Takbir Mursal dan Muqayyad

Perlu dipahami bahwa:

  • Takbir mursal ada pada Idul Fitri dan Idul Adha.
  • Takbir muqayyad hanya ada pada Idul Adha.

Karena itu, setelah sholat Idul Fitri tidak disunnahkan lagi membaca takbir, sebab tidak terdapat takbir muqayyad pada Idul Fitri.

Sedangkan setelah sholat Idul Adha tetap disunnahkan membaca takbir, karena adanya sunnah takbir muqayyad yang berlangsung hingga akhir hari Tasyrik.

Keutamaan Takbir Muqayyad

Takbir muqayyad pada Idul Adha memiliki keutamaan yang sangat besar dan lebih utama dibandingkan takbir lainnya. Sebab, ia menjadi syiar agung pada hari-hari kurban dan hari Tasyrik, hari-hari yang disebut Rasulullah SAW sebagai hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda:

أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرِ اللَّهِ

“Hari-hari Tasyrik adalah hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah.” (HR. Muslim)

Oleh karena itu, kaum muslimin dianjurkan memperbanyak takbir, tahmid, dan dzikir pada hari-hari tersebut sebagai bentuk pengagungan kepada Allah SWT.

 Lafadz Takbir 

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Memahami pembagian takbir mursal dan muqayyad membantu kita dalam menghidupkan syiar hari raya sesuai tuntunan para ulama. Takbir bukan sekadar tradisi, tetapi bagian dari ibadah dan pengagungan kepada Allah SWT.

Semoga Allah SWT memberikan taufik kepada kita untuk menghidupkan sunnah-sunnah hari raya serta menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang selalu mengagungkan-Nya.

Sumber:
Kitab Nihâyatuz Zain, halaman 109 karya Imam Nawawi Al-Bantani.

 


Selasa, 19 Mei 2026

Bimcatin 19 Mei Via Zoom MIFTAKHUL LISAN dan PUTRI DIYAN NUR AINI

 



Pada tanggal 19 Mei 2026 telah dilaksanakan kegiatan Bimbingan Perkawinan Calon Pengantin (Bimcatin) yang diselenggarakan oleh Kantor Urusan Agama Kecamatan Tegowanu secara daring melalui media Zoom Meeting. Kegiatan ini diikuti oleh pasangan calon pengantin, yaitu MIFTAKHUL LISAN dan PUTRI DIYAN NUR AINI.

Kegiatan Bimcatin dilaksanakan sebagai bentuk pembekalan dan persiapan bagi calon pengantin sebelum memasuki kehidupan rumah tangga. Dalam kegiatan ini disampaikan berbagai materi penting mengenai tujuan pernikahan dalam Islam, hak dan kewajiban suami istri, membangun komunikasi yang baik dalam keluarga, menjaga keharmonisan rumah tangga, serta pentingnya membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.

Acara diawali dengan pembukaan oleh moderator, dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh narasumber dari KUA Kecamatan Tegowanu. Selama kegiatan berlangsung, peserta mengikuti kegiatan dengan baik, aktif menyimak materi, dan berpartisipasi dalam sesi diskusi maupun tanya jawab.

Melalui kegiatan Bimcatin ini diharapkan calon pengantin memiliki kesiapan lahir dan batin dalam membangun rumah tangga yang harmonis, penuh tanggung jawab, dan senantiasa berlandaskan nilai-nilai agama. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi agar pasangan mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan rumah tangga dengan bijaksana dan saling mendukung satu sama lain.



Kegiatan berlangsung dengan lancar, tertib, dan penuh khidmat hingga acara selesai.

Senin, 18 Mei 2026

Tujuan Rumah Tangga dalam Islam: Membangun Sakinah, Mawaddah, Rahmah Menuju Kebahagiaan Dunia dan Akhirat

 


Rumah tangga dalam Islam bukan sekadar hubungan antara laki-laki dan perempuan yang disahkan melalui akad nikah. Pernikahan juga bukan hanya sarana memenuhi kebutuhan biologis, mencari kenyamanan hidup, memiliki rumah yang bagus, kendaraan yang layak, ataupun mengumpulkan harta dunia semata. Semua itu hanyalah bagian kecil dari perjalanan rumah tangga, bukan tujuan akhirnya.

Sebab setelah semua kebutuhan dunia terpenuhi, manusia tetap akan bertanya dalam hatinya: “Setelah ini untuk apa? Apa tujuan sebenarnya dari kehidupan rumah tangga?”

Manusia memiliki keterbatasan dalam memahami dirinya sendiri. Akal manusia terbatas, rencana manusia terbatas, dan gambaran tentang masa depan pun terbatas. Karena itu, konsep rumah tangga yang benar, lengkap, dan mampu mengantarkan kebahagiaan sampai akhirat tidak mungkin hanya disusun berdasarkan logika manusia semata. Konsep itu harus kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai pencipta manusia.

Allah yang menciptakan manusia paling mengetahui kebutuhan manusia, mengetahui kelemahan manusia, memahami persoalan kehidupan manusia, dan memberikan solusi terbaik bagi kehidupan rumah tangga. Allah berfirman:

أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

“Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (apa yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui.”(QS. Al-Mulk: 14)

Karena itu, rumah tangga yang dibangun di atas petunjuk Allah akan memiliki arah yang jelas, bukan hanya bahagia sesaat di dunia tetapi juga menjadi jalan menuju kebahagiaan akhirat.

Allah menjelaskan tujuan besar pernikahan dalam Al-Qur’an:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri supaya kamu mendapatkan ketenangan padanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang.” (QS. Ar-Rum: 21)

Ayat ini menjelaskan tiga fondasi besar rumah tangga Islami:

1. Sakinah (Ketenangan)

Sakinah bukan berarti rumah tangga tanpa masalah. Sakinah adalah ketenangan yang Allah hadirkan setelah seseorang mampu menghadapi ujian dengan iman dan ketakwaan.

Rumah tangga pasti memiliki ujian: perbedaan pendapat, persoalan ekonomi, pengasuhan anak, komunikasi, hingga persoalan emosi. Bahkan rumah tangga Rasulullah yang paling mulia pun tidak lepas dari ujian. Namun setiap masalah dihadapi dengan ilmu, kesabaran, dan petunjuk wahyu.

Kata sakinah berasal dari ketenangan yang menetap di dalam jiwa. Berbeda dengan ketenangan sementara, sakinah adalah keteguhan hati yang membuat seseorang mampu menghadapi persoalan dengan tenang dan bijaksana.

Allah berfirman:

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ

“Dialah yang menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin.”(QS. Al-Fath: 4)

Maka sakinah bukan sekadar hasil kemampuan manusia, tetapi anugerah Allah kepada hamba yang dekat kepada-Nya.

2. Mawaddah (Cinta dan Kecukupan)

Mawaddah adalah cinta yang tampak dalam perhatian, pemberian, tanggung jawab, dan usaha membahagiakan pasangan. Di dalamnya termasuk kecukupan materi yang Allah berikan sehingga rumah tangga menjadi nyaman dan lapang. Karena itu, mencari nafkah dalam Islam bukan hanya urusan dunia, tetapi juga ibadah. Rasulullah bersabda:

وَإِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا أُجِرْتَ بِهَا

“Tidaklah engkau memberikan nafkah dengan mengharap ridha Allah melainkan engkau akan mendapatkan pahala karenanya.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Maka suami yang bekerja dengan niat ibadah, istri yang menjaga rumah tangga dengan niat ibadah, semuanya bernilai pahala di sisi Allah.

3. Rahmah (Kasih Sayang)

Rahmah adalah kasih sayang mendalam yang membuat suami istri tetap bertahan dalam kebaikan walaupun ada kekurangan dan perbedaan.

Cinta bisa naik turun, tetapi rahmah membuat pasangan tetap saling menjaga. Ketika salah satu lemah, yang lain menguatkan. Ketika ada kesalahan, diselesaikan dengan hikmah dan kelembutan.

Rasulullah bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya.” (HR. Tirmidzi)

Hadis ini menunjukkan bahwa ukuran kebaikan seseorang bukan hanya di luar rumah, tetapi terutama bagaimana ia memperlakukan keluarganya sendiri.

Rumah Tangga Adalah Ibadah

Ketika seseorang memahami bahwa rumah tangga adalah ibadah, maka ia akan menjaga rumah tangganya sebagaimana ia menjaga ibadah lainnya.

Pernikahan memiliki rukun dan syarat. Setelah menikah pun ada aturan halal dan haram yang harus dijaga. Suami menjaga tanggung jawabnya, istri menjaga amanahnya, orang tua menjaga pendidikan anak-anaknya. Semua akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Rasulullah bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itu, rumah tangga tidak cukup dibangun hanya dengan cinta, tetapi harus dibangun dengan iman dan ketakwaan.

Ketakwaan Adalah Kunci Kebahagiaan Rumah Tangga

Banyak rumah tangga yang secara materi berkecukupan tetapi tidak bahagia. Sebaliknya, ada keluarga sederhana namun penuh ketenangan. Penyebab utamanya adalah ketakwaan.

Allah menjanjikan solusi dan jalan keluar bagi keluarga yang menjaga ketakwaan:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Talaq: 2–3)

Ketakwaan itu diwujudkan dengan menjaga shalat, membaca Al-Qur’an, memperbanyak dzikir, saling menasihati dalam kebaikan, dan menghadirkan suasana ibadah di dalam rumah.

Rumah yang dipenuhi ibadah akan berbeda suasananya dengan rumah yang jauh dari Allah. Hati penghuninya lebih mudah tenang, persoalan lebih mudah diselesaikan, dan anak-anak lebih mudah diarahkan kepada kebaikan.

Tujuan Akhir Rumah Tangga: Berkumpul Kembali di Surga

Tujuan tertinggi rumah tangga dalam Islam bukan hanya bersama di dunia, tetapi juga bersama kembali di akhirat. Allah berfirman:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ

“Dan orang-orang yang beriman, dan anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka.” (QS. At-Tur: 21)

Ayat ini menunjukkan bahwa keluarga yang dibangun dengan iman dan amal saleh akan dipertemukan kembali oleh Allah di surga.

Karena itu, rumah tangga bukan hanya tentang hidup bersama di dunia beberapa puluh tahun, tetapi perjalanan panjang menuju ridha Allah dan kebahagiaan abadi di akhirat.

 



Bimbingan Calon Pengantin (Bimcatin) kepada pasangan calon pengantin Daryanto dan Dika Novia Pangestuti

  aporan Kegiatan Bimbingan Calon Pengantin (Bimwin/Bimcatin) P ada tanggal 3 Juni 2026, KUA Kecamatan Tegowanu melaksanakan kegiatan Bimbi...