الحمد لله الحمد لله الذي هدانا لهذا وما كنا لنهتدي لولا أن هدانا
الله، نحمده سبحانه وتعالى ونستعينه ونستغفره ونتوب إليه، ونعوذ بالله من شرور
أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له.
وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن
سيدنا محمدًا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه
أجمعين.
أما بعد…
فيا عباد الله، أوصيكم ونفسي بتقوى الله فقد فاز المتقون.
Jamaah
Sholat idul Adha rahimakumullah…
Tak
terasa hari berganti.Tak lama lagi peristiwa agung itu kembali terulang.Peristiwa
yang setiap tahun kita kenang dengan tetesan air mata, dengan takbir yang
menggema, dengan hati yang bergetar mengingat pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi
Ismail ‘alaihimassalam.
Bukan
peristiwa biasa…Tetapi peristiwa yang menguji cinta seorang hamba kepada
Rabb-nya. Bayangkanlah… Seorang ayah yang puluhan tahun tidak memiliki anak.
Bukan satu tahun… Bukan dua tahun…Tetapi delapan puluh enam tahun lamanya
menunggu keturunan. Pagi, siang, sore, dan malam ia berdoa:
﴿رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ﴾ “Ya Rabb, anugerahkanlah kepadaku anak yang saleh.” (QS.
Ash-Shaffat: 100)
Doa
itu terus dipanjatkan dengan linangan air mata. Betapa rindunya ia kepada
seorang anak. Betapa besar harapannya untuk mendengar suara mungil memanggil
dirinya sebagai ayah. Hingga akhirnya Allah mengabulkan doa itu.
Lahir seorang anak yang sangat dicintainya: Ismail ‘alaihissalam.
Namun
ketika cinta itu mulai tumbuh, ketika kebahagiaan itu mulai sempurna, Allah
menguji Nabi Ibrahim. Allah tidak meminta kambingnya. Allah tidak meminta
untanya.
Allah tidak meminta hartanya. Tetapi Allah meminta sesuatu yang paling ia
cintai. Allah meminta anak yang puluhan tahun ia nanti. Karena cinta kepada
Allah tidak boleh dikalahkan oleh cinta kepada selain-Nya. Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ
وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ»
“Tidak
sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai aku lebih ia cintai
daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ma’asyiral
muslimin rahimakumullah…
Sungguh
berat ujian itu. Namun Nabi Ibrahim tidak membantah.
Beliau mendatangi putranya dengan hati yang hancur. Dengan suara bergetar
beliau berkata:
﴿يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ
فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ﴾
“Wahai
anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka
pikirkanlah bagaimana pendapatmu?” (QS. Ash-Shaffat: 102)
Kalimat
itu bukan sekadar pertanyaan. Itu adalah tangisan seorang ayah.
Itu adalah ujian keimanan. Itu adalah pertaruhan antara cinta kepada anak dan
cinta kepada Allah. Dan jawaban Ismail adalah jawaban yang mengguncang langit.
Ia
tidak berkata: “Wahai Ibrahim…” Tidak. Ia menjawab dengan penuh kelembutan:
﴿يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ﴾ “Wahai
ayahandaku tercinta…”
“Laksanakanlah
apa yang diperintahkan Allah.”
Panggilan
penuh kasih.
Panggilan
seorang anak yang dibesarkan dengan makanan halal, dengan doa, dengan iman, dan
dengan pendidikan tauhid.
Lalu
Ismail berkata:
﴿سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ﴾
“Engkau akan mendapatiku, insya Allah,
termasuk orang-orang yang sabar.”
(QS. Ash-Shaffat: 102)
Perhatikan
kalimatnya…
Ia
tidak sombong.
Ia
tidak berkata, “Aku pasti sabar.”
Tetapi
ia berkata:
“Insya
Allah…”
Karena
orang beriman tidak pernah merasa hebat di hadapan Allah.
Ma’asyiral
muslimin rahimakumullah…
Sudah
berapa tahun kita mengulang peristiwa ini?
Karena
itu dinamakan Idul Adha.
“‘Id”
artinya sesuatu yang terus kembali berulang.
Kalau
usia kita empat puluh tahun, berarti empat puluh kali kita mendengar kisah ini.
Namun
pertanyaannya…
Apakah
anak-anak kita hari ini akan menjawab seperti jawaban Nabi Ismail?
Apakah
anak-anak kita masih tunduk kepada Allah?
Apakah
mereka masih mencintai shalat?
Apakah
mereka masih bangga dengan Al-Qur’an?
Ataukah
mereka justru malu kepada agama?
Inilah
yang seharusnya membuat kita menangis di hari raya ini.
Ma’asyiral
muslimin rahimakumullah…
Anak-anak
itu ibarat tanah subur.
Allah
tidak menciptakan mereka kosong.
Rasulullah
ﷺ bersabda:
«كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ»
“Setiap anak lahir dalam keadaan
fitrah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Fitrah
itu bukan kertas kosong.
Fitrah
itu bukan jiwa tanpa arah.
Kata
para ulama, fitrah adalah fitrah Islam.
Sebelum
anak-anak itu lahir ke dunia, ruh mereka sudah bersaksi di hadapan Allah.
Allah
berfirman:
﴿وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ
ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ
قَالُوا بَلَىٰ شَهِدْنَا﴾
“Alastu birabbikum?”
“Bukankah
Aku ini Tuhan kalian?”
“Balaa
syahidna…”
“Benar,
kami bersaksi.”
(QS. Al-A‘raf: 172)
Hari
ini setelah khutbah ini selesai, nanti di dalam shalat kita akan kembali
mengucapkan syahadat.
أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدًا رسول الله
Pagi,
siang, sore, dan malam kita terus mengulang persaksian itu.
Tetapi
pertanyaannya…
Apakah
anak-anak kita juga masih memiliki keyakinan yang sama?
Inilah
yang dahulu dikhawatirkan Nabi Ya‘qub ‘alaihissalam.
Menjelang
wafatnya beliau bertanya kepada anak-anaknya:
﴿مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي﴾
“Apa yang kalian sembah setelah aku meninggal?” (QS. Al-Baqarah: 133)
Lihat…
Yang
beliau khawatirkan bukan makanan anak-anaknya.
Karena
rezeki sudah dijamin Allah.
Allah
berfirman:
﴿وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ
رِزْقُهَا﴾
“Tidak ada satu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah yang menjamin
rezekinya.” (QS. Hud: 6)
Cacing
di dalam tanah tetap diberi makan oleh Allah.
Burung yang terbang di angkasa tetap diberi rezeki oleh Allah.
Tetapi
yang dikhawatirkan para nabi adalah akidah anak-anaknya.
Apakah
mereka istiqamah sampai akhir hayat?
Ma’asyiral
muslimin rahimakumullah…
Ketika
anak lahir, kita yang pertama kali membisikkan adzan dan iqamah ke telinganya.
Dengan
suara lirih dan air mata kita ucapkan:
الله أكبر الله أكبر
أشهد أن لا إله إلا الله
Apa
sebenarnya yang kita inginkan dari anak-anak itu?
Kita
tidak berharap mereka hanya membangunkan rumah besar untuk kita.
Kita tidak berharap mereka sekadar memberi kemewahan dunia.
Yang
kita harapkan hanyalah satu…
Kelak
ketika tubuh kita terbujur kaku, ketika nyawa sampai di tenggorokan, ketika
semua keluarga menangis di sekitar kita…
Kita
ingin anak kita mendekat ke telinga kita lalu membisikkan:
لا إله إلا الله
Itulah
kebahagiaan sejati seorang ayah dan ibu.
Tidak
ada gunanya anak kaya raya tetapi jauh dari agama.
Tidak ada gunanya jabatan tinggi tetapi membangkang kepada Allah.
Karena
yang kita minta dalam doa adalah:
﴿رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ
أَعْيُنٍ﴾
“Ya
Rabb kami, anugerahkan kepada kami pasangan dan keturunan yang menyejukkan
mata.” (QS. Al-Furqan: 74)
Qurrata
a‘yun…
Sejuk
dipandang mata.
Bukan
panas hati melihatnya.
Jangan
sampai ketika kita membaca Al-Qur’an, anak kita justru sinis kepada agama.
Jangan
sampai ketika kita shalat, mereka malah menertawakan ibadah.
Jangan
sampai ketika kita mengangkat tangan berdoa, mereka menganggap agama hanya
cerita masa lalu.
Tubuh
mereka memang hidup…
Tetapi
jika iman rusak, maka jiwanya telah hancur.
Lalu
siapa yang merusaknya?
Apakah
televisi?
Apakah
internet?
Apakah
lingkungan?
Jangan
terlalu sibuk menyalahkan dunia luar.
Karena
Rasulullah telah bersabda:
«فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ
يُمَجِّسَانِهِ»
“Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya
Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Maka
renungkanlah…
Di
mana kita ketika anak membutuhkan pendidikan agama?
Di
mana kita ketika ia ingin menunjukkan hafalan surat pendeknya?
Di
mana kita ketika ia membutuhkan pelukan dan kasih sayang?
Ketika
anak kehilangan perhatian di rumah, ia akan mencari cinta di luar rumah.
Dan sering kali di situlah kehancurannya dimulai.
Ma’asyiral
muslimin rahimakumullah…
Harta
sebanyak apa pun akhirnya akan ditinggalkan.
Tanah
luas akan berganti nama pemiliknya.
Sertifikat
rumah akan berpindah tangan.
Mobil
mewah akan diwariskan.
Semua
fana.
Rasulullah
ﷺ bersabda:
«يَقُولُ ابْنُ آدَمَ: مَالِي مَالِي، وَهَلْ لَكَ مِنْ مَالِكَ
إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ
فَأَمْضَيْتَ»
“Ma akalta fa afnaita…”
“Apa
yang engkau makan akan habis.”
“Wa
ma labista fa ablaita…”
“Apa yang engkau pakai akan usang.”
“Wa
ma tashaddaqta fa amdhaita.”
“Dan
apa yang engkau sedekahkan, itulah yang kekal.”
(HR. Muslim)
Maka
di hari Idul Adha ini mari kita belajar dari Ibrahim dan Ismail.
Mari
kita didik anak-anak kita dengan iman.
Mari
kita hadir untuk mereka sebelum terlambat.
Mari
kita tanamkan tauhid sebelum dunia merusak hati mereka.
Karena
sesungguhnya warisan terbaik bukan harta…
Tetapi
anak saleh yang mendoakan orang tuanya sampai liang kubur.
Rasulullah
ﷺ bersabda:
«إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ
ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ
يَدْعُو لَهُ»
“Apabila manusia meninggal dunia maka terputus amalnya kecuali tiga perkara:
sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR.
Muslim)
بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات
والذكر الحكيم، أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم فاستغفروه إنه هو
الغفور الرحيم.

.jpeg)


