Kamis, 21 Mei 2026

Takbir Mursal dan Muqayyad dalam Kitab Nihâyatuz Zain Karya Imam Nawawi Al-Bantani



Hari raya Idul Fitri dan Idul Adha merupakan syiar besar dalam Islam yang dianjurkan untuk dihidupkan dengan memperbanyak takbir. Dalam kitab Nihâyatuz Zain halaman 109, Imam Nawawi Al-Bantani menjelaskan bahwa takbir pada hari raya terbagi menjadi dua macam, yaitu takbir mursal dan takbir muqayyad.

1. Takbir Mursal

Takbir mursal adalah takbir yang tidak terikat dengan sholat tertentu. Takbir ini disunnahkan sejak terbenamnya matahari pada malam Idul Fitri dan Idul Adha. Takbir dapat dikumandangkan di rumah, masjid, mushala, jalan, pasar, dan tempat-tempat lainnya sebagai bentuk mengagungkan Allah SWT serta menampakkan syiar Islam.

Allah SWT berfirman:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan hendaklah kamu menyempurnakan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Kesunnahan takbir mursal berlangsung sampai imam masuk untuk melaksanakan sholat Id. Apabila seseorang melaksanakan sholat Id sendirian, maka kesunnahan takbir berlangsung sampai ia melakukan takbiratul ihram, meskipun ia mengakhirkan sholatnya hingga waktu zawal (masuk waktu Dzuhur).

Sedangkan bagi orang yang tidak hendak melaksanakan sholat Id, maka kesunnahan takbir berlangsung sampai waktu zawal.

Keutamaan Takbir Mursal

Para ulama menjelaskan bahwa takbir mursal pada Idul Fitri lebih utama dibandingkan takbir mursal pada Idul Adha. Sebab, takbir Idul Fitri berkaitan dengan kesempurnaan ibadah puasa Ramadhan yang merupakan rukun Islam dan ibadah besar yang penuh ampunan.

2. Takbir Muqayyad

Takbir muqayyad adalah takbir yang dibaca setelah sholat. Takbir ini khusus terdapat pada Idul Adha dan hari-hari Tasyrik.

Takbir muqayyad dibaca setelah: Sholat fardhu, Sholat sunnah, Sholat jenazah. Waktunya dimulai sejak selesai sholat Subuh pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) hingga terbenamnya matahari pada akhir hari Tasyrik (13 Dzulhijjah).

Jumlah sholat maktubah yang disunnahkan membaca takbir setelahnya adalah 23 sholat.

Mana yang Didahulukan: Wirid atau Takbir?

Apabila setelah sholat terdapat pilihan antara membaca wirid atau langsung membaca takbir, maka yang lebih didahulukan adalah wirid. Sebab, wirid termasuk syi‘ârul waqti (syiar yang berkaitan langsung dengan waktu sholat).

Namun setelah selesai wirid, tetap dianjurkan membaca takbir sebagai bentuk menghidupkan syiar Idul Adha.

Perbedaan Takbir Mursal dan Muqayyad

Perlu dipahami bahwa:

  • Takbir mursal ada pada Idul Fitri dan Idul Adha.
  • Takbir muqayyad hanya ada pada Idul Adha.

Karena itu, setelah sholat Idul Fitri tidak disunnahkan lagi membaca takbir, sebab tidak terdapat takbir muqayyad pada Idul Fitri.

Sedangkan setelah sholat Idul Adha tetap disunnahkan membaca takbir, karena adanya sunnah takbir muqayyad yang berlangsung hingga akhir hari Tasyrik.

Keutamaan Takbir Muqayyad

Takbir muqayyad pada Idul Adha memiliki keutamaan yang sangat besar dan lebih utama dibandingkan takbir lainnya. Sebab, ia menjadi syiar agung pada hari-hari kurban dan hari Tasyrik, hari-hari yang disebut Rasulullah SAW sebagai hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda:

أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرِ اللَّهِ

“Hari-hari Tasyrik adalah hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah.” (HR. Muslim)

Oleh karena itu, kaum muslimin dianjurkan memperbanyak takbir, tahmid, dan dzikir pada hari-hari tersebut sebagai bentuk pengagungan kepada Allah SWT.

 Lafadz Takbir 

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Memahami pembagian takbir mursal dan muqayyad membantu kita dalam menghidupkan syiar hari raya sesuai tuntunan para ulama. Takbir bukan sekadar tradisi, tetapi bagian dari ibadah dan pengagungan kepada Allah SWT.

Semoga Allah SWT memberikan taufik kepada kita untuk menghidupkan sunnah-sunnah hari raya serta menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang selalu mengagungkan-Nya.

Sumber:
Kitab Nihâyatuz Zain, halaman 109 karya Imam Nawawi Al-Bantani.

 


Tidak ada komentar:

Bimbingan Calon Pengantin (Bimcatin) kepada pasangan calon pengantin Daryanto dan Dika Novia Pangestuti

  aporan Kegiatan Bimbingan Calon Pengantin (Bimwin/Bimcatin) P ada tanggal 3 Juni 2026, KUA Kecamatan Tegowanu melaksanakan kegiatan Bimbi...