Hari raya Idul Fitri dan Idul Adha merupakan syiar besar dalam Islam yang dianjurkan untuk dihidupkan dengan memperbanyak takbir. Dalam kitab Nihâyatuz Zain halaman 109, Imam Nawawi Al-Bantani menjelaskan bahwa takbir pada hari raya terbagi menjadi dua macam, yaitu takbir mursal dan takbir muqayyad.
1. Takbir Mursal
Takbir mursal adalah takbir yang tidak terikat dengan sholat tertentu.
Takbir ini disunnahkan sejak terbenamnya matahari pada malam Idul Fitri dan
Idul Adha. Takbir dapat dikumandangkan di rumah, masjid, mushala, jalan, pasar,
dan tempat-tempat lainnya sebagai bentuk mengagungkan Allah SWT serta
menampakkan syiar Islam.
Allah SWT berfirman:
وَلِتُكْمِلُوا
الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ
تَشْكُرُونَ
“Dan hendaklah kamu menyempurnakan bilangannya dan mengagungkan Allah
atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.” (QS.
Al-Baqarah: 185)
Kesunnahan takbir mursal berlangsung sampai imam masuk untuk melaksanakan
sholat Id. Apabila seseorang melaksanakan sholat Id sendirian, maka kesunnahan
takbir berlangsung sampai ia melakukan takbiratul ihram, meskipun ia
mengakhirkan sholatnya hingga waktu zawal (masuk waktu Dzuhur).
Sedangkan bagi orang yang tidak hendak melaksanakan sholat Id, maka
kesunnahan takbir berlangsung sampai waktu zawal.
Keutamaan Takbir Mursal
Para ulama menjelaskan bahwa takbir mursal pada Idul Fitri lebih utama
dibandingkan takbir mursal pada Idul Adha. Sebab, takbir Idul Fitri berkaitan
dengan kesempurnaan ibadah puasa Ramadhan yang merupakan rukun Islam dan ibadah
besar yang penuh ampunan.
2. Takbir Muqayyad
Takbir muqayyad adalah takbir yang dibaca setelah sholat. Takbir ini
khusus terdapat pada Idul Adha dan hari-hari Tasyrik.
Takbir muqayyad dibaca setelah: Sholat fardhu, Sholat sunnah, Sholat jenazah. Waktunya dimulai sejak selesai sholat Subuh pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) hingga terbenamnya matahari pada akhir hari Tasyrik (13 Dzulhijjah).
Jumlah sholat maktubah yang disunnahkan membaca takbir setelahnya adalah
23 sholat.
Mana yang Didahulukan: Wirid atau Takbir?
Apabila setelah sholat terdapat pilihan antara membaca wirid atau
langsung membaca takbir, maka yang lebih didahulukan adalah wirid. Sebab, wirid
termasuk syi‘ârul waqti (syiar yang berkaitan langsung dengan
waktu sholat).
Namun setelah selesai wirid, tetap dianjurkan membaca takbir sebagai
bentuk menghidupkan syiar Idul Adha.
Perbedaan Takbir Mursal dan Muqayyad
Perlu dipahami bahwa:
- Takbir mursal ada pada
Idul Fitri dan Idul Adha.
- Takbir muqayyad hanya
ada pada Idul Adha.
Karena itu, setelah sholat Idul Fitri tidak disunnahkan lagi membaca
takbir, sebab tidak terdapat takbir muqayyad pada Idul Fitri.
Sedangkan setelah sholat Idul Adha tetap disunnahkan membaca takbir,
karena adanya sunnah takbir muqayyad yang berlangsung hingga akhir hari
Tasyrik.
Keutamaan Takbir Muqayyad
Takbir muqayyad pada Idul Adha memiliki keutamaan yang sangat besar dan
lebih utama dibandingkan takbir lainnya. Sebab, ia menjadi syiar agung pada
hari-hari kurban dan hari Tasyrik, hari-hari yang disebut Rasulullah SAW
sebagai hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda:
أَيَّامُ
التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرِ اللَّهِ
“Hari-hari Tasyrik adalah hari makan, minum, dan berdzikir kepada
Allah.” (HR. Muslim)
Oleh karena itu, kaum muslimin dianjurkan memperbanyak takbir, tahmid,
dan dzikir pada hari-hari tersebut sebagai bentuk pengagungan kepada Allah SWT.
اللَّهُ
أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ
أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
اللَّهُ
أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً
وَأَصِيلًا
لَا إِلٰهَ
إِلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ
كَرِهَ الْكَافِرُونَ
لَا إِلٰهَ
إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ
وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Memahami pembagian takbir mursal dan muqayyad membantu kita dalam
menghidupkan syiar hari raya sesuai tuntunan para ulama. Takbir bukan sekadar
tradisi, tetapi bagian dari ibadah dan pengagungan kepada Allah SWT.
Semoga Allah SWT memberikan taufik kepada kita untuk menghidupkan
sunnah-sunnah hari raya serta menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang selalu
mengagungkan-Nya.
Sumber:
Kitab Nihâyatuz Zain, halaman 109 karya Imam Nawawi
Al-Bantani.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar