Rabu, 03 Juni 2026

Bimbingan Calon Pengantin (Bimcatin) kepada pasangan calon pengantin Daryanto dan Dika Novia Pangestuti


 aporan Kegiatan Bimbingan Calon Pengantin (Bimwin/Bimcatin)

P

ada tanggal 3 Juni 2026, KUA Kecamatan Tegowanu melaksanakan kegiatan Bimbingan Calon Pengantin (Bimcatin) kepada pasangan calon pengantin Daryanto dan Dika Novia Pangestuti, yang berasal dari Kabupaten Cilacap dan Desa Kebonagung, Kecamatan Tegowanu.

Dalam kegiatan bimbingan ini, disampaikan materi yang menekankan pentingnya saling menghargai dan saling menghormati antara suami dan istri sebagai fondasi utama dalam membangun rumah tangga yang harmonis. Selain itu, calon pengantin diberikan pemahaman mengenai pentingnya komunikasi yang baik, terbuka, dan jujur dalam kehidupan berkeluarga guna mencegah terjadinya kesalahpahaman dan konflik di kemudian hari.

Bimbingan juga mengingatkan bahwa pernikahan bukan hanya menyatukan dua individu, tetapi juga menyatukan dua keluarga yang memiliki latar belakang, kebiasaan, dan karakter yang berbeda. Oleh karena itu, diperlukan sikap saling memahami, kesabaran, toleransi, serta komitmen bersama untuk menyelesaikan setiap permasalahan melalui musyawarah dan komunikasi yang baik.

Melalui kegiatan ini diharapkan calon pengantin memiliki bekal pengetahuan, pemahaman, dan kesiapan mental dalam membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah, serta mampu menjalankan hak dan kewajiban masing-masing secara seimbang sesuai tuntunan agama dan peraturan yang berlaku.


 


 


 


Selasa, 2 Juni 2026, KUA Kecamatan Tegowanu melaksanakan Bimbingan Perkawinan (Bimcatin) kepada pasangan Dwisantoso dan Setyowati. Bimbingan diberikan sebagai upaya membekali pasangan dalam membangun kehidupan rumah tangga yang harmonis dan berkelanjutan. Materi yang disampaikan meliputi pemahaman tentang hak dan kewajiban suami istri, penguatan komitmen pernikahan, komunikasi efektif dalam keluarga, pengelolaan konflik, kesehatan keluarga, serta penanaman nilai-nilai keagamaan untuk mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah, warahmah."

Materi Bimbingan Perkawinan (Bimcatin)

Pasangan: Dwisantoso dan Setyowati

Tanggal: 2 Juni 2026

1. Tujuan Perkawinan dalam Islam

Allah SWT berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang." (QS. Ar-Rum: 21)

Ayat ini menjelaskan bahwa tujuan utama pernikahan adalah membangun ketenteraman (sakinah), cinta (mawaddah), dan kasih sayang (rahmah).

2. Anjuran Menikah

Rasulullah SAW bersabda:

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ

"Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah, karena menikah lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan." (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Hak dan Kewajiban Suami Istri

Allah SWT berfirman:

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ

"Dan para perempuan mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut." (QS. Al-Baqarah: 228)

Suami dan istri memiliki hak dan kewajiban yang harus ditunaikan secara seimbang untuk menjaga keharmonisan keluarga.

4. Memperlakukan Pasangan dengan Baik

Rasulullah SAW bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku." (HR. Tirmidzi)

Hadis ini mengajarkan agar suami dan istri saling menghormati, menghargai, dan berbuat baik satu sama lain.

5. Pentingnya Komunikasi dan Musyawarah

Allah SWT berfirman:

وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ

"Sedangkan urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka." (QS. Asy-Syura: 38)

Setiap persoalan dalam rumah tangga hendaknya diselesaikan dengan dialog, komunikasi yang baik, dan musyawarah.

6. Kewajiban Nafkah dan Tanggung Jawab Suami

Allah SWT berfirman:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

"Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka." (QS. An-Nisa': 34)

Suami berkewajiban memberikan nafkah lahir dan batin serta membimbing keluarga menuju kebaikan.

7. Menjaga Keluarga dari Perkara yang Merusak

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

"Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka." (QS. At-Tahrim: 6)

Suami dan istri mempunyai tanggung jawab untuk mendidik keluarga dalam ajaran agama dan akhlak yang baik.

8. Doa Memohon Keluarga yang Bahagia

Allah SWT mengajarkan doa:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan sebagai penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Furqan: 74)

Penutup

Pernikahan adalah ibadah yang membutuhkan komitmen, kesabaran, dan kerja sama antara suami dan istri. Dengan berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Sunnah, melaksanakan hak dan kewajiban masing-masing, menjaga komunikasi yang baik, serta memperkuat keimanan, insya Allah akan terwujud keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah, penuh keberkahan dunia dan akhirat. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing dan memberkahi rumah tangga Dwisantoso dan Setyowati. Aamiin ya Rabbal 'Alamin.

 

Senin, 25 Mei 2026

Khutbah Idul Adha


الحمد لله الحمد لله الذي هدانا لهذا وما كنا لنهتدي لولا أن هدانا الله، نحمده سبحانه وتعالى ونستعينه ونستغفره ونتوب إليه، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له.
وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا محمدًا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

أما بعد

فيا عباد الله، أوصيكم ونفسي بتقوى الله فقد فاز المتقون.

Jamaah Sholat idul Adha rahimakumullah…

Tak terasa hari berganti.Tak lama lagi peristiwa agung itu kembali terulang.Peristiwa yang setiap tahun kita kenang dengan tetesan air mata, dengan takbir yang menggema, dengan hati yang bergetar mengingat pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘alaihimassalam.

Bukan peristiwa biasa…Tetapi peristiwa yang menguji cinta seorang hamba kepada Rabb-nya. Bayangkanlah… Seorang ayah yang puluhan tahun tidak memiliki anak.
Bukan satu tahun… Bukan dua tahun…Tetapi delapan puluh enam tahun lamanya menunggu keturunan. Pagi, siang, sore, dan malam ia berdoa:

﴿رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ﴾  “Ya Rabb, anugerahkanlah kepadaku anak yang saleh.” (QS. Ash-Shaffat: 100)

Doa itu terus dipanjatkan dengan linangan air mata. Betapa rindunya ia kepada seorang anak. Betapa besar harapannya untuk mendengar suara mungil memanggil dirinya sebagai ayah. Hingga akhirnya Allah mengabulkan doa itu.
Lahir seorang anak yang sangat dicintainya: Ismail ‘alaihissalam.

Namun ketika cinta itu mulai tumbuh, ketika kebahagiaan itu mulai sempurna, Allah menguji Nabi Ibrahim. Allah tidak meminta kambingnya. Allah tidak meminta untanya.
Allah tidak meminta hartanya. Tetapi Allah meminta sesuatu yang paling ia cintai. Allah meminta anak yang puluhan tahun ia nanti. Karena cinta kepada Allah tidak boleh dikalahkan oleh cinta kepada selain-Nya. Rasulullah bersabda:

«لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ»

“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai aku lebih ia cintai daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Sungguh berat ujian itu. Namun Nabi Ibrahim tidak membantah.
Beliau mendatangi putranya dengan hati yang hancur. Dengan suara bergetar beliau berkata:

﴿يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ﴾

“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu?” (QS. Ash-Shaffat: 102)

Kalimat itu bukan sekadar pertanyaan. Itu adalah tangisan seorang ayah.
Itu adalah ujian keimanan. Itu adalah pertaruhan antara cinta kepada anak dan cinta kepada Allah. Dan jawaban Ismail adalah jawaban yang mengguncang langit.

Ia tidak berkata: “Wahai Ibrahim…” Tidak. Ia menjawab dengan penuh kelembutan:

﴿يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ﴾ “Wahai ayahandaku tercinta…”

“Laksanakanlah apa yang diperintahkan Allah.”

Panggilan penuh kasih.

Panggilan seorang anak yang dibesarkan dengan makanan halal, dengan doa, dengan iman, dan dengan pendidikan tauhid.

Lalu Ismail berkata:

﴿سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ﴾

 “Engkau akan mendapatiku, insya Allah, termasuk orang-orang yang sabar.”
(QS. Ash-Shaffat: 102)

Perhatikan kalimatnya…

Ia tidak sombong.

Ia tidak berkata, “Aku pasti sabar.”

Tetapi ia berkata:

“Insya Allah…”

Karena orang beriman tidak pernah merasa hebat di hadapan Allah.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Sudah berapa tahun kita mengulang peristiwa ini?

Karena itu dinamakan Idul Adha.

“‘Id” artinya sesuatu yang terus kembali berulang.

Kalau usia kita empat puluh tahun, berarti empat puluh kali kita mendengar kisah ini.

Namun pertanyaannya…

Apakah anak-anak kita hari ini akan menjawab seperti jawaban Nabi Ismail?

Apakah anak-anak kita masih tunduk kepada Allah?

Apakah mereka masih mencintai shalat?

Apakah mereka masih bangga dengan Al-Qur’an?

Ataukah mereka justru malu kepada agama?

Inilah yang seharusnya membuat kita menangis di hari raya ini.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Anak-anak itu ibarat tanah subur.

Allah tidak menciptakan mereka kosong.

Rasulullah bersabda:

«كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ»

 


 “Setiap anak lahir dalam keadaan fitrah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Fitrah itu bukan kertas kosong.

Fitrah itu bukan jiwa tanpa arah.

Kata para ulama, fitrah adalah fitrah Islam.

Sebelum anak-anak itu lahir ke dunia, ruh mereka sudah bersaksi di hadapan Allah.

Allah berfirman:

﴿وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ شَهِدْنَا﴾
“Alastu birabbikum?”

“Bukankah Aku ini Tuhan kalian?”

“Balaa syahidna…”

“Benar, kami bersaksi.”


(QS. Al-A‘raf: 172)

Hari ini setelah khutbah ini selesai, nanti di dalam shalat kita akan kembali mengucapkan syahadat.

أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدًا رسول الله

Pagi, siang, sore, dan malam kita terus mengulang persaksian itu.

Tetapi pertanyaannya…

Apakah anak-anak kita juga masih memiliki keyakinan yang sama?

Inilah yang dahulu dikhawatirkan Nabi Ya‘qub ‘alaihissalam.

Menjelang wafatnya beliau bertanya kepada anak-anaknya:

﴿مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي﴾


“Apa yang kalian sembah setelah aku meninggal?” (QS. Al-Baqarah: 133)

Lihat…

Yang beliau khawatirkan bukan makanan anak-anaknya.

Karena rezeki sudah dijamin Allah.

Allah berfirman:

﴿وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا﴾


“Tidak ada satu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah yang menjamin rezekinya.” (QS. Hud: 6)

Cacing di dalam tanah tetap diberi makan oleh Allah.
Burung yang terbang di angkasa tetap diberi rezeki oleh Allah.

Tetapi yang dikhawatirkan para nabi adalah akidah anak-anaknya.

Apakah mereka istiqamah sampai akhir hayat?

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Ketika anak lahir, kita yang pertama kali membisikkan adzan dan iqamah ke telinganya.

Dengan suara lirih dan air mata kita ucapkan:

الله أكبر الله أكبر

أشهد أن لا إله إلا الله

Apa sebenarnya yang kita inginkan dari anak-anak itu?

Kita tidak berharap mereka hanya membangunkan rumah besar untuk kita.
Kita tidak berharap mereka sekadar memberi kemewahan dunia.

Yang kita harapkan hanyalah satu…

Kelak ketika tubuh kita terbujur kaku, ketika nyawa sampai di tenggorokan, ketika semua keluarga menangis di sekitar kita…

Kita ingin anak kita mendekat ke telinga kita lalu membisikkan:

لا إله إلا الله

Itulah kebahagiaan sejati seorang ayah dan ibu.

Tidak ada gunanya anak kaya raya tetapi jauh dari agama.
Tidak ada gunanya jabatan tinggi tetapi membangkang kepada Allah.

Karena yang kita minta dalam doa adalah:

﴿رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ﴾

“Ya Rabb kami, anugerahkan kepada kami pasangan dan keturunan yang menyejukkan mata.” (QS. Al-Furqan: 74)

Qurrata a‘yun…

Sejuk dipandang mata.

Bukan panas hati melihatnya.

Jangan sampai ketika kita membaca Al-Qur’an, anak kita justru sinis kepada agama.

Jangan sampai ketika kita shalat, mereka malah menertawakan ibadah.

Jangan sampai ketika kita mengangkat tangan berdoa, mereka menganggap agama hanya cerita masa lalu.

Tubuh mereka memang hidup…

Tetapi jika iman rusak, maka jiwanya telah hancur.

Lalu siapa yang merusaknya?

Apakah televisi?

Apakah internet?

Apakah lingkungan?

Jangan terlalu sibuk menyalahkan dunia luar.

Karena Rasulullah telah bersabda:

«فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ»

 “Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Maka renungkanlah…

Di mana kita ketika anak membutuhkan pendidikan agama?

Di mana kita ketika ia ingin menunjukkan hafalan surat pendeknya?

Di mana kita ketika ia membutuhkan pelukan dan kasih sayang?

Ketika anak kehilangan perhatian di rumah, ia akan mencari cinta di luar rumah.
Dan sering kali di situlah kehancurannya dimulai.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Harta sebanyak apa pun akhirnya akan ditinggalkan.

Tanah luas akan berganti nama pemiliknya.

Sertifikat rumah akan berpindah tangan.

Mobil mewah akan diwariskan.

Semua fana.

Rasulullah bersabda:

«يَقُولُ ابْنُ آدَمَ: مَالِي مَالِي، وَهَلْ لَكَ مِنْ مَالِكَ إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ»
“Ma akalta fa afnaita…”

“Apa yang engkau makan akan habis.”

“Wa ma labista fa ablaita…”


“Apa yang engkau pakai akan usang.”

“Wa ma tashaddaqta fa amdhaita.”

“Dan apa yang engkau sedekahkan, itulah yang kekal.”


(HR. Muslim)

Maka di hari Idul Adha ini mari kita belajar dari Ibrahim dan Ismail.

Mari kita didik anak-anak kita dengan iman.

Mari kita hadir untuk mereka sebelum terlambat.

Mari kita tanamkan tauhid sebelum dunia merusak hati mereka.

Karena sesungguhnya warisan terbaik bukan harta…

Tetapi anak saleh yang mendoakan orang tuanya sampai liang kubur.

Rasulullah bersabda:

«إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ»
“Apabila manusia meninggal dunia maka terputus amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم، أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

 

KHUTBAH IDUL ADHA: TANGIS IBRAHIM, UJIAN CINTA, LAN PENDIDIKAN ANAK ING ZAMAN SAK IKI



الحمد لله الحمد لله الذي هدانا لهذا وما كنا لنهتدي لولا أن هدانا الله، نحمده سبحانه وتعالى ونستعينه ونستغفره ونتوب إليه، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له.
وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا محمدًا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

أما بعد…

فيا عباد الله، أوصيكم ونفسي بتقوى الله فقد فاز المتقون.

Jamaah Sholat Idul Adha rahimakumullah…

Mboten kroso dinten sampun berganti. Lan mboten dangu malih, peristiwa ageng menika badhe terulang malih. Peristiwa ingkang saben tahun kita kenang kanthi tetesan air mata, kanthi gema takbir, kanthi ati ingkang bergetar nalikane ngelingi pengorbanan Nabi Ibrahim lan Nabi Ismail ‘alaihimassalam.

Menika dudu peristiwa biasa…

Nanging peristiwa ingkang nguji sepinten ageng cintaipun seorang hamba dhateng Rabbipun.

Coba panjenengan bayangaken…

Wonten seorang bapak ingkang puluhan tahun mboten kagungan putra.

Mboten setahun… Mboten kalih tahun… Nanging wolung puluh enem tahun ngantos ngentosi keturunan.

Esuk, siyang, sonten, lan dalu beliau terus ndedonga:

﴿رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ﴾

“Ya Rabb, paringana kula anak ingkang sholeh.” (QS. Ash-Shaffat: 100)

Donga menika terus dipun panjataken kanthi linangan air mata. Sepinten ageng kerinduanipun dhateng seorang anak. Sepinten ageng pengajeng-ajengipun kangge mireng swanten alit ingkang nyeluk piyambakipun kanthi panggilan “ayah”.

Ngantos pungkasane Allah ngabulaken donga menika.

Lairlah seorang anak ingkang sanget dipun tresnani: Nabi Ismail ‘alaihissalam.

Nanging nalikane rasa cinta menika wiwit tumbuh, nalikane kebahagiaan menika sampurna, Allah nguji Nabi Ibrahim.

Allah mboten nyuwun kambingipun.

Allah mboten nyuwun untanipun.


Allah mboten nyuwun hartanipun.

Nanging Allah nyuwun perkara ingkang paling dipun tresnani. Allah nyuwun anak ingkang puluhan tahun dipun nanti.

Amargi cinta dhateng Allah mboten oleh kalah kaliyan cinta dhateng selain-Nya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ»

“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai aku lebih ia cintai daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jamaah Sholat Idul Adha rahimakumullah…

Sungguh abot ujian menika. Nanging Nabi Ibrahim mboten mbantah. Beliau sowan dhateng putranipun kanthi ati ingkang remuk.

Kanthi suara gemeter beliau ngendika:

﴿يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ﴾

“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu?” (QS. Ash-Shaffat: 102)

Kalimat menika mboten namung pertanyaan.

Menika tangisan seorang bapak.

Menika ujian keimanan.

Menika pertaruhan antawis cinta dhateng anak lan cinta dhateng Allah.

Lan jawaban Nabi Ismail menika jawaban ingkang mengguncang langit.

Beliau mboten matur: “Wahai Ibrahim…” Mboten.

Nanging beliau matur kanthi lembut:

﴿يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ﴾

“Wahai ayahandaku tercinta, lampahana nopo ingkang dipun perintahaken Allah.”

Panggilan kebak kasih sayang.

Panggilan seorang anak ingkang dipun besarken kanthi makanan halal, kanthi donga, kanthi iman, lan kanthi pendidikan tauhid.

Lajeng Nabi Ismail matur:

﴿سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ﴾

“Panjenengan badhe manggih kula, insya Allah, kalebet tiyang ingkang sabar.”
(QS. Ash-Shaffat: 102)

Perhatikan kalimatipun…

Beliau mboten sombong.

Beliau mboten matur: “Kula pasti sabar.”

Nanging beliau matur:

“Insya Allah…”

Amargi tiyang mukmin mboten nate rumangsa hebat wonten ngarsanipun Allah.

Jamaah Sholat Idul Adha rahimakumullah…

Sampun pinten tahun kita ngulang peristiwa menika?

Amargi menika dipun sebat Idul Adha.

“‘Id” tegesipun sesuatu ingkang terus mbaleni.

Menawi umur kita sekawan puluh tahun, tegesipun kita sampun sekawan puluh kali mireng kisah menika.

Nanging pertanyaanipun…

Nopo anak-anak kita sakniki tasih kados Nabi Ismail?

Nopo tasih tunduk dhateng Allah?

Nopo tasih remen shalat?

Nopo tasih bangga kaliyan Al-Qur’an?

Utawi malah isin kaliyan agama?

Menika ingkang kedahipun ndadosaken kita nangis wonten dinten raya menika.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Anak-anak menika ibarat tanah subur. Allah mboten nyiptakaken piyambakipun kosong.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ»

“Saben anak lair wonten ing keadaan fitrah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Fitrah menika dudu kertas kosong.

Fitrah menika fitrah Islam.

Sakderenge anak-anak menika lair wonten donya, ruhipun sampun bersaksi wonten ngarsanipun Allah.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ شَهِدْنَا﴾

“Bukankah Aku ini Tuhan kalian?”


Maka seluruh ruh menjawab:

“Benar, kami bersaksi.” (QS. Al-A‘raf: 172)

Dinten menika sasampunipun khutbah, kita badhe ngulang malih persaksian menika:

أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدًا رسول الله

Nanging pertanyaanipun…

Nopo anak-anak kita ugi tasih kagungan keyakinan ingkang sami?

Menika ingkang dipun khawatiraken Nabi Ya‘qub ‘alaihissalam.

Nalika menjelang wafatipun beliau bertanya:

﴿مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي﴾

“Apa yang kalian sembah setelah aku meninggal?” (QS. Al-Baqarah: 133)

Perhatikan…
Ingkang dipun khawatiraken para nabi dudu panganan anak-anakipun. Amargi rezeki sampun dijamin Allah.

﴿وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا﴾

“Tidak ada satu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah yang menjamin rezekinya.”
(QS. Hud: 6)

Cacing wonten njero lemah dipun paringi pangan dening Allah. Manuk ingkang mabur wonten langit ugi dipun paringi rezeki dening Allah.

Nanging ingkang dipun khawatiraken para nabi menika akidah anak-anakipun.

Nopo tasih istiqamah ngantos akhir hayat kanthi kalimat:

لا إله إلا الله

Jamaah Sholat Idul Adha rahimakumullah…

Nalika anak lair, kita ingkang pertama mbisikaken adzan lan iqamah wonten kupingipun.

Kanthi suara lirih lan air mata kita matur:

الله أكبر الله أكبر

أشهد أن لا إله إلا الله

Sakjane nopo ingkang kita karepaken saking anak-anak menika?

Kita mboten ngarep-arep piyambakipun namung damelaken griya ageng. Kita mboten ngarep-arep kemewahan dunya.

Nanging ingkang kita pengen namung setunggal…

Besok nalikane awak kita terbujur kaku, nalikane nyawa sampun wonten tenggorokan, nalikane sedaya keluarga nangis wonten sekitar kita…

Kita pengen anak kita nyedhak wonten kuping kita lan mbisikaken:

لا إله إلا الله

Menika kebahagiaan sejati seorang bapak lan ibu.

Mboten wonten gunanipun anak sugih raya nanging tebih saking agama. Mboten wonten gunanipun jabatan tinggi nanging mbangkang dhateng Allah.

Amargi ingkang kita suwun wonten donga menika:

﴿رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ﴾

“Ya Rabb kami, paringana pasangan lan keturunan ingkang menyejukkan mata.”
(QS. Al-Furqan: 74)

Qurrata a‘yun…

Sejuk dipandang mata. Mboten damel panas ati.

Sampun ngantos nalika kita maos Al-Qur’an, anak malah sinis kaliyan agama. Sampun ngantos nalika kita shalat, piyambakipun malah ngguyu lan ngece ibadah.

Awakipun pancen urip… Nanging menawi imanipun rusak, sejatinipun jiwane sampun hancur.

Lajeng sinten ingkang merusak? Televisi? Internet? Lingkungan?

Sampun kesusu nyalahaken dunia luar.

Amargi Rasulullah ﷺ sampun bersabda:

«فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ»

“Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
Maka renungkanlah…

Ning pundi kita nalikane anak butuh pendidikan agama?

Ning pundi kita nalikane anak pengen menunjukkan hafalan surat pendekipun?
Ning pundi kita nalikane anak butuh pelukan lan kasih sayang?

Nalika anak kehilangan perhatian wonten griya, piyambakipun badhe golek cinta wonten njawi. Lan saking mriki kehancuran menika dimulai.

Jamaah Sholat Idul Adha rahimakumullah…

Harta sepinten mawon pungkasane badhe ditinggal.

Tanah amba badhe berganti nama pemilikipun.


Sertifikat griya badhe berpindah tangan.

Mobil mewah badhe diwarisaken.

Sedaya fana.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«يَقُولُ ابْنُ آدَمَ: مَالِي مَالِي، وَهَلْ لَكَ مِنْ مَالِكَ إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ»

“Apa yang engkau makan akan habis. Apa yang engkau pakai akan usang. Dan apa yang engkau sedekahkan, itulah yang kekal.” (HR. Muslim)

Maka wonten dinten Idul Adha menika, monggo kita belajar saking Nabi Ibrahim lan Nabi Ismail.

Monggo kita didik anak-anak kita kanthi iman.

Monggo kita hadir kangge mereka sakderenge terlambat.

Monggo kita tanamkan tauhid sakderenge dunia merusak ati mereka.

Amargi sejatinipun warisan terbaik menika dudu harta…

Nanging anak sholeh ingkang terus ndedongakaken tiyang sepahipun ngantos liang kubur.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ»

“Menawi manusia sampun meninggal dunia, terputus amalipun kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu ingkang bermanfaat, lan anak sholeh ingkang ndedongakaken piyambakipun.”
(HR. Muslim)

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم، أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.





Bimbingan Calon Pengantin (Bimcatin) kepada pasangan calon pengantin Daryanto dan Dika Novia Pangestuti

  aporan Kegiatan Bimbingan Calon Pengantin (Bimwin/Bimcatin) P ada tanggal 3 Juni 2026, KUA Kecamatan Tegowanu melaksanakan kegiatan Bimbi...