Selasa, 27 Januari 2026

Ketika Darah Haid Tak Menentu: Solusi Fikih bagi Perempuan. (Obrolan Teman KUA)


Rumusan Pertanyaan

Di zaman modern saat ini, tuntutan kehidupan dan perkembangan teknologi membawa berbagai perubahan, termasuk dalam aspek kesehatan reproduksi wanita. Banyak Wanita khususnya yang telah menikah atau menjadi ibu menggunakan alat kontrasepsi seperti KB suntik dan pil, yang dalam praktiknya sering menyebabkan perubahan siklus haid, seperti darah keluar tidak teratur, haid berkepanjangan, atau bahkan sulit dibedakan antara darah haid dan darah istihadhah. Kondisi tersebut menimbulkan kebingungan bagi sebagian wanita dalam menentukan masa haid yang sah menurut syariat, padahal penentuan masa haid sangat berpengaruh terhadap keabsahan ibadah shalat, puasa, membaca Al-Qur’an, dan hubungan suami istri. Pertanyaannya, bagaimana cara menentukan masa haid yang benar menurut fikih Islam bagi wanita yang mengalami ketidakteraturan haid akibat penggunaan alat kontrasepsi tersebut? Dan bagaimana pedoman syariat dalam menyikapi darah yang keluar di luar kebiasaan haid? 

Jawab:
Cara Menentukan Masa Haid Menurut Fikih Islam
Dalam fikih Islam, darah yang keluar dari rahim wanita tidak semuanya dihukumi sebagai haid. Ulama membaginya menjadi haid, nifas, dan istihadhah. Bagi wanita yang mengalami ketidakteraturan haid akibat KB, ulama memberikan beberapa pedoman berikut:

1. Kembali pada Kebiasaan Haid Sebelumnya (Adat Haid)
Jika seorang wanita sebelum menggunakan KB memiliki siklus haid yang teratur, maka penentuan haid dikembalikan pada kebiasaan tersebut.
Contoh: sebelum KB haidnya 7 hari setiap bulan, maka darah yang keluar dihukumi haid selama 7 hari, selebihnya dihukumi istihadhah.

2. Membedakan Sifat Darah (Tamyîz)
Jika tidak memiliki kebiasaan yang jelas, maka penentuan haid dapat dilakukan dengan melihat ciri darah, sebagaimana dijelaskan dalam hadis Nabi SAW:
Ciri darah haid: Warna hitam atau merah tua, Kental, Berbau khas
Sedangkan darah istihadhah: Lebih encer, Berwarna merah cerah, Tidak berbau

3. Mengikuti Ketentuan Umum Haid (Ghâlib al-Hâl)
Jika tidak memiliki kebiasaan dan tidak mampu membedakan sifat darah, maka wanita tersebut mengikuti ketentuan umum haid, yaitu:
Minimal haid: 1 hari 1 malam
Maksimal haid: 15 hari
Umumnya haid berlangsung 6–7 hari
Darah yang keluar lebih dari 15 hari dihukumi istihadhah.

4. Ketentuan Ibadah bagi Wanita Istihadhah
Wanita yang mengalami istihadhah:
Tetap wajib shalat dan puasa
Dianjurkan membersihkan darah dan berwudhu setiap masuk waktu shalat
Boleh membaca Al-Qur’an dan berhubungan dengan suami

Refrensi:
1. Fathul Qarîb (Ibnu Qâsim al-Ghazzî)
Batas Minimal dan Maksimal Haid
وَأَقَلُّ الْحَيْضِ يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ، وَأَكْثَرُهُ خَمْسَةَ عَشَرَ يَوْمًا وَلَيْلَةً
Artinya:
“Minimal haid adalah satu hari satu malam, dan maksimalnya adalah lima belas hari lima belas malam.”

2. Kifâyatul Akhyâr (Imam Taqiyyuddin al-Hishni)
Darah Lebih dari 15 Hari adalah Istihâdhah
فَإِنْ زَادَ الدَّمُ عَلَى خَمْسَةَ عَشَرَ يَوْمًا فَهُوَ اسْتِحَاضَةٌ
Artinya: “Apabila darah melebihi lima belas hari, maka darah tersebut adalah darah istihadhah.”

3. Tuhfatul Muhtâj (Ibnu Hajar al-Haitamî)
Urutan Penentuan Haid pada Wanita Mustahâdhah
وَالْمُسْتَحَاضَةُ إِنْ كَانَتْ لَهَا عَادَةٌ رَجَعَتْ إِلَيْهَا، وَإِلَّا فَإِلَى التَّمْيِيزِ، وَإِلَّا فَإِلَى غَالِبِ النِّسَاءِ
Artinya:
“Wanita mustahadhah, jika ia memiliki kebiasaan (haid), maka kembali kepadanya; jika tidak, maka kepada pembedaan (sifat darah); jika tidak, maka kepada kebiasaan umum wanita.”

4. Nihâyatul Muhtâj (Ar-Ramlî)
Tamyîz Berdasarkan Warna dan Sifat Darah

وَالتَّمْيِيزُ أَنْ يَكُونَ بَعْضُ الدَّمِ أَسْوَدَ ثَخِينًا مُنْتِنًا، وَالْآخَرُ أَحْمَرَ رَقِيقًا لَا رَائِحَةَ لَهُ
Artinya:
“Tamyîz adalah ketika sebagian darah berwarna hitam, kental, dan berbau, sedangkan yang lain berwarna merah, encer, dan tidak berbau.”

5. Al-Majmû‘ Syarh al-Muhadzdzab (Imam an-Nawawî)
Adat Haid Lebih Didahulukan dari Tamyîz

فَإِنْ كَانَتْ لَهَا عَادَةٌ قُدِّمَتْ عَلَى التَّمْيِيزِ بِالْإِجْمَاعِ
Artinya:
“Apabila seorang wanita memiliki kebiasaan haid, maka kebiasaan tersebut didahulukan atas tamyîz berdasarkan ijma’.”

6. Bughyatul Mustarsyidîn (Sayyid ‘Abdurrahman al-Masyhûr)
Wanita yang Tidak Punya Adat dan Tidak Bisa Tamyîz
فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهَا عَادَةٌ وَلَا تَمْيِيزٌ، فَتَجْعَلُ حَيْضَهَا سِتَّةَ أَيَّامٍ أَوْ سَبْعَةً
Artinya:
“Jika ia tidak memiliki kebiasaan dan tidak mampu membedakan darah, maka ia menjadikan haidnya enam atau tujuh hari.”

7. Kaidah Fikih Syafi‘iyah

الْعَادَةُ مُحَكَّمَةٌ
Artinya:
“Kebiasaan dapat dijadikan dasar penetapan hukum.”

Kesimpulan Mazhab Syafi‘i (Ringkas)
  1. Wanita yang mengalami haid tidak teratur (termasuk akibat KB):
  2. Kembali pada adat haid sebelumnya
  3. Jika tidak ada, menggunakan tamyîz
  4. Jika tidak bisa, mengikuti kebiasaan umum (6–7 hari)
  5. Darah di luar itu adalah istihâdhah, dan wanita tetap menjalankan ibadah
https://www.youtube.com/watch?v=gYQebPWZgBg
Gus Baha: Penting! Pembahasan tentang Haid

Senin, 26 Januari 2026

Hukum Menggabungkan Puasa Qadha Ramadhan dan Puasa Sunnah Sya’ban

Bulan Sya’ban merupakan salah satu bulan yang memiliki keistimewaan besar dalam Islam. Di bulan ini terjadi beberapa peristiwa penting, di antaranya perpindahan kiblat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram, diangkatnya catatan amal manusia, serta turunnya perintah bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Karena keutamaannya, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh, seperti membaca Al-Qur’an, bershalawat, beristighfar, dan berpuasa sunnah.

Anjuran memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban didasarkan pada hadis Sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

Artinya:
Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW menyempurnakan puasa sebulan penuh selain di bulan Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa sunnah dibandingkan di bulan Sya’ban. (HR. al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 1969)

Hadis ini menunjukkan betapa besar perhatian Rasulullah SAW terhadap puasa sunnah di bulan Sya’ban. Namun muncul pertanyaan di tengah masyarakat: bagaimana jika seseorang masih memiliki utang puasa (qadha) Ramadhan? Apakah boleh menggabungkan puasa qadha Ramadhan dengan puasa sunnah Sya’ban?


Hukum Menggabungkan Puasa Wajib dan Puasa Sunnah

Masalah menggabungkan niat puasa wajib dan puasa sunnah (dikenal dengan istilah tasyrik an-niyyah) merupakan persoalan yang diperselisihkan para ulama. Hal ini karena tidak terdapat nash yang secara tegas melarang ataupun memerintahkannya. Meski demikian, sejumlah ulama membolehkannya, khususnya dalam mazhab Syafi’i.
Imam As-Suyuthi menjelaskan:

صَامَ فِي يَوْمِ عَرَفَةَ قَضَاءً أَوْ نَذْرًا أَوْ كَفَّارَةً، وَنَوَى مَعَهُ صَوْمَ عَرَفَةَ، فَأَفْتَى الْبَارِزِيُّ بِالصِّحَّةِ وَالْحُصُولِ عَنْهُمَا

Artinya:
Seseorang berpuasa di hari Arafah untuk qadha, nadzar, atau kafarat, dan sekaligus berniat puasa sunnah Arafah, maka Imam al-Barizi berfatwa bahwa puasanya sah dan memperoleh pahala keduanya.
(Imam As-Suyuthi, Al-Asybah wa an-Nazhair, Dar al-Kutub, Beirut, hlm. 22)

Pendapat ini diperkuat oleh ulama lainnya seperti Imam Syamsuddin ar-Ramli, al-Asfuni, an-Nasyiri, dan al-Faqih Ali bin Shaleh al-Hadrami. Imam Ibnu Hajar al-Haitami menjelaskan:

وَلَوْ صَامَ فِي شَوَّالٍ قَضَاءً أَوْ نَذْرًا أَوْ غَيْرَهُمَا أَوْ فِي نَحْوِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ حَصَلَ لَهُ ثَوَابُ تَطَوُّعِهَا

Artinya:
Jika seseorang berpuasa qadha, nadzar, atau lainnya di bulan Syawal atau pada hari ‘Asyura, maka ia tetap mendapatkan pahala puasa sunnah tersebut. (Ibnu Hajar al-Haitami, Hawasyi asy-Syarwani ‘ala Tuhfatil Muhtaj, juz IV, hlm. 457)

Analogi Fikih (Qiyas)

Kebolehan ini juga dianalogikan dengan mandi junub yang dilakukan pada hari Jumat. Jika seseorang berniat mandi wajib (junub) dan bertepatan dengan hari Jumat, maka ia sekaligus mendapatkan pahala mandi sunnah Jumat.
Qadha Puasa di Bulan Sya’ban

Diriwayatkan pula bahwa Sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengqadha puasa Ramadhan di bulan Sya’ban, karena kesibukannya melayani Rasulullah SAW. Hal ini menunjukkan bolehnya qadha puasa dilakukan di bulan Sya’ban, bahkan sangat dianjurkan agar utang puasa diselesaikan sebelum masuk Ramadhan berikutnya.

Kesimpulan

Menggabungkan puasa qadha Ramadhan dengan puasa sunnah Sya’ban hukumnya boleh menurut sebagian besar ulama mazhab Syafi’i.

Puasa qadhanya sah dan pahala puasa sunnah tetap diharapkan.

Namun, karena qadha Ramadhan bersifat wajib, maka menyelesaikan qadha harus lebih diutamakan sebelum datang Ramadhan berikutnya.

Semoga penjelasan ini bermanfaat dan dapat menjadi panduan bagi umat Islam dalam menjalankan ibadah puasa secara benar dan penuh keberkahan.

Disusun dan disempurnakan : Abdul Khanip – Penyuluh Agama Islam KUA Tegowanu
Sumber utama: NU Online Jakarta


Kamis, 22 Januari 2026

Hukum Memotong Rambut dan Kuku Saat Haid



Pertanyaan: Jama'ah MT Baitul Muttaqin (Pengajian Bakda Jumat) Kejawan

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Pak, mau tanya, apabila seorang wanita sedang haid, apakah boleh memotong rambut atau kuku? Dan apakah rambut atau kuku yang telah dipotong tersebut harus ikut dicuci (mandi wajib) ketika wanita tersebut telah suci dari haid? Mohon penjelasannya beserta referensinya. Terima kasih.

Jawaban:
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Haid atau menstruasi merupakan siklus alami yang dialami oleh wanita setiap bulan. Dalam fiqih Islam, wanita yang sedang haid berada dalam kondisi hadats besar sehingga dilarang melaksanakan beberapa ibadah tertentu, seperti shalat, puasa, thawaf, serta membaca dan menyentuh mushaf Al-Qur’an.

Lalu, apakah memotong rambut dan kuku termasuk perbuatan yang dilarang saat haid?

Para ulama menjelaskan bahwa tidak ada dalil dari Al-Qur’an maupun Sunnah yang mengharamkan wanita haid memotong rambut dan kuku. Oleh karena itu, perbuatan tersebut hukumnya boleh dan tidak berdosa.

Dalam kitab Nihayatuz Zain karya Syaikh Nawawi al-Bantani dijelaskan bahwa bagi orang yang wajib mandi (karena junub atau haid) disunnahkan untuk tidak menghilangkan bagian tubuh seperti rambut dan kuku sebelum mandi wajib. Anjuran ini bersifat sunnah, sehingga jika ditinggalkan tidak berdosa dan tidak menjadikan perbuatan tersebut haram, paling jauh hanya dianggap makruh.

Syaikh Nawawi al-Bantani menyatakan:

وَمَنْ لَزِمَهُ غُسْلٌ يُسَنُّ لَهُ أَلَّا يُزِيْلَ شَيْئاً مِنْ بَدَنِهِ وَلَوْ دَمًا أَوْ شَعرًا أَوْ ظُفْرًا حَتَّى يَغْتَسِلَ لِأَنَّ كُلَّ جُزْءٍ يَعُوْدُ لَهُ فِي اْلآخِرَةِ فَلَوْ أَزَالَهُ قَبْلَ الْغُسْلِ عَادَ عَلَيْهِ الْحَدَثُ الْأَكْبَرُ تَبْكِيْتًا لِلشَّخْصِ (نهاية الزين(
“Barang siapa yang wajib mandi, disunnahkan baginya untuk tidak menghilangkan sesuatu dari tubuhnya—meskipun hanya darah, rambut, atau kuku hingga ia mandi, karena seluruh anggota tubuh akan kembali kepadanya di akhirat.”
(Nihayatuz Zain)

Pendapat serupa juga disampaikan oleh Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin, bahwa anjuran tersebut berkaitan dengan adab dan kehati-hatian, bukan kewajiban syar‘i.

وَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَحْلِقَ أَوْ يُقَلِّمَ أَوْ يَسْتَحِدَّ أَوْ يُخْرِجَ دَمًا أَوْ يُبِيْنَ مِنْ نَفْسِهِ جُزْءًا وَهُوَ جُنُبٌ إِذْ تُرَدُّ إِلَيْهِ سَائِرُ أَجْزَائِهِ فِي اْلآخِرَةِ فَيَعُوْدُ جُنُباً وَيُقاَلُ إِنَّ كُلَّ شَعْرَةٍ تُطَالِبُهُ بِجِناَبَتِهَا (إحياء علوم الدين)
Tidak seyogyanya seseorang mencukur rambut, memotong kuku, mencukur bulu kemaluan atau membuang sesuatu dari badannya disaat dia sedang berjunub karena seluruh bagian tubuhnya akan dikembalikan kepadanya di akhirat kelak, lalu dia akan kembali berjunub. Dikatakan bahwa setiap rambut akan menuntutnya dengan sebab junub yang ada pada rambut tersebut.

Dengan demikian, wanita yang sedang haid tidak dilarang dan tidak diharamkan memotong rambut dan kuku. Selain itu, rambut atau kuku yang telah dipotong tidak perlu dicuci atau disertakan dalam mandi wajib setelah haid selesai, karena tidak ada dalil yang mewajibkannya.

Kesimpulan:
Wanita haid boleh memotong rambut dan kuku.
Hukumnya tidak haram, paling jauh hanya makruh menurut sebagian ulama.
Rambut dan kuku yang telah dipotong tidak wajib dicuci saat mandi wajib.
Wallahu a‘lam bish-shawab. Semoga bermanfaat.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.




Rabu, 21 Januari 2026

Fahilah bulan Sya'ban



حَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ فَضَّلَ شَهْرَ شَعْبَانَ، وَجَعَلَهُ مَقْدِمَةً لِرَمَضَانَ، وَخَصَّهُ بِالْخَيْرَاتِ وَالْبَرَكَاتِ وَالرَّحْمَاتِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ! أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْن
وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ


Nisfu Sya’ban punika salah satunggaling wengi ingkang agung lan mulya, ingkang dipun paringi keutamaan khusus dening Allah SWT kagem umatipun Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Wonten ing wengi punika, cathetan amal para hamba dipun angkat, lan Allah paring pangapura dhumateng para hamba-Nya ingkang tulus taubat, kajawi tiyang ingkang isih nyimpen sengketa, dendam, lan kebencian.

Malam Nisfu Sya’ban sampun dipun kenal wiwit jaman para nabi sadèrèngipun Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Para nabi sadèrèngipun malah ngarep-arep saged dipun takdir dados bagian saking umat pungkasan, amargi Allah sampun nyiapake fadhilah lan keutamaan ingkang agung tumrap umatipun Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Salah satunggaling nabi ingkang ngarep-arep dados bagian saking umat Rasulullah SAW yaiku Nabi Isa ‘alaihissalam. Sanajan Nabi Isa lair sadèrèngipun Kanjeng Nabi Muhammad SAW, piyambakipun nate kepanggih kaliyan Rasulullah SAW nalika peristiwa Isra’ Mi’raj wonten ing alam malakut. Ing ngriku, Nabi Isa AS lan Kanjeng Nabi Muhammad SAW sami kepanggih lan sami paring salam, saéngga Nabi Isa AS dipun anggep kalebet sahabat Rasulullah SAW, amargi sahabat punika tiyang ingkang nate kepanggih kaliyan Nabi Muhammad SAW ing keadaan iman nalika Nabi taksih gesang.

Jamaah rahimakumullah,
Wonten kisah ingkang agung lan kebak piwulang ingkang dipun alami Nabi Isa AS. Kisah punika nuduhaken keagungan Allah SWT, pentingipun taqwa, lan keutamaan ibadah, utamane ing malam-malam ingkang mulya kados Nisfu Sya’ban.

Dipun cariyosaken, nalika Nabi Isa AS tindak lelono, piyambakipun ningali sawijining gunung ingkang sanget duwur lan nggumunake. Amargi penasaran, Nabi Isa AS kepengin ndaki lan nyekseni punapa ingkang wonten ing pucuk gunung punika.

Nalika sampun dumugi pucuk gunung, Nabi Isa AS ningali watu putih sumorot, langkung putih tinimbang susu. Nabi Isa AS gumun sanget, lajeng Allah paring wahyu dhumateng piyambakipun:

"Wahai Isa, punapa sira kepengin mangertosi barang ingkang langkung nggumunake tinimbang watu punika?"

Nabi Isa AS matur: "Naam, ya Rabb."
Seketika, watu punika pecah, lan saking jeronipun medal satunggaling tiyang sepuh, nganggo jubah, nyekel tongkat ijo, lan wonten wit anggur wonten ngajengipun. Tiyang sepuh punika tansah khusyuk nindakaken ibadah sholat.

Nabi Isa AS gumun lan ngendika:
"Subhanallah, kados pundi wonten makhluk Allah ingkang gesang lan ibadah wonten jero watu?"

Nalika tiyang sepuh punika ningali Nabi Isa AS, piyambakipun paring salam. Nabi Isa lajeng ndangu:
"Wahai Syaikh, punapa ingkang panjenengan pangan lan punapa ingkang dados rezeki panjenengan?"

Tiyang sepuh punika mangsuli:
"Punapa ingkang panjenengan tingali punika rezeki kula saben dinten. Allah ingkang maringi lan ngatur rezeki kula wonten ing pundi kemawon."

Kisah punika paring piwulang bilih rezeki sampun dipun atur dening Allah SWT. Mula kita boten kedah bingung bab rezeki, nanging ingkang kedah kita bingungaken yaiku kados pundi carane dados tiyang taqwa, amargi nalika taqwa sampun wonten ing ati, Allah piyambak ingkang njamin rezeki kita.

Allah SWT ngendika:

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Sintên waé ingkang taqwa dhumateng Allah, mesthi Allah paring dalan metu saking saben kesulitan, lan diparingi rezeki saking dalan ingkang boten disangka-sangka.”

Menawi kita bingung, bingungana carane nambah taqwa dhumateng Allah. Bab pangan lan sandang boten kedah bingung, amargi asal gelem usaha kanthi halal, mesthi Allah paring cekap. Nanging usaha punika boten kena ngantos nglalekake ibadah, boten kena ninggal sholat, lan boten kena isin golek rezeki kanthi cara halal.

Nabi Isa AS lajeng ndangu:
"Sampun pinten taun panjenengan ibadah wonten jero watu punika?"

Tiyang sepuh punika mangsuli:
"Kula sampun ibadah wonten ngriki suwene 400 taun."

Nabi Isa AS gumun sanget, lajeng ndedonga:
"Ya Allah, kula nyangka boten wonten makhluk ingkang langkung mulya tinimbang tiyang punika."

Allah lajeng paring wahyu:
"Wahai Isa, wonten makhluk ingkang langkung utama tinimbang piyambakipun."

Nabi Isa AS matur:
"Sintên makhluk punika, ya Rabb?"

Allah mangsuli:
"Iya iku umatipun Kanjeng Nabi Muhammad SAW, ingkang pinaringan kesempatan nglampahi wulan Sya’ban lan nindakaken ibadah ing wengi Nisfu Sya’ban. Amalipun langkung utama tinimbang ibadah tiyang punika ingkang sampun 400 taun."

Mendengar punika, Nabi Isa AS matur kanthi pangajab ingkang sanget:
“Ya laitani kuntu min ummati Muhammad.”
“Duh Gusti, mugi kula dipun paringi takdir dados bagian saking umatipun Kanjeng Nabi Muhammad SAW.”

Saking kisah punika, kita saged njupuk piwulang agung:
Nisfu Sya’ban punika wengi ingkang luar biasa agung.
Taqwa langkung utama tinimbang ngudi rezeki.
Kita dipun pilih dados umat Kanjeng Nabi Muhammad SAW lan gadhah kesempatan ngalap berkah ing malam Nisfu Sya’ban.
Mula sampun selayakipun kita ngurmati lan nguri-uri malam Nisfu Sya’ban kanthi:
Sholat sunnah, kados tahajud, hajat, lan witir
Istighfar lan taubat
Ngaji lan dzikir, utamane maos Surah Yasin kaping tiga
Puasa tanggal 13, 14, lan 15 Sya’ban, utawi minimal tanggal 15 Sya’ban

Mugi-mugi kita tansah dipun paringi kesempatan ngambah ibadah ing wulan Sya’ban, dipun resiki ati kita, lan dipun paringi kekuatan iman kangge nyambut wulan Ramadhan.

Amin, ya Rabbal ‘alamin.

Senin, 19 Januari 2026

Nikah Siri: Sah secara Agama, Tapi Haram Karena Madharat — Memahami Sikap MUI


Dalam kehidupan masyarakat Muslim di Indonesia, praktik Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjadi rujukan penting ketika muncul pertanyaan tentang status pernikahan yang disebut “nikah siri”. Baru-baru ini dalam pernyataan tertanggal 25 November 2025, MUI kembali menegaskan bahwa nikah siri, meskipun memenuhi syarat dan rukun pernikahan secara agama, tetap haram bila dalam praktiknya menimbulkan kerugian atau mudarat terutama bagi istri dan anak.

Artikel ini berupaya menjelaskan secara ringkas dan sistematis bagaimana hukum nikah siri menurut syariat Islam, sikap MUI terkini, serta rekomendasi bagi umat Muslim agar menghindari mudarat dan menjamin keadilan bagi seluruh pihak.

  1. Apa Itu Nikah Siri? — Definisi dan Bentuknya

Istilah “nikah siri” umumnya digunakan di Indonesia untuk merujuk pada pernikahan yang dilakukan secara Islam (akad, ijab-kabul, wali, saksi) tetapi tidak dicatat secara resmi di instansi yang berwenang (misalnya Kantor Urusan Agama / KUA).

Menurut MUI (melalui penjelasan KH Cholil Nafis), ada dua bentuk yang sering dianggap sebagai “nikah siri”:

  • Bentuk pertama: Pernikahan yang memenuhi seluruh syarat dan rukun Islam, tetapi tidak dicatat di KUA (umum disebut “nikah siri”).
  • Bentuk kedua: Pernikahan ilegal — tidak memenuhi syarat/rukun agama (misalnya tanpa wali, saksi) dan dilakukan secara diam-diam. Bentuk ini jelas haram dan batal.

Penting untuk membedakan kedua bentuk ini agar tidak terjadi kekeliruan dalam memahami hukum pernikahan.

  1. Hukum Islam & Hukum Negara terhadap Nikah Siri

Hukum Syariat (Islam)

  • Bila syarat dan rukun pernikahan terpenuhi (mempelai pria-wanita halal menikah, wali, dua saksi adil, ijab-kabul, dan lain-lain sesuai hukum Islam), maka secara agama pernikahan dianggap sah  meskipun tidak tercatat secara negara.
  • Namun jika rukun/ syarat tidak terpenuhi (contoh: tanpa wali, tanpa saksi), maka pernikahan itu dianggap batal dan hukumnya haram, sama seperti zina.

Hukum Negara Indonesia

  • Undang-undang perkawinan di Indonesia mewajibkan pencatatan resmi pernikahan sehingga pernikahan yang tidak dicatat tidak diakui secara hukum negara.
  • Tanpa akta nikah resmi, istri dan anak dari pernikahan siri bisa kehilangan hak legal: hak waris, nafkah, pengakuan status anak, akta lahir, dan perlindungan hukum lainnya.
  1. Mengapa MUI Mengatakan “Sah secara Agama — Tapi Haram”?

Berdasarkan pernyataan MUI November 2025:

  • MUI mengakui bahwa syarat/rukun Islam bisa terpenuhi walau tanpa pencatatan negara maka dari sisi agama, nikah tersebut dianggap sah.
  • Namun MUI menekankan bahwa praktik nikah siri menyebabkan banyak mudharat (kerugian) terutama terhadap perempuan dan anak. Akibatnya, meskipun secara agama sah, MUI memandang pelaksanaannya tetap haram bila menzalimi atau merugikan pihak tertentu.
  • Hak-hak pokok seperti nafkah, waris, status anak, akta resmi bisa hilang. Hal ini dianggap melukai keadilan dan hak asasi manusia dalam kerangka keluarga dan masyarakat.

Dengan demikian, MUI pun mengimbau umat agar menjauhi nikah siri dan memilih jalur resmi  yakni menikah dengan pencatatan di KUA, agar sah secara agama dan sesuai hukum negara.

  1. Implikasi Sosial & Pentingnya Pencatatan Resmi

Ada sejumlah konsekuensi sosial dan hukum dari nikah siri yang membuatnya berisiko:

  • Istri dan anak bisa kehilangan pengakuan hukum — misalnya sulit mendapat akta kelahiran, sulit mengklaim hak waris atau nafkah jika terjadi perceraian atau kematian suami.
  • Anak bisa dipandang sebagai anak luar nikah oleh hukum negara — mengancam martabat dan hak mereka secara legal maupun sosial.
  • Potensi korban terbesar adalah perempuan — jika suami lepas tanggung-jawab, istri dan anak akan sulit menuntut hak karena pernikahan tidak tercatat resmi.
  • Praktik nikah siri sering disalahgunakan sebagai “tutup-tutupan”: bisa jadi hanya dalih untuk hubungan tanpa komitmen yang jelas, tanpa tanggung jawab hakiki.

Karena itu, pencatatan resmi pernikahan bukan sekadar administratif — melainkan bentuk perlindungan bagi hak dan kehormatan semua pihak: suami, istri, dan anak.

  1. Pesan & Rekomendasi bagi Masyarakat Muslim, Termasuk Jamaah NU

Sebagai umat Muslim dan khususnya bagi jamaah di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) ada beberapa nasihat penting berdasarkan pandangan MUI:

  1. Hindari Nikah Siri  meskipun secara agama “sah”, potensi madharat terhadap perempuan dan anak sangat besar. Lebih aman dan adil untuk menikah resmi (akad + pencatatan di KUA).
  2. Utamakan Akad & Catatan Resmi  agar pernikahan mendapat pengakuan hukum negara, serta menjamin hak istri dan anak (nafkah, waris, akta lahir, identitas hukum).
  3. Jangan Tergoda Nikah “Diam-diam” — karena pernikahan bukan sekadar akad, tetapi membentuk keluarga, melindungi kehormatan, dan menjaga generasi. Lakukan secara terbuka dan bertanggung-jawab.
  4. Sosialisasikan Hukum & Dampak Nikah Siri — terutama di lingkungan kampung, keluarga, dan generasi muda, agar memahami konsekuensi sosial dan hukum.
  5. Utamakan Keadilan bagi Perempuan & Anak — Islam dan undang-undang negara mengajarkan perlindungan hak; nikah resmi adalah cara konkret untuk menegakkan hak tersebut.

Pernikahan dalam Islam bukan sekadar akad dan cinta antara dua insan, tetapi juga komitmen, tanggung jawab, dan perlindungan hak. Praktik “nikah siri”, meskipun oleh sebagian dipandang sah secara agama, ternyata menyimpan banyak risiko kemudaratan sosial dan hukum. Oleh karena itu, sesuai dengan fatwa dan pernyataan Majelis Ulama Indonesia “nikah siri sah secara agama, tetapi haram jika menzalimi atau merugikan.”

Sebagai umat Muslim dan bagian dari komunitas NU, sudah sepatutnya kita menegakkan pernikahan yang tidak hanya sah di mata Allah, tetapi juga di mata negara untuk menjamin keadilan, kemuliaan, dan kesejahteraan bagi perempuan, anak, dan masa depan keluarga.

Semoga artikel ini bermanfaat untuk warga NU Khususnya warga NU Tegowanu, menjadi pengingat dan edukasi bagi masyarakat agar memilih jalan pernikahan yang benar dan bertanggung jawab.

Ref. (https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-8231215/mui-nikah-siri-sah-tapi-haram)

Khutbah Jum'ah. Keutamaan dan Kekuatan Istighfar

 


Tema: Keutamaan dan Kekuatan Istighfar

اَلْحَمْدُ لِلّٰه الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللّٰهِ شَهِيْدًا أَشْهَدُ أَنْ لَاإِلٰهَ إِلَّااللّٰهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ وأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ

فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَالَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً اَوْ ظَلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللّٰهَ فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْۗ وَمَنْ يَّغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اللّٰهُۗ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلٰى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Kula lan panjenengan sami, marilah kita tingkatkan ketaqwaan dhateng Allah Subhanahu wa Ta’ala, kanthi nindakaken perintah-perintah-Nya lan ninggalaken sedaya larangan-Nya. Mugi-mugi kito kalebet hamba-hamba Allah ingkang tansah istiqamah ing jalan-Nya.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Salah satunggal amalan ingkang cendhak tembungipun nanging ageng ganjaranipun yaiku istighfar. Rasulullah SAW ngendika:

“Thuba liman wujida fi shahifatihi istighfaran katsiran.”

(Beruntunglah seseorang yang dalam catatan amalnya pada hari kiamat nanti terdapat banyak catatan istighfar.) (HR. Ibnu Majah)

Jamaah ingkang dipun muliakaken,

Istighfar menika kalimat singkat, nanging maknane jero banget. Istighfar tegese nyuwun pangapunten dhateng Allah SWT. Menawi kita sering istighfar, Allah bakal ngapus dosa kita, ngeculake saka siksa, lan paring keringanan urip.

                Para jamaah rahimakumullah,

Kita menika tiyang awam, sing saben dinten urip ing dunya kanthi warna-warna godaan. Kadhang kala lisan kita ora bisa dijaga, mata kita salah pandang, kuping kita ngrungokke perkara sing ora perlu, pikiran kita kebak suudzon lan iri marang tiyang sanes. Niku kabeh kalebet maksiat lahir lan maksiat batin. Sanajan kita usaha kanggo nyingkiri, nanging ora gampang. Wong urip mesti ana salah lan dosa. Mula saka kuwi, istighfar dadi benteng lan pembersih dosa sing paling gampang lan paling kuat. Rasulullah ﷺ, sing wis dijamin maksum (bebas dosa), malah beristighfar luwih saka 70 utawa 100 kali saben dina. Opomalih  malih kita, umat biasa, ingkang saben dinten kebak kekeliruan lan dosa.

                Jamaah Jumat rahimakumullah,

Menawi dosa-dosa kita diampuni Allah, urip kita bakal luwih tenang. Ati sing resah dadi adem. Pikiran sing sumpek dadi lega. Dalan rezeki sing seret dadi lancar. Punika sebab istighfar boten namung mbusak dosa, nanging ugi mbukak lawang  rahmat Allah lan lawang rezeki.

Allah ngendika dalam Surat Nuh ayat 10–12:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ,يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا ,وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا.

Artosipun:
“Mula kulo ngendika dhateng para kawula wau: Nyuwuna pangapuntena dhateng Gusti Pangeran panjenengan sedaya, satemenipun Gusti Allah punika Maha Ngapura. Menawi panjenengan tansah nyuwun pangapunten, mesthi Gusti Allah badhe nurunaken udan ingkang kathah saking langit, paring rezeki ingkang kathah lan berkah, ngluberaken anak-turun ingkang sae, lan paring pepanthan kebon-kebon subur saha kali-kali ingkang mili banyune.”

    Jamaah rahimakumullah, 

Ayat niki nerangake, menawi kita ngelakoni istighfar kanthi sungguh-sungguh, Allah bakal paring empat hal besar:

  1. Ampunan dosa, sing nyebabake ati dadi bersih lan tentrem.
  2. Diturunake hujan, tegese barokah lan kesuburan bumi.
  3. Diperbanyak harta dan anak, tegese rezeki sing luas lan keturunan sing saleh.
  4. Dianugrahi kebun lan sungai, tegese nikmat dunya lan akhirat.

Maka, menawi kito pingin urip ayem, rezeki lancar, bumi subur, lan keluarga berkah, perbanyaklah istighfar.

Para jamaah rahimakumullah,

Akeh tiyang nalika ngalami masalah rezeki seret, usaha mandeg, omah oamh mboten rukun, anak durhaka, nanging lali kanggo merenungi sebab batinipun.

Kadhangkala sebab utama ora lancaripun urip yaiku karena dosa-dosa sing durung diampuni.
Mula saka kuwi, solusi pertama dudu mung usaha lahiriah, tapi perbanyak istighfar.

Sinten tiyang ingkang tansah ngelakoni istighfar saben dina,

Allah bakal paring furujan min kulli hammin wa makhrajan min kulli dhayqin “jalan keluar dari setiap kesempitan dan solusi dari setiap masalah”.

Jamaah rahimakumullah

Ayo kita sami istiqamah ngucap: Astaghfirullah al-‘azhim alladzi la ilaha illa huwa al-hayyul qayyum wa atubu ilaih. Ucapan niku ora namung ana ing lisan, nanging kudu mlebu ing ati, ngrasa nyesel marang dosa, lan janji ora mbaleni maleh.Mugi kita kalebet hamba-hamba Allah sing rajin istighfar,mugi dosa kita dipun hapus, urip kita dipun berkahi, lan akhiripun dipun tutup kanthi husnul khatimah. آمين يا رب العالمين

Khutbah Jum'ah_ Al Hikam 5



امحمد لله الذي جعل التقوى خيرَ زاد، وأمرنا أن نتزود بها ليوم المعاد.
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وهو أكرم الأكرمين، وأشهد أن سيدنا محمدًا عبده ورسوله، الموصوف بالخُلُق العظيم اللهم صلِّ وسلم وبارك على سيدنا محمد، وعلى آله وأصحابه، ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين.
أما بعد، فيا أيها المسلمون رحمكم الله، أوصيكم وإياي بتقوى الله، فقد فاز المتقون.

Jamaah Jumat rahimakumullah,
Pada khutbah kali ini, khatib akan mengawali dengan sebuah nasihat agung dari seorang ulama besar, Syekh Ibnu Atha’illah As-Sakandari, pengarang Kitab Al-Hikam. Beliau berkata:


اجتهادك فيما ضمن لك، وتقصيرك فيما طلب منك، دليل على انطماس البصيرة منك

“Kesungguhanmu terhadap sesuatu yang telah dijamin oleh Allah, dan kelalaianmu terhadap sesuatu yang diperintahkan Allah kepadamu, adalah tanda tertutupnya mata batinmu.”

Jamaah rahimakumullah,

Dalam hikmah ini terdapat dua perkara penting yang harus kita perhatikan:
Pertama: Mā ḍumina laka . ماضمن : الشيىء المضموم

Yaitu perkara yang telah dijamin oleh Allah, yakni rezeki, الذي يحصل له به قوام وجوده في الدنيا

Rezeki adalah segala sesuatu yang menopang kehidupan manusia di dunia: sandang, pangan, dan papan. Semua itu telah ditanggung oleh Allah SWT. Sesuai dengan dengan firman Allah berfirman:

وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لَا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dan betapa banyak makhluk bernyawa yang tidak mampu membawa rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan juga kepadamu. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-‘Ankabut: 60)

Kedua: Mā ṭuliba minka. ماطلب الشيء المطلوب

Yaitu perkara yang dituntut dan diperintahkan oleh Allah,

هو العمل الذي يتوصل به الى سعادة الاخرة والقرب من الله من عبادة وطاعات

berupa amal, ibadah, dan ketaatan, yang dengannya seseorang meraih kebahagiaan akhirat dan kedekatan dengan Allah SWT. Inilah yang harus kita sungguh dalam melaksanakanya

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى

“Dan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.”
(QS. An-Najm: 39)

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Lalu mengapa kita justru bersungguh-sungguh terhadap perkara yang telah dijamin oleh Allah? Dan mengapa kita malah meremehkan serta lalai terhadap perkara yang diperintahkan oleh Allah? Padahal seharusnya kita bersungguh-sungguh dalam menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah dan tidak perlu terlalu mencemaskan perkara yang telah dijamin oleh-Nya.

Mohon ampun, jangan sampai kita salah paham. Karena kesalahpahaman itu dapat menyebabkan iman kita kepada Allah terhambat oleh kesalahpahaman kita sendiri. Iman itu ibarat lampu teplok yang kacanya dipenuhi jelaga, sehingga akhirnya tidak mampu menerangi pikiran kita. Akibatnya, kita justru sibuk mengejar perkara yang sebenarnya sudah dicukupkan oleh Allah SWT, yaitu rezeki, dan menyia-nyiakan perkara yang telah diperintahkan oleh Allah, yaitu beribadah.

Kesalahan mendasar yang ada dalam pikiran kita adalah anggapan bahwa “orang yang tidak bekerja atau tidak mencari nafkah tidak akan mendapatkan rezeki”. Padahal rezeki itu diberikan oleh Allah. Bekerja atau tidak bekerja belum tentu menjadikan seseorang diberi rezeki oleh Allah, karena rezeki merupakan satu paket dengan kehidupan. Selama manusia hidup, Allah telah mencukupkan rezekinya. Namun, cukup itu berbeda dengan puas. Ketika hati kita belum merasa cukup atau masih merasa kurang, yang muncul adalah keinginan untuk terus mencari kepuasan, padahal kepuasan itu tidak ada batasnya. Dan kepuasan pun diberikan oleh Allah dengan cara-Nya sendiri, bukan dengan cara kita. Allah Maha Memiliki karunia yang agung.

Bekerja itu pada hakikatnya bukan untuk mencari rezeki. Bekerja adalah upaya untuk meraih kemuliaan dan membagi manfaat sesuai dengan porsi kemampuan yang telah dianugerahkan kepada kita. Jika seseorang diberi kemampuan sebagai tukang, maka bekerjalah melalui keahliannya sebagai tukang. Jika diberi kemampuan bertani, maka bekerjalah melalui pertanian dan bidang yang sejenis dengannya.

Maka mohon ampun, jangan sampai kita memiliki cara berpikir dan keyakinan bahwa “kalau tidak menjadi tukang tidak akan mendapat rezeki, kalau tidak bertani tidak akan mendapat rezeki”. Menjadi tukang atau bertani hanyalah bentuk pembagian manfaat dari kemampuan yang telah dianugerahkan oleh Allah. Jika seseorang diberi kemampuan sebagai tukang, petani, atau kemampuan lainnya, lalu kemampuan itu tidak digunakan dan ia tidak mau bekerja, maka hal tersebut justru termasuk menyia-nyiakan pemberian Allah SWT.

Rezeki itu adalah jatah dari Allah dan pasti akan dicukupkan oleh-Nya. Sedangkan bekerja adalah perintah yang wajib kita laksanakan. Karena itu, yang seharusnya kita sungguh-sungguhkan adalah menjalankan perintah-Nya, bukan terlalu mencemaskan rezeki-Nya. Jika seseorang masih lebih mementingkan rezeki dan meremehkan perintah Allah, maka menurut Ibnu Athaillah, ia termasuk orang yang hatinya tertutup.*

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Demikian khutbah yang dapat disampaikan. Semoga kita mampu mengambil hikmah dari Kitab Al-Hikam, dan semoga Allah SWT memberi kita hidayah agar mampu memahami dan mengamalkan ilmu-Nya.

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم.
أقول قولي هذا، وأستغفر الله العظيم لي ولكم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

Bimbingan Calon Pengantin (Bimcatin) kepada pasangan calon pengantin Daryanto dan Dika Novia Pangestuti

  aporan Kegiatan Bimbingan Calon Pengantin (Bimwin/Bimcatin) P ada tanggal 3 Juni 2026, KUA Kecamatan Tegowanu melaksanakan kegiatan Bimbi...