- Wanita yang mengalami haid tidak teratur (termasuk akibat KB):
- Kembali pada adat haid sebelumnya
- Jika tidak ada, menggunakan tamyîz
- Jika tidak bisa, mengikuti kebiasaan umum (6–7 hari)
- Darah di luar itu adalah istihâdhah, dan wanita tetap menjalankan ibadah
CAHAYA SULUH adalah blog yang dikelola oleh Abdul Khanip. Blog ini menjadi media berbagi cahaya ilmu, nasihat keagamaan, dan nilai-nilai Islam yang sederhana, sejuk, dan membumi. Melalui tulisan singkat dan mudah dipahami, CAHAYA SULUH diharapkan mampu membimbing masyarakat menuju pemahaman agama yang bijak, moderat, dan penuh hikmah dalam kehidupan sehari-hari.
Selasa, 27 Januari 2026
Ketika Darah Haid Tak Menentu: Solusi Fikih bagi Perempuan. (Obrolan Teman KUA)
Senin, 26 Januari 2026
Hukum Menggabungkan Puasa Qadha Ramadhan dan Puasa Sunnah Sya’ban
Bulan Sya’ban merupakan salah satu bulan yang memiliki keistimewaan besar dalam Islam. Di bulan ini terjadi beberapa peristiwa penting, di antaranya perpindahan kiblat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram, diangkatnya catatan amal manusia, serta turunnya perintah bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Karena keutamaannya, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh, seperti membaca Al-Qur’an, bershalawat, beristighfar, dan berpuasa sunnah.
Hukum Menggabungkan Puasa Wajib dan Puasa Sunnah
Kamis, 22 Januari 2026
Hukum Memotong Rambut dan Kuku Saat Haid
Rabu, 21 Januari 2026
Fahilah bulan Sya'ban
حَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ فَضَّلَ شَهْرَ شَعْبَانَ، وَجَعَلَهُ مَقْدِمَةً لِرَمَضَانَ، وَخَصَّهُ بِالْخَيْرَاتِ وَالْبَرَكَاتِ وَالرَّحْمَاتِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ! أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْن
وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ
Senin, 19 Januari 2026
Nikah Siri: Sah secara Agama, Tapi Haram Karena Madharat — Memahami Sikap MUI
Dalam kehidupan masyarakat Muslim di Indonesia, praktik Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjadi rujukan penting ketika muncul pertanyaan tentang status pernikahan yang disebut “nikah siri”. Baru-baru ini dalam pernyataan tertanggal 25 November 2025, MUI kembali menegaskan bahwa nikah siri, meskipun memenuhi syarat dan rukun pernikahan secara agama, tetap haram bila dalam praktiknya menimbulkan kerugian atau mudarat terutama bagi istri dan anak.
Artikel ini berupaya menjelaskan secara ringkas dan sistematis bagaimana hukum nikah siri menurut syariat Islam, sikap MUI terkini, serta rekomendasi bagi umat Muslim agar menghindari mudarat dan menjamin keadilan bagi seluruh pihak.
- Apa Itu Nikah Siri? — Definisi dan Bentuknya
Istilah “nikah siri” umumnya digunakan di Indonesia untuk merujuk pada pernikahan yang dilakukan secara Islam (akad, ijab-kabul, wali, saksi) tetapi tidak dicatat secara resmi di instansi yang berwenang (misalnya Kantor Urusan Agama / KUA).
Menurut MUI (melalui penjelasan KH Cholil Nafis), ada dua bentuk yang sering dianggap sebagai “nikah siri”:
- Bentuk pertama: Pernikahan yang memenuhi seluruh syarat dan rukun Islam, tetapi tidak dicatat di KUA (umum disebut “nikah siri”).
- Bentuk kedua: Pernikahan ilegal — tidak memenuhi syarat/rukun agama (misalnya tanpa wali, saksi) dan dilakukan secara diam-diam. Bentuk ini jelas haram dan batal.
Penting untuk membedakan kedua bentuk ini agar tidak terjadi kekeliruan dalam memahami hukum pernikahan.
- Hukum Islam & Hukum Negara terhadap Nikah Siri
Hukum Syariat (Islam)
- Bila syarat dan rukun pernikahan terpenuhi (mempelai pria-wanita halal menikah, wali, dua saksi adil, ijab-kabul, dan lain-lain sesuai hukum Islam), maka secara agama pernikahan dianggap sah meskipun tidak tercatat secara negara.
- Namun jika rukun/ syarat tidak terpenuhi (contoh: tanpa wali, tanpa saksi), maka pernikahan itu dianggap batal dan hukumnya haram, sama seperti zina.
Hukum Negara Indonesia
- Undang-undang perkawinan di Indonesia mewajibkan pencatatan resmi pernikahan sehingga pernikahan yang tidak dicatat tidak diakui secara hukum negara.
- Tanpa akta nikah resmi, istri dan anak dari pernikahan siri bisa kehilangan hak legal: hak waris, nafkah, pengakuan status anak, akta lahir, dan perlindungan hukum lainnya.
- Mengapa MUI Mengatakan “Sah secara Agama — Tapi Haram”?
Berdasarkan pernyataan MUI November 2025:
- MUI mengakui bahwa syarat/rukun Islam bisa terpenuhi walau tanpa pencatatan negara maka dari sisi agama, nikah tersebut dianggap sah.
- Namun MUI menekankan bahwa praktik nikah siri menyebabkan banyak mudharat (kerugian) terutama terhadap perempuan dan anak. Akibatnya, meskipun secara agama sah, MUI memandang pelaksanaannya tetap haram bila menzalimi atau merugikan pihak tertentu.
- Hak-hak pokok seperti nafkah, waris, status anak, akta resmi bisa hilang. Hal ini dianggap melukai keadilan dan hak asasi manusia dalam kerangka keluarga dan masyarakat.
Dengan demikian, MUI pun mengimbau umat agar menjauhi nikah siri dan memilih jalur resmi yakni menikah dengan pencatatan di KUA, agar sah secara agama dan sesuai hukum negara.
- Implikasi Sosial & Pentingnya Pencatatan Resmi
Ada sejumlah konsekuensi sosial dan hukum dari nikah siri yang membuatnya berisiko:
- Istri dan anak bisa kehilangan pengakuan hukum — misalnya sulit mendapat akta kelahiran, sulit mengklaim hak waris atau nafkah jika terjadi perceraian atau kematian suami.
- Anak bisa dipandang sebagai anak luar nikah oleh hukum negara — mengancam martabat dan hak mereka secara legal maupun sosial.
- Potensi korban terbesar adalah perempuan — jika suami lepas tanggung-jawab, istri dan anak akan sulit menuntut hak karena pernikahan tidak tercatat resmi.
- Praktik nikah siri sering disalahgunakan sebagai “tutup-tutupan”: bisa jadi hanya dalih untuk hubungan tanpa komitmen yang jelas, tanpa tanggung jawab hakiki.
Karena itu, pencatatan resmi pernikahan bukan sekadar administratif — melainkan bentuk perlindungan bagi hak dan kehormatan semua pihak: suami, istri, dan anak.
- Pesan & Rekomendasi bagi Masyarakat Muslim, Termasuk Jamaah NU
Sebagai umat Muslim dan khususnya bagi jamaah di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) ada beberapa nasihat penting berdasarkan pandangan MUI:
- Hindari Nikah Siri meskipun secara agama “sah”, potensi madharat terhadap perempuan dan anak sangat besar. Lebih aman dan adil untuk menikah resmi (akad + pencatatan di KUA).
- Utamakan Akad & Catatan Resmi agar pernikahan mendapat pengakuan hukum negara, serta menjamin hak istri dan anak (nafkah, waris, akta lahir, identitas hukum).
- Jangan Tergoda Nikah “Diam-diam” — karena pernikahan bukan sekadar akad, tetapi membentuk keluarga, melindungi kehormatan, dan menjaga generasi. Lakukan secara terbuka dan bertanggung-jawab.
- Sosialisasikan Hukum & Dampak Nikah Siri — terutama di lingkungan kampung, keluarga, dan generasi muda, agar memahami konsekuensi sosial dan hukum.
- Utamakan Keadilan bagi Perempuan & Anak — Islam dan undang-undang negara mengajarkan perlindungan hak; nikah resmi adalah cara konkret untuk menegakkan hak tersebut.
Pernikahan dalam Islam bukan sekadar akad dan cinta antara dua insan, tetapi juga komitmen, tanggung jawab, dan perlindungan hak. Praktik “nikah siri”, meskipun oleh sebagian dipandang sah secara agama, ternyata menyimpan banyak risiko kemudaratan sosial dan hukum. Oleh karena itu, sesuai dengan fatwa dan pernyataan Majelis Ulama Indonesia “nikah siri sah secara agama, tetapi haram jika menzalimi atau merugikan.”
Sebagai umat Muslim dan bagian dari komunitas NU, sudah sepatutnya kita menegakkan pernikahan yang tidak hanya sah di mata Allah, tetapi juga di mata negara untuk menjamin keadilan, kemuliaan, dan kesejahteraan bagi perempuan, anak, dan masa depan keluarga.
Semoga artikel ini bermanfaat untuk warga NU Khususnya warga NU Tegowanu, menjadi pengingat dan edukasi bagi masyarakat agar memilih jalan pernikahan yang benar dan bertanggung jawab.
Ref. (https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-8231215/mui-nikah-siri-sah-tapi-haram)
Khutbah Jum'ah. Keutamaan dan Kekuatan Istighfar
Tema: Keutamaan dan Kekuatan Istighfar
اَلْحَمْدُ لِلّٰه الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللّٰهِ شَهِيْدًا أَشْهَدُ أَنْ لَاإِلٰهَ إِلَّااللّٰهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ وأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ
فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَالَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً اَوْ ظَلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللّٰهَ فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْۗ وَمَنْ يَّغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اللّٰهُۗ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلٰى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Kula lan panjenengan sami, marilah kita tingkatkan ketaqwaan dhateng Allah Subhanahu wa Ta’ala, kanthi nindakaken perintah-perintah-Nya lan ninggalaken sedaya larangan-Nya. Mugi-mugi kito kalebet hamba-hamba Allah ingkang tansah istiqamah ing jalan-Nya.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Salah satunggal amalan ingkang cendhak tembungipun nanging ageng ganjaranipun yaiku istighfar. Rasulullah SAW ngendika:
“Thuba liman wujida fi shahifatihi istighfaran katsiran.”
(Beruntunglah seseorang yang dalam catatan amalnya pada hari kiamat nanti terdapat banyak catatan istighfar.) (HR. Ibnu Majah)
Jamaah ingkang dipun muliakaken,
Istighfar menika kalimat singkat, nanging maknane jero banget. Istighfar tegese nyuwun pangapunten dhateng Allah SWT. Menawi kita sering istighfar, Allah bakal ngapus dosa kita, ngeculake saka siksa, lan paring keringanan urip.
Para jamaah rahimakumullah,
Kita menika tiyang awam, sing saben dinten urip ing dunya kanthi warna-warna godaan. Kadhang kala lisan kita ora bisa dijaga, mata kita salah pandang, kuping kita ngrungokke perkara sing ora perlu, pikiran kita kebak suudzon lan iri marang tiyang sanes. Niku kabeh kalebet maksiat lahir lan maksiat batin. Sanajan kita usaha kanggo nyingkiri, nanging ora gampang. Wong urip mesti ana salah lan dosa. Mula saka kuwi, istighfar dadi benteng lan pembersih dosa sing paling gampang lan paling kuat. Rasulullah ﷺ, sing wis dijamin maksum (bebas dosa), malah beristighfar luwih saka 70 utawa 100 kali saben dina. Opomalih malih kita, umat biasa, ingkang saben dinten kebak kekeliruan lan dosa.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Menawi dosa-dosa kita diampuni Allah, urip kita bakal luwih tenang. Ati sing resah dadi adem. Pikiran sing sumpek dadi lega. Dalan rezeki sing seret dadi lancar. Punika sebab istighfar boten namung mbusak dosa, nanging ugi mbukak lawang rahmat Allah lan lawang rezeki.
Allah ngendika dalam Surat Nuh ayat 10–12:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ,يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا ,وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا.
Artosipun:
“Mula kulo ngendika dhateng para kawula wau: Nyuwuna pangapuntena dhateng Gusti Pangeran panjenengan sedaya, satemenipun Gusti Allah punika Maha Ngapura. Menawi panjenengan tansah nyuwun pangapunten, mesthi Gusti Allah badhe nurunaken udan ingkang kathah saking langit, paring rezeki ingkang kathah lan berkah, ngluberaken anak-turun ingkang sae, lan paring pepanthan kebon-kebon subur saha kali-kali ingkang mili banyune.”
Jamaah rahimakumullah,
Ayat niki nerangake, menawi kita ngelakoni istighfar kanthi sungguh-sungguh, Allah bakal paring empat hal besar:
- Ampunan dosa, sing nyebabake ati dadi bersih lan tentrem.
- Diturunake hujan, tegese barokah lan kesuburan bumi.
- Diperbanyak harta dan anak, tegese rezeki sing luas lan keturunan sing saleh.
- Dianugrahi kebun lan sungai, tegese nikmat dunya lan akhirat.
Maka, menawi kito pingin urip ayem, rezeki lancar, bumi subur, lan keluarga berkah, perbanyaklah istighfar.
Para jamaah rahimakumullah,
Akeh tiyang nalika ngalami masalah rezeki seret, usaha mandeg, omah oamh mboten rukun, anak durhaka, nanging lali kanggo merenungi sebab batinipun.
Kadhangkala sebab utama ora lancaripun urip yaiku karena dosa-dosa sing durung diampuni.
Mula saka kuwi, solusi pertama dudu mung usaha lahiriah, tapi perbanyak istighfar.
Sinten tiyang ingkang tansah ngelakoni istighfar saben dina,
Allah bakal paring furujan min kulli hammin wa makhrajan min kulli dhayqin “jalan keluar dari setiap kesempitan dan solusi dari setiap masalah”.
Jamaah rahimakumullah
Ayo kita sami istiqamah ngucap: Astaghfirullah al-‘azhim alladzi la ilaha illa huwa al-hayyul qayyum wa atubu ilaih. Ucapan niku ora namung ana ing lisan, nanging kudu mlebu ing ati, ngrasa nyesel marang dosa, lan janji ora mbaleni maleh.Mugi kita kalebet hamba-hamba Allah sing rajin istighfar,mugi dosa kita dipun hapus, urip kita dipun berkahi, lan akhiripun dipun tutup kanthi husnul khatimah. آمين يا رب العالمين
Khutbah Jum'ah_ Al Hikam 5
Bimbingan Calon Pengantin (Bimcatin) kepada pasangan calon pengantin Daryanto dan Dika Novia Pangestuti
aporan Kegiatan Bimbingan Calon Pengantin (Bimwin/Bimcatin) P ada tanggal 3 Juni 2026, KUA Kecamatan Tegowanu melaksanakan kegiatan Bimbi...
-
Dalam kehidupan masyarakat Muslim di Indonesia, praktik Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjadi rujukan penting ketika muncul pertanyaan tenta...
-
اَللهُ اَكْبَرْ (×9) اَلْحَمْدُ ِللهِ المبدء المعيد الفعال لما يريد الذي خلق الانسان فمنهم شقي وسعيد وَاَشْهَدُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ ...
-
Puasa tidak hanya diwajibkan kepada umat Nabi Muhammad semata, tetapi juga telah diwajibkan kepada umat-umat terdahulu...






