
Bulan Sya’ban merupakan salah satu bulan yang memiliki keistimewaan besar dalam Islam. Di bulan ini terjadi beberapa peristiwa penting, di antaranya perpindahan kiblat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram, diangkatnya catatan amal manusia, serta turunnya perintah bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Karena keutamaannya, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh, seperti membaca Al-Qur’an, bershalawat, beristighfar, dan berpuasa sunnah.
Anjuran memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban didasarkan pada hadis Sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ
Artinya:
Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW menyempurnakan puasa sebulan penuh selain di bulan Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa sunnah dibandingkan di bulan Sya’ban. (HR. al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 1969)
Hadis ini menunjukkan betapa besar perhatian Rasulullah SAW terhadap puasa sunnah di bulan Sya’ban. Namun muncul pertanyaan di tengah masyarakat: bagaimana jika seseorang masih memiliki utang puasa (qadha) Ramadhan? Apakah boleh menggabungkan puasa qadha Ramadhan dengan puasa sunnah Sya’ban?
Hukum Menggabungkan Puasa Wajib dan Puasa Sunnah
Masalah menggabungkan niat puasa wajib dan puasa sunnah (dikenal dengan istilah tasyrik an-niyyah) merupakan persoalan yang diperselisihkan para ulama. Hal ini karena tidak terdapat nash yang secara tegas melarang ataupun memerintahkannya. Meski demikian, sejumlah ulama membolehkannya, khususnya dalam mazhab Syafi’i.
Imam As-Suyuthi menjelaskan:
صَامَ فِي يَوْمِ عَرَفَةَ قَضَاءً أَوْ نَذْرًا أَوْ كَفَّارَةً، وَنَوَى مَعَهُ صَوْمَ عَرَفَةَ، فَأَفْتَى الْبَارِزِيُّ بِالصِّحَّةِ وَالْحُصُولِ عَنْهُمَا
Artinya:
Seseorang berpuasa di hari Arafah untuk qadha, nadzar, atau kafarat, dan sekaligus berniat puasa sunnah Arafah, maka Imam al-Barizi berfatwa bahwa puasanya sah dan memperoleh pahala keduanya.
(Imam As-Suyuthi, Al-Asybah wa an-Nazhair, Dar al-Kutub, Beirut, hlm. 22)
Pendapat ini diperkuat oleh ulama lainnya seperti Imam Syamsuddin ar-Ramli, al-Asfuni, an-Nasyiri, dan al-Faqih Ali bin Shaleh al-Hadrami. Imam Ibnu Hajar al-Haitami menjelaskan:
وَلَوْ صَامَ فِي شَوَّالٍ قَضَاءً أَوْ نَذْرًا أَوْ غَيْرَهُمَا أَوْ فِي نَحْوِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ حَصَلَ لَهُ ثَوَابُ تَطَوُّعِهَا
Artinya:
Jika seseorang berpuasa qadha, nadzar, atau lainnya di bulan Syawal atau pada hari ‘Asyura, maka ia tetap mendapatkan pahala puasa sunnah tersebut. (Ibnu Hajar al-Haitami, Hawasyi asy-Syarwani ‘ala Tuhfatil Muhtaj, juz IV, hlm. 457)
Analogi Fikih (Qiyas)
Kebolehan ini juga dianalogikan dengan mandi junub yang dilakukan pada hari Jumat. Jika seseorang berniat mandi wajib (junub) dan bertepatan dengan hari Jumat, maka ia sekaligus mendapatkan pahala mandi sunnah Jumat.
Qadha Puasa di Bulan Sya’ban
Diriwayatkan pula bahwa Sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengqadha puasa Ramadhan di bulan Sya’ban, karena kesibukannya melayani Rasulullah SAW. Hal ini menunjukkan bolehnya qadha puasa dilakukan di bulan Sya’ban, bahkan sangat dianjurkan agar utang puasa diselesaikan sebelum masuk Ramadhan berikutnya.
Kesimpulan
Menggabungkan puasa qadha Ramadhan dengan puasa sunnah Sya’ban hukumnya boleh menurut sebagian besar ulama mazhab Syafi’i.
Puasa qadhanya sah dan pahala puasa sunnah tetap diharapkan.
Namun, karena qadha Ramadhan bersifat wajib, maka menyelesaikan qadha harus lebih diutamakan sebelum datang Ramadhan berikutnya.
Semoga penjelasan ini bermanfaat dan dapat menjadi panduan bagi umat Islam dalam menjalankan ibadah puasa secara benar dan penuh keberkahan.
Disusun dan disempurnakan : Abdul Khanip – Penyuluh Agama Islam KUA Tegowanu
Sumber utama: NU Online Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar