Senin, 25 Mei 2026

Khutbah Idul Adha


الحمد لله الحمد لله الذي هدانا لهذا وما كنا لنهتدي لولا أن هدانا الله، نحمده سبحانه وتعالى ونستعينه ونستغفره ونتوب إليه، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له.
وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا محمدًا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

أما بعد

فيا عباد الله، أوصيكم ونفسي بتقوى الله فقد فاز المتقون.

Jamaah Sholat idul Adha rahimakumullah…

Tak terasa hari berganti.Tak lama lagi peristiwa agung itu kembali terulang.Peristiwa yang setiap tahun kita kenang dengan tetesan air mata, dengan takbir yang menggema, dengan hati yang bergetar mengingat pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘alaihimassalam.

Bukan peristiwa biasa…Tetapi peristiwa yang menguji cinta seorang hamba kepada Rabb-nya. Bayangkanlah… Seorang ayah yang puluhan tahun tidak memiliki anak.
Bukan satu tahun… Bukan dua tahun…Tetapi delapan puluh enam tahun lamanya menunggu keturunan. Pagi, siang, sore, dan malam ia berdoa:

﴿رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ﴾  “Ya Rabb, anugerahkanlah kepadaku anak yang saleh.” (QS. Ash-Shaffat: 100)

Doa itu terus dipanjatkan dengan linangan air mata. Betapa rindunya ia kepada seorang anak. Betapa besar harapannya untuk mendengar suara mungil memanggil dirinya sebagai ayah. Hingga akhirnya Allah mengabulkan doa itu.
Lahir seorang anak yang sangat dicintainya: Ismail ‘alaihissalam.

Namun ketika cinta itu mulai tumbuh, ketika kebahagiaan itu mulai sempurna, Allah menguji Nabi Ibrahim. Allah tidak meminta kambingnya. Allah tidak meminta untanya.
Allah tidak meminta hartanya. Tetapi Allah meminta sesuatu yang paling ia cintai. Allah meminta anak yang puluhan tahun ia nanti. Karena cinta kepada Allah tidak boleh dikalahkan oleh cinta kepada selain-Nya. Rasulullah bersabda:

«لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ»

“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai aku lebih ia cintai daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Sungguh berat ujian itu. Namun Nabi Ibrahim tidak membantah.
Beliau mendatangi putranya dengan hati yang hancur. Dengan suara bergetar beliau berkata:

﴿يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ﴾

“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu?” (QS. Ash-Shaffat: 102)

Kalimat itu bukan sekadar pertanyaan. Itu adalah tangisan seorang ayah.
Itu adalah ujian keimanan. Itu adalah pertaruhan antara cinta kepada anak dan cinta kepada Allah. Dan jawaban Ismail adalah jawaban yang mengguncang langit.

Ia tidak berkata: “Wahai Ibrahim…” Tidak. Ia menjawab dengan penuh kelembutan:

﴿يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ﴾ “Wahai ayahandaku tercinta…”

“Laksanakanlah apa yang diperintahkan Allah.”

Panggilan penuh kasih.

Panggilan seorang anak yang dibesarkan dengan makanan halal, dengan doa, dengan iman, dan dengan pendidikan tauhid.

Lalu Ismail berkata:

﴿سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ﴾

 “Engkau akan mendapatiku, insya Allah, termasuk orang-orang yang sabar.”
(QS. Ash-Shaffat: 102)

Perhatikan kalimatnya…

Ia tidak sombong.

Ia tidak berkata, “Aku pasti sabar.”

Tetapi ia berkata:

“Insya Allah…”

Karena orang beriman tidak pernah merasa hebat di hadapan Allah.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Sudah berapa tahun kita mengulang peristiwa ini?

Karena itu dinamakan Idul Adha.

“‘Id” artinya sesuatu yang terus kembali berulang.

Kalau usia kita empat puluh tahun, berarti empat puluh kali kita mendengar kisah ini.

Namun pertanyaannya…

Apakah anak-anak kita hari ini akan menjawab seperti jawaban Nabi Ismail?

Apakah anak-anak kita masih tunduk kepada Allah?

Apakah mereka masih mencintai shalat?

Apakah mereka masih bangga dengan Al-Qur’an?

Ataukah mereka justru malu kepada agama?

Inilah yang seharusnya membuat kita menangis di hari raya ini.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Anak-anak itu ibarat tanah subur.

Allah tidak menciptakan mereka kosong.

Rasulullah bersabda:

«كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ»

 


 “Setiap anak lahir dalam keadaan fitrah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Fitrah itu bukan kertas kosong.

Fitrah itu bukan jiwa tanpa arah.

Kata para ulama, fitrah adalah fitrah Islam.

Sebelum anak-anak itu lahir ke dunia, ruh mereka sudah bersaksi di hadapan Allah.

Allah berfirman:

﴿وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ شَهِدْنَا﴾
“Alastu birabbikum?”

“Bukankah Aku ini Tuhan kalian?”

“Balaa syahidna…”

“Benar, kami bersaksi.”


(QS. Al-A‘raf: 172)

Hari ini setelah khutbah ini selesai, nanti di dalam shalat kita akan kembali mengucapkan syahadat.

أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدًا رسول الله

Pagi, siang, sore, dan malam kita terus mengulang persaksian itu.

Tetapi pertanyaannya…

Apakah anak-anak kita juga masih memiliki keyakinan yang sama?

Inilah yang dahulu dikhawatirkan Nabi Ya‘qub ‘alaihissalam.

Menjelang wafatnya beliau bertanya kepada anak-anaknya:

﴿مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي﴾


“Apa yang kalian sembah setelah aku meninggal?” (QS. Al-Baqarah: 133)

Lihat…

Yang beliau khawatirkan bukan makanan anak-anaknya.

Karena rezeki sudah dijamin Allah.

Allah berfirman:

﴿وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا﴾


“Tidak ada satu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah yang menjamin rezekinya.” (QS. Hud: 6)

Cacing di dalam tanah tetap diberi makan oleh Allah.
Burung yang terbang di angkasa tetap diberi rezeki oleh Allah.

Tetapi yang dikhawatirkan para nabi adalah akidah anak-anaknya.

Apakah mereka istiqamah sampai akhir hayat?

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Ketika anak lahir, kita yang pertama kali membisikkan adzan dan iqamah ke telinganya.

Dengan suara lirih dan air mata kita ucapkan:

الله أكبر الله أكبر

أشهد أن لا إله إلا الله

Apa sebenarnya yang kita inginkan dari anak-anak itu?

Kita tidak berharap mereka hanya membangunkan rumah besar untuk kita.
Kita tidak berharap mereka sekadar memberi kemewahan dunia.

Yang kita harapkan hanyalah satu…

Kelak ketika tubuh kita terbujur kaku, ketika nyawa sampai di tenggorokan, ketika semua keluarga menangis di sekitar kita…

Kita ingin anak kita mendekat ke telinga kita lalu membisikkan:

لا إله إلا الله

Itulah kebahagiaan sejati seorang ayah dan ibu.

Tidak ada gunanya anak kaya raya tetapi jauh dari agama.
Tidak ada gunanya jabatan tinggi tetapi membangkang kepada Allah.

Karena yang kita minta dalam doa adalah:

﴿رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ﴾

“Ya Rabb kami, anugerahkan kepada kami pasangan dan keturunan yang menyejukkan mata.” (QS. Al-Furqan: 74)

Qurrata a‘yun…

Sejuk dipandang mata.

Bukan panas hati melihatnya.

Jangan sampai ketika kita membaca Al-Qur’an, anak kita justru sinis kepada agama.

Jangan sampai ketika kita shalat, mereka malah menertawakan ibadah.

Jangan sampai ketika kita mengangkat tangan berdoa, mereka menganggap agama hanya cerita masa lalu.

Tubuh mereka memang hidup…

Tetapi jika iman rusak, maka jiwanya telah hancur.

Lalu siapa yang merusaknya?

Apakah televisi?

Apakah internet?

Apakah lingkungan?

Jangan terlalu sibuk menyalahkan dunia luar.

Karena Rasulullah telah bersabda:

«فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ»

 “Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Maka renungkanlah…

Di mana kita ketika anak membutuhkan pendidikan agama?

Di mana kita ketika ia ingin menunjukkan hafalan surat pendeknya?

Di mana kita ketika ia membutuhkan pelukan dan kasih sayang?

Ketika anak kehilangan perhatian di rumah, ia akan mencari cinta di luar rumah.
Dan sering kali di situlah kehancurannya dimulai.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Harta sebanyak apa pun akhirnya akan ditinggalkan.

Tanah luas akan berganti nama pemiliknya.

Sertifikat rumah akan berpindah tangan.

Mobil mewah akan diwariskan.

Semua fana.

Rasulullah bersabda:

«يَقُولُ ابْنُ آدَمَ: مَالِي مَالِي، وَهَلْ لَكَ مِنْ مَالِكَ إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ»
“Ma akalta fa afnaita…”

“Apa yang engkau makan akan habis.”

“Wa ma labista fa ablaita…”


“Apa yang engkau pakai akan usang.”

“Wa ma tashaddaqta fa amdhaita.”

“Dan apa yang engkau sedekahkan, itulah yang kekal.”


(HR. Muslim)

Maka di hari Idul Adha ini mari kita belajar dari Ibrahim dan Ismail.

Mari kita didik anak-anak kita dengan iman.

Mari kita hadir untuk mereka sebelum terlambat.

Mari kita tanamkan tauhid sebelum dunia merusak hati mereka.

Karena sesungguhnya warisan terbaik bukan harta…

Tetapi anak saleh yang mendoakan orang tuanya sampai liang kubur.

Rasulullah bersabda:

«إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ»
“Apabila manusia meninggal dunia maka terputus amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم، أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

 

Tidak ada komentar:

Bimbingan Calon Pengantin (Bimcatin) kepada pasangan calon pengantin Daryanto dan Dika Novia Pangestuti

  aporan Kegiatan Bimbingan Calon Pengantin (Bimwin/Bimcatin) P ada tanggal 3 Juni 2026, KUA Kecamatan Tegowanu melaksanakan kegiatan Bimbi...