Senin, 18 Mei 2026

Tujuan Rumah Tangga dalam Islam: Membangun Sakinah, Mawaddah, Rahmah Menuju Kebahagiaan Dunia dan Akhirat

 


Rumah tangga dalam Islam bukan sekadar hubungan antara laki-laki dan perempuan yang disahkan melalui akad nikah. Pernikahan juga bukan hanya sarana memenuhi kebutuhan biologis, mencari kenyamanan hidup, memiliki rumah yang bagus, kendaraan yang layak, ataupun mengumpulkan harta dunia semata. Semua itu hanyalah bagian kecil dari perjalanan rumah tangga, bukan tujuan akhirnya.

Sebab setelah semua kebutuhan dunia terpenuhi, manusia tetap akan bertanya dalam hatinya: “Setelah ini untuk apa? Apa tujuan sebenarnya dari kehidupan rumah tangga?”

Manusia memiliki keterbatasan dalam memahami dirinya sendiri. Akal manusia terbatas, rencana manusia terbatas, dan gambaran tentang masa depan pun terbatas. Karena itu, konsep rumah tangga yang benar, lengkap, dan mampu mengantarkan kebahagiaan sampai akhirat tidak mungkin hanya disusun berdasarkan logika manusia semata. Konsep itu harus kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai pencipta manusia.

Allah yang menciptakan manusia paling mengetahui kebutuhan manusia, mengetahui kelemahan manusia, memahami persoalan kehidupan manusia, dan memberikan solusi terbaik bagi kehidupan rumah tangga. Allah berfirman:

أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

“Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (apa yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui.”(QS. Al-Mulk: 14)

Karena itu, rumah tangga yang dibangun di atas petunjuk Allah akan memiliki arah yang jelas, bukan hanya bahagia sesaat di dunia tetapi juga menjadi jalan menuju kebahagiaan akhirat.

Allah menjelaskan tujuan besar pernikahan dalam Al-Qur’an:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri supaya kamu mendapatkan ketenangan padanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang.” (QS. Ar-Rum: 21)

Ayat ini menjelaskan tiga fondasi besar rumah tangga Islami:

1. Sakinah (Ketenangan)

Sakinah bukan berarti rumah tangga tanpa masalah. Sakinah adalah ketenangan yang Allah hadirkan setelah seseorang mampu menghadapi ujian dengan iman dan ketakwaan.

Rumah tangga pasti memiliki ujian: perbedaan pendapat, persoalan ekonomi, pengasuhan anak, komunikasi, hingga persoalan emosi. Bahkan rumah tangga Rasulullah yang paling mulia pun tidak lepas dari ujian. Namun setiap masalah dihadapi dengan ilmu, kesabaran, dan petunjuk wahyu.

Kata sakinah berasal dari ketenangan yang menetap di dalam jiwa. Berbeda dengan ketenangan sementara, sakinah adalah keteguhan hati yang membuat seseorang mampu menghadapi persoalan dengan tenang dan bijaksana.

Allah berfirman:

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ

“Dialah yang menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin.”(QS. Al-Fath: 4)

Maka sakinah bukan sekadar hasil kemampuan manusia, tetapi anugerah Allah kepada hamba yang dekat kepada-Nya.

2. Mawaddah (Cinta dan Kecukupan)

Mawaddah adalah cinta yang tampak dalam perhatian, pemberian, tanggung jawab, dan usaha membahagiakan pasangan. Di dalamnya termasuk kecukupan materi yang Allah berikan sehingga rumah tangga menjadi nyaman dan lapang. Karena itu, mencari nafkah dalam Islam bukan hanya urusan dunia, tetapi juga ibadah. Rasulullah bersabda:

وَإِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا أُجِرْتَ بِهَا

“Tidaklah engkau memberikan nafkah dengan mengharap ridha Allah melainkan engkau akan mendapatkan pahala karenanya.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Maka suami yang bekerja dengan niat ibadah, istri yang menjaga rumah tangga dengan niat ibadah, semuanya bernilai pahala di sisi Allah.

3. Rahmah (Kasih Sayang)

Rahmah adalah kasih sayang mendalam yang membuat suami istri tetap bertahan dalam kebaikan walaupun ada kekurangan dan perbedaan.

Cinta bisa naik turun, tetapi rahmah membuat pasangan tetap saling menjaga. Ketika salah satu lemah, yang lain menguatkan. Ketika ada kesalahan, diselesaikan dengan hikmah dan kelembutan.

Rasulullah bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya.” (HR. Tirmidzi)

Hadis ini menunjukkan bahwa ukuran kebaikan seseorang bukan hanya di luar rumah, tetapi terutama bagaimana ia memperlakukan keluarganya sendiri.

Rumah Tangga Adalah Ibadah

Ketika seseorang memahami bahwa rumah tangga adalah ibadah, maka ia akan menjaga rumah tangganya sebagaimana ia menjaga ibadah lainnya.

Pernikahan memiliki rukun dan syarat. Setelah menikah pun ada aturan halal dan haram yang harus dijaga. Suami menjaga tanggung jawabnya, istri menjaga amanahnya, orang tua menjaga pendidikan anak-anaknya. Semua akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Rasulullah bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itu, rumah tangga tidak cukup dibangun hanya dengan cinta, tetapi harus dibangun dengan iman dan ketakwaan.

Ketakwaan Adalah Kunci Kebahagiaan Rumah Tangga

Banyak rumah tangga yang secara materi berkecukupan tetapi tidak bahagia. Sebaliknya, ada keluarga sederhana namun penuh ketenangan. Penyebab utamanya adalah ketakwaan.

Allah menjanjikan solusi dan jalan keluar bagi keluarga yang menjaga ketakwaan:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Talaq: 2–3)

Ketakwaan itu diwujudkan dengan menjaga shalat, membaca Al-Qur’an, memperbanyak dzikir, saling menasihati dalam kebaikan, dan menghadirkan suasana ibadah di dalam rumah.

Rumah yang dipenuhi ibadah akan berbeda suasananya dengan rumah yang jauh dari Allah. Hati penghuninya lebih mudah tenang, persoalan lebih mudah diselesaikan, dan anak-anak lebih mudah diarahkan kepada kebaikan.

Tujuan Akhir Rumah Tangga: Berkumpul Kembali di Surga

Tujuan tertinggi rumah tangga dalam Islam bukan hanya bersama di dunia, tetapi juga bersama kembali di akhirat. Allah berfirman:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ

“Dan orang-orang yang beriman, dan anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka.” (QS. At-Tur: 21)

Ayat ini menunjukkan bahwa keluarga yang dibangun dengan iman dan amal saleh akan dipertemukan kembali oleh Allah di surga.

Karena itu, rumah tangga bukan hanya tentang hidup bersama di dunia beberapa puluh tahun, tetapi perjalanan panjang menuju ridha Allah dan kebahagiaan abadi di akhirat.

 



Tidak ada komentar:

Bimbingan Calon Pengantin (Bimcatin) kepada pasangan calon pengantin Daryanto dan Dika Novia Pangestuti

  aporan Kegiatan Bimbingan Calon Pengantin (Bimwin/Bimcatin) P ada tanggal 3 Juni 2026, KUA Kecamatan Tegowanu melaksanakan kegiatan Bimbi...