
Sebab setelah semua kebutuhan dunia terpenuhi, manusia tetap akan
bertanya dalam hatinya: “Setelah ini untuk apa? Apa tujuan sebenarnya dari
kehidupan rumah tangga?”
Manusia memiliki keterbatasan dalam memahami dirinya sendiri. Akal
manusia terbatas, rencana manusia terbatas, dan gambaran tentang masa depan pun
terbatas. Karena itu, konsep rumah tangga yang benar, lengkap, dan mampu
mengantarkan kebahagiaan sampai akhirat tidak mungkin hanya disusun berdasarkan
logika manusia semata. Konsep itu harus kembali kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala sebagai pencipta manusia.
Allah yang menciptakan manusia paling mengetahui kebutuhan manusia,
mengetahui kelemahan manusia, memahami persoalan kehidupan manusia, dan
memberikan solusi terbaik bagi kehidupan rumah tangga. Allah berfirman:
أَلَا يَعْلَمُ
مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ
“Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (apa yang kamu
lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui.”(QS. Al-Mulk:
14)
Karena itu, rumah tangga yang dibangun di atas petunjuk Allah akan
memiliki arah yang jelas, bukan hanya bahagia sesaat di dunia tetapi juga
menjadi jalan menuju kebahagiaan akhirat.
Allah menjelaskan tujuan besar pernikahan dalam Al-Qur’an:
وَمِنْ آيَاتِهِ
أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ
بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan
untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri supaya kamu mendapatkan ketenangan
padanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang.” (QS. Ar-Rum:
21)
Ayat ini menjelaskan tiga fondasi besar rumah tangga Islami:
1. Sakinah (Ketenangan)
Sakinah bukan berarti rumah tangga tanpa masalah. Sakinah adalah
ketenangan yang Allah hadirkan setelah seseorang mampu menghadapi ujian dengan
iman dan ketakwaan.
Rumah tangga pasti memiliki ujian: perbedaan pendapat, persoalan
ekonomi, pengasuhan anak, komunikasi, hingga persoalan emosi. Bahkan rumah
tangga Rasulullah yang paling mulia pun tidak lepas dari ujian. Namun setiap
masalah dihadapi dengan ilmu, kesabaran, dan petunjuk wahyu.
Kata sakinah berasal dari ketenangan yang menetap di dalam
jiwa. Berbeda dengan ketenangan sementara, sakinah adalah keteguhan hati yang
membuat seseorang mampu menghadapi persoalan dengan tenang dan bijaksana.
Allah berfirman:
هُوَ الَّذِي
أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ
“Dialah yang menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang
mukmin.”(QS.
Al-Fath: 4)
Maka sakinah bukan sekadar hasil kemampuan manusia, tetapi anugerah
Allah kepada hamba yang dekat kepada-Nya.
2. Mawaddah (Cinta dan Kecukupan)
Mawaddah adalah cinta yang tampak dalam perhatian, pemberian,
tanggung jawab, dan usaha membahagiakan pasangan. Di dalamnya termasuk
kecukupan materi yang Allah berikan sehingga rumah tangga menjadi nyaman dan
lapang. Karena itu, mencari nafkah dalam Islam bukan hanya urusan dunia, tetapi
juga ibadah. Rasulullah bersabda:
وَإِنَّكَ لَنْ
تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا أُجِرْتَ بِهَا
“Tidaklah engkau memberikan nafkah dengan mengharap ridha Allah
melainkan engkau akan mendapatkan pahala karenanya.”(HR. Bukhari
dan Muslim)
Maka suami yang bekerja dengan niat ibadah, istri yang menjaga
rumah tangga dengan niat ibadah, semuanya bernilai pahala di sisi Allah.
3. Rahmah (Kasih Sayang)
Rahmah adalah kasih sayang mendalam yang membuat suami istri tetap
bertahan dalam kebaikan walaupun ada kekurangan dan perbedaan.
Cinta bisa naik turun, tetapi rahmah membuat pasangan tetap saling
menjaga. Ketika salah satu lemah, yang lain menguatkan. Ketika ada kesalahan,
diselesaikan dengan hikmah dan kelembutan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُكُمْ
خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya.” (HR. Tirmidzi)
Hadis ini menunjukkan bahwa ukuran kebaikan seseorang bukan hanya
di luar rumah, tetapi terutama bagaimana ia memperlakukan keluarganya sendiri.
Rumah Tangga Adalah Ibadah
Ketika seseorang memahami bahwa rumah tangga adalah ibadah, maka ia
akan menjaga rumah tangganya sebagaimana ia menjaga ibadah lainnya.
Pernikahan memiliki rukun dan syarat. Setelah menikah pun ada
aturan halal dan haram yang harus dijaga. Suami menjaga tanggung jawabnya,
istri menjaga amanahnya, orang tua menjaga pendidikan anak-anaknya. Semua akan
dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Rasulullah bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ
وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai
pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Karena itu, rumah tangga tidak cukup dibangun hanya dengan cinta,
tetapi harus dibangun dengan iman dan ketakwaan.
Ketakwaan Adalah Kunci Kebahagiaan Rumah Tangga
Banyak rumah tangga yang secara materi berkecukupan tetapi tidak
bahagia. Sebaliknya, ada keluarga sederhana namun penuh ketenangan. Penyebab
utamanya adalah ketakwaan.
Allah menjanjikan solusi dan jalan keluar bagi keluarga yang
menjaga ketakwaan:
وَمَنْ يَتَّقِ
اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan
jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak
disangka-sangka.” (QS. At-Talaq: 2–3)
Ketakwaan itu diwujudkan dengan menjaga shalat, membaca Al-Qur’an,
memperbanyak dzikir, saling menasihati dalam kebaikan, dan menghadirkan suasana
ibadah di dalam rumah.
Rumah yang dipenuhi ibadah akan berbeda suasananya dengan rumah
yang jauh dari Allah. Hati penghuninya lebih mudah tenang, persoalan lebih
mudah diselesaikan, dan anak-anak lebih mudah diarahkan kepada kebaikan.
Tujuan Akhir Rumah Tangga: Berkumpul Kembali di Surga
Tujuan tertinggi rumah tangga dalam Islam bukan hanya bersama di
dunia, tetapi juga bersama kembali di akhirat. Allah berfirman:
وَالَّذِينَ
آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ
ذُرِّيَّتَهُمْ
“Dan orang-orang yang beriman, dan anak cucu mereka mengikuti
mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka.” (QS. At-Tur:
21)
Ayat ini menunjukkan bahwa keluarga yang dibangun dengan iman dan
amal saleh akan dipertemukan kembali oleh Allah di surga.
Karena itu, rumah tangga bukan hanya tentang hidup bersama di dunia
beberapa puluh tahun, tetapi perjalanan panjang menuju ridha Allah dan
kebahagiaan abadi di akhirat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar