اَللهُ اَكْبَرْ (×9)
اَلْحَمْدُ ِللهِ المبدء المعيد الفعال لما يريد الذي خلق الانسان فمنهم شقي وسعيد وَاَشْهَدُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ الوفي الوعيد وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ المبعوث بدين التوحيد. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وعلى اله وصجبه علي التابيد اما بعد اِتَّقُوا اللهَ حقاتقاته وَاعْلَمُوْا اَنَّ هَذَا يَوْمُ عِيْدٍ
Allahu Akbar…
Jamaah
Shalat Idul Fitri rahimakumullah,
Suatu
ketika Rasulullah ﷺ pada tanggal 1 Syawal
seperti hari ini, naik ke mimbar untuk menyampaikan khutbah Idul Fitri. Ketika
beliau menaiki mimbar, beliau melangkah tiga anak tangga.
Saat
naik ke tangga pertama, Nabi mengucapkan, “Aamiin.”
Saat
naik ke tangga kedua, beliau kembali mengucapkan, “Aamiin.”
Dan
ketika naik ke tangga ketiga, beliau mengucapkan lagi, “Aamiin.”
Setelah
khutbah selesai, para sahabat bertanya,
“Wahai
Rasulullah, tadi kami mendengar engkau mengucapkan ‘Aamiin’ sampai tiga kali,
dan itu tidak seperti biasanya. Ada apakah gerangan?”
Lalu
Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa saat itu Malaikat Jibril
datang dan membisikkan doa kepada beliau, berdoa kepada Allah terkait keadaan
umat beliau di bulan Ramadhan, dan Rasulullah pun mengaminkannya.
Allahu Akbar…
Jamaah
Shalat Idul Fitri rahimakumullah,
Bayangkan…
Malaikat Jibril, semulia-mulianya malaikat, pemimpin para malaikat, berdoa.
Lalu doa itu diaminkan oleh pemimpin seluruh nabi dan rasul, manusia termulia,
junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ.
Apa doa
Malaikat Jibril tersebut?
“Ya
Allah, jangan Engkau terima shalat, zakat, dan puasa orang yang durhaka kepada
kedua orang tuanya.”
Saudara-saudaraku,
Walaupun
puasa kita baik, tahajud kita setiap malam, tadarus kita dua atau tiga kali
khatam, sedekah kita tidak terhitung jumlahnya tetapi jika kita masih meneteskan air mata
orang tua kita, menyakiti hati mereka, mengecewakan mereka maka demi Allah,
puasa kita bisa tidak ada gunanya. Shalat kita, tahajud kita, sedekah kita,
bisa jadi tidak sampai di hadapan Allah.
Rasulullah
ﷺ pernah ditanya oleh para sahabat, “Wahai
Rasulullah, bagaimana dengan seseorang yang baik agamanya, bagus ibadahnya,
tetapi ia membuat kedua orang tuanya menangis dan kecewa?”
Apa
jawab Nabi?
Anak itu
jangankan masuk surga, mencium bau surga pun tidak akan mampu.
Maka
bersyukurlah jika kedua orang tua kita masih hidup, walaupun dalam keadaan
sakit. Jika kita diberi kesempatan merawat mereka bertahun-tahun, ketahuilah
bahwa itu adalah kemuliaan yang tidak semua anak mendapatkannya.
Karena
setiap kali kita merawat ayah dan ibu kita dengan ikhlas, sesungguhnya Allah
tersenyum kepada kita. Tidak semua anak diberi kesempatan untuk berbakti dan
merawat orang tuanya.
Maka
muliakanlah ayah dan ibu kita. Lembutkanlah ucapan kita kepada mereka. Berikan
yang terbaik dari harta dan perhatian kita. Karena apa pun yang kita miliki
hari ini adalah buah dari jasa, doa, dan pengorbanan mereka.
Berapa kali ibu kita kelelahan, terbangun di
tengah malam karena tangisan kita?
Berapa kali beliau mengganti pakaian karena air
kencing kita?
Berapa kali beliau harus keluar dari keramaian
karena kita menangis?
Berapa kali ibu kita meninggalkan puasa, tidak
menyempurnakan puasanya karena sedang mengandung dan menyusui kita?
Dan berapa kali pula ayah dan ibu kita menahan
lapar, menahan lelah, menahan keinginan, demi mengalah untuk kita?
Semua itu tidak bisa dihitung dengan jari-jari
kita. Semua itu adalah bukti pengorbanan yang luar biasa untuk kita.
Lalu apa yang bisa kita balas di hari bahagia
ini?
Seandainya kita memiliki harta yang melimpah,
itu pun tidak akan mampu menebus kasih sayang yang telah mereka berikan. Yang
bisa kita lakukan hanyalah berdoa:
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا
كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan dosa kedua
orang tuaku, dan sayangilah mereka sebagaimana mereka telah merawat dan
mendidikku ketika aku masih kecil.”
Diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab pernah
bertanya kepada Rasulullah,
“Ya Rasulullah, aku mungkin tidak bisa melihat wajah Allah di dunia ini. Tetapi
aku ingin tahu, bagaimana tanda Allah tersenyum ridha kepadaku?”
Maka Nabi menjawab,
“Buatlah kedua orang tuamu tersenyum, niscaya
Allah akan tersenyum kepadamu.”
Maka di hari Lebaran ini, mari kita buat ayah
dan ibu kita tersenyum bahagia dan ridha kepada kita. Jika mereka ridha, Allah
pun akan ridha kepada kita.
Tidak ada gunanya kita beramai-ramai pergi ke
tempat hiburan jika kita belum berkunjung ke rumah orang tua kita. Datangilah
mereka. Cium tangan dan kaki mereka. Jangan lepaskan sampai mereka berkata,
“Sudah Nak… Bapak, Ibu maafkan… lahir dan
batin.”
Kemuliaan orang tua itu luar biasa. Bahkan
sebelum kita meminta maaf pun, sering kali mereka sudah berkata,
“Nak, tidak ada salah apa-apa… kalaupun ada,
sudah Ibu maafkan.”
Di luar sana banyak orang yang ingin pulang,
ingin mudik, ingin mencium tangan ibu bapaknya yang mulai keriput, ingin
memeluk tubuh mereka yang mulai rapuh. Tetapi tidak mampu pulang karena
keterbatasan biaya atau keadaan.
Maka kita yang masih memiliki orang tua di
dekat kita, jangan sia-siakan kesempatan ini. Datangilah mereka. Buat mereka
tersenyum dan ridha kepada kita. Insya Allah, Allah pun akan tersenyum dan
ridha kepada kita.
Jika kita ingin menyumbang pembangunan masjid,
kita bisa transfer.
Jika ingin membantu fakir miskin, bisa lewat
jasa pengiriman.
Tetapi jika ingin memuliakan orang tua,
datanglah langsung. Sentuhkan tangan kita pada tangan mereka. Peluk mereka.
Karena sesungguhnya, yang mereka butuhkan
bukanlah harta yang banyak. Mereka hanya ingin melihat anak dan cucunya bahagia
di hari yang fitri ini.
Allahu Akbar… jamaah Sholat Idul Fitri
rahimakumullah,
Dalam
salah satu riwayat disebutkan bahwa Malaikat Jibril berdoa dan diaminkan oleh
Nabi, di antaranya: celakalah seorang istri yang durhaka kepada suaminya.
Mengapa istri yang durhaka kepada suami ditekankan? Karena dalam rumah tangga,
suami memikul tanggung jawab besar, bukan hanya di dunia tetapi juga di
akhirat.
Suami
adalah pemimpin dalam keluarganya. Rasulullah bersabda bahwa setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai
pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang suami bertanggung jawab atas
istri dan anak-anaknya. Jika istri tidak shalat, tidak berpuasa, lalai dalam
kewajiban agama, maka di akhirat kelak suamilah yang akan ditanya: “Di mana
tanggung jawabmu? Mengapa keluargamu tidak engkau jaga dari api neraka?”
Sebagaimana firman Allah:
“Quu
anfusakum wa ahlikum naara”
“Jagalah
dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
Jamaah
yang dimuliakan Allah,
Tanggung
jawab suami bukan hanya di akhirat, tetapi juga di dunia. Coba kita bayangkan,
ketika pulang kampung saat Lebaran, jika istri tidak memiliki pakaian yang
layak, anak-anak tidak bisa mengenakan pakaian baru, siapa yang merasa malu dan
memikul beban itu? Suami.
Berapa
banyak suami yang berani berutang ke sana kemari demi agar anak dan istrinya
bisa berlebaran dengan bahagia.
Berapa
kali suami tidak tidur di tengah malam, memikirkan biaya pendidikan anak agar
bisa ikut ujian.
Berapa kali ia memikirkan belanja dapur agar esok hari ada makanan yang bisa
dihidangkan untuk keluarga.
Berapa
kali suami memeras keringat, membanting tulang; panas matahari tidak ia
hiraukan, dingin malam tidak ia pedulikan.
Berapa
kali ia menahan rasa sakit dan lelah, tidak membangunkan istri karena tidak
ingin mengganggu istirahatnya.
Berapa
kali ia menyembunyikan keluh kesah dan penderitaan, karena tidak ingin istrinya
ikut merasakan beban berat yang ia tanggung.
Maka
ketika seorang istri meremehkan suaminya, membentaknya, membuka aibnya,
merendahkan harga dirinya, sungguh itu perbuatan yang sangat berat. Jika ada
ketidaksenangan, carilah jalan terbaik. Bicarakan dengan baik. Jaga kehormatan
pasangan. Jangan sampai kemarahan menurunkan martabat diri sendiri.
Di hari
raya ini, wahai para istri, datangilah suamimu. Cium tangannya yang mungkin
kasar karena bekerja siang malam mencari rezeki. Peluk tubuhnya yang mungkin
legam oleh terik matahari, yang melepuh demi biaya sekolah anak-anakmu agar
kelak menjadi manusia yang mulia dan dihormati.
Dan
sebaliknya, wahai para suami, jadilah suami yang baik. Jadilah teladan.
Bagaimana mungkin anak dan istri kita menjadi baik jika kita sendiri tidak
memberi contoh yang baik? Kepemimpinan bukan hanya tentang perintah, tetapi
tentang keteladanan, kelembutan, dan tanggung jawab.
Allahu
Akbar… jamaah Sholat Idul Fitri rahimakumullah,
Ya
Allah, jangan Engkau terima shalat, zakat, dan puasa orang yang tidak mau
memaafkan sesamanya.
Jamaah
yang dimuliakan Allah,
Ketika
tangan kita terluka karena pisau, lambat laun pasti akan sembuh. Namun ketika
lisan ini melukai hati saudara kita hingga hatinya mati, luka itu sulit
diobati. Luka fisik bisa kering, tetapi luka batin bisa dibawa sampai mati.
Ketika
kuku kita panjang, yang dipotong adalah kukunya, bukan jarinya. Demikian pula
ketika kita memiliki masalah dengan saudara kita, yang dibuang adalah
masalahnya, bukan saudaranya. Jangan sampai perkara warisan, perkara batas
tanah, atau persoalan dunia merusak tali silaturahmi di antara kita.
Memang
memaafkan itu lebih berat daripada meminta maaf. Namun memaafkan itu lebih
mulia daripada meminta maaf, karena kedudukannya berada di atas orang yang
meminta maaf. Orang yang memaafkan adalah orang yang lapang dadanya dan tinggi
derajatnya di sisi Allah.
Selama
bulan Ramadhan, kita memperbaiki hubungan kita dengan Allah. Itulah hubungan ḥablum
minallāh.an di bulan Syawal, di hari Idul Fitri ini, kita
memperbaiki hubungan kita dengan sesama manusia, ḥablum
minannās. Itulah makna silaturahmi dan halal bihalal.
Sengaja
ataupun tidak, besar ataupun kecil, pasti kita punya salah. Jika tidak kepada
Allah, pasti kepada sesama manusia. Para ulama sufi mengajarkan: tidak ada dosa
kecil jika dilakukan terus-menerus, dan tidak ada dosa besar jika disertai
dengan istighfar dan taubat.
Sekecil
apa pun dosa, jika ditumpuk terus-menerus akan menjadi gunung. Sebesar apa pun
dosa, jika digempur dengan istighfar dan taubat, akan hancur dan lebur.
Maka
inilah momen terbaik untuk saling meminta maaf.
Jangan
merasa gengsi karena lebih tua.
Jangan
merasa malu karena lebih muda.
Tidak
harus yang muda selalu mendatangi yang tua. Tidak salah pula yang tua memulai
meminta maaf kepada yang muda. Karena yang kita cari bukan harga diri, tetapi
ridha Allah dan bersihnya hati.
Maka
sepulang dari sholat Id ini, ciumlah tangan orang tua kita, suami atau istri
kita, saudara-saudara kita. Jangan lepaskan sebelum mereka berkata,
“Sudah, Nak… sudah Ibu maafkan.”
“Sudah, Bu… sudah saya maafkan.”
“Sudah,
Dik… aku maafkan.”
Karena
kita tidak pernah tahu, apakah kita masih bisa merasakan Ramadhan dan Lebaran
tahun depan. Bisa jadi inilah Ramadhan terakhir kita. Bisa jadi inilah Idul
Fitri terakhir kita.
Semoga
Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mau meminta maaf dan mau
memaafkan.
Hati kita bersih, dosa kita diampuni, dan silaturahmi kita kembali terjalin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar