Kamis, 19 Februari 2026

Khutbah Idul fitri “Aamiin dari Langit: Jangan Sia-siakan Ridha Orang Tua di Hari Raya”

 

اَللهُ اَكْبَرْ (×9)

اَلْحَمْدُ ِللهِ المبدء المعيد الفعال لما يريد الذي خلق الانسان فمنهم شقي وسعيد  وَاَشْهَدُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ الوفي الوعيد وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ المبعوث بدين التوحيد. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا  وعلى اله وصجبه علي التابيد اما بعد اِتَّقُوا اللهَ حقاتقاته وَاعْلَمُوْا اَنَّ هَذَا يَوْمُ عِيْدٍ 


Allahu Akbar…

Jamaah Shalat Idul Fitri rahimakumullah,

Suatu ketika Rasulullah pada tanggal 1 Syawal seperti hari ini, naik ke mimbar untuk menyampaikan khutbah Idul Fitri. Ketika beliau menaiki mimbar, beliau melangkah tiga anak tangga.

Saat naik ke tangga pertama, Nabi mengucapkan, “Aamiin.”

Saat naik ke tangga kedua, beliau kembali mengucapkan, “Aamiin.”

Dan ketika naik ke tangga ketiga, beliau mengucapkan lagi, “Aamiin.”

Setelah khutbah selesai, para sahabat bertanya,

“Wahai Rasulullah, tadi kami mendengar engkau mengucapkan ‘Aamiin’ sampai tiga kali, dan itu tidak seperti biasanya. Ada apakah gerangan?”

Lalu Rasulullah menjelaskan bahwa saat itu Malaikat Jibril datang dan membisikkan doa kepada beliau, berdoa kepada Allah terkait keadaan umat beliau di bulan Ramadhan, dan Rasulullah pun mengaminkannya.

Allahu Akbar…

Jamaah Shalat Idul Fitri rahimakumullah,

Bayangkan… Malaikat Jibril, semulia-mulianya malaikat, pemimpin para malaikat, berdoa. Lalu doa itu diaminkan oleh pemimpin seluruh nabi dan rasul, manusia termulia, junjungan kita Nabi Muhammad .

Apa doa Malaikat Jibril tersebut?

“Ya Allah, jangan Engkau terima shalat, zakat, dan puasa orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya.”

Saudara-saudaraku,

Walaupun puasa kita baik, tahajud kita setiap malam, tadarus kita dua atau tiga kali khatam, sedekah kita tidak terhitung jumlahnya  tetapi jika kita masih meneteskan air mata orang tua kita, menyakiti hati mereka, mengecewakan mereka maka demi Allah, puasa kita bisa tidak ada gunanya. Shalat kita, tahajud kita, sedekah kita, bisa jadi tidak sampai di hadapan Allah.

Rasulullah pernah ditanya oleh para sahabat, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan seseorang yang baik agamanya, bagus ibadahnya, tetapi ia membuat kedua orang tuanya menangis dan kecewa?”

Apa jawab Nabi?

Anak itu jangankan masuk surga, mencium bau surga pun tidak akan mampu.

Maka bersyukurlah jika kedua orang tua kita masih hidup, walaupun dalam keadaan sakit. Jika kita diberi kesempatan merawat mereka bertahun-tahun, ketahuilah bahwa itu adalah kemuliaan yang tidak semua anak mendapatkannya.

Karena setiap kali kita merawat ayah dan ibu kita dengan ikhlas, sesungguhnya Allah tersenyum kepada kita. Tidak semua anak diberi kesempatan untuk berbakti dan merawat orang tuanya.

Maka muliakanlah ayah dan ibu kita. Lembutkanlah ucapan kita kepada mereka. Berikan yang terbaik dari harta dan perhatian kita. Karena apa pun yang kita miliki hari ini adalah buah dari jasa, doa, dan pengorbanan mereka.

Berapa kali ibu kita kelelahan, terbangun di tengah malam karena tangisan kita?

Berapa kali beliau mengganti pakaian karena air kencing kita?

Berapa kali beliau harus keluar dari keramaian karena kita menangis?

Berapa kali ibu kita meninggalkan puasa, tidak menyempurnakan puasanya karena sedang mengandung dan menyusui kita?

Dan berapa kali pula ayah dan ibu kita menahan lapar, menahan lelah, menahan keinginan, demi mengalah untuk kita?

Semua itu tidak bisa dihitung dengan jari-jari kita. Semua itu adalah bukti pengorbanan yang luar biasa untuk kita.

Lalu apa yang bisa kita balas di hari bahagia ini?

Seandainya kita memiliki harta yang melimpah, itu pun tidak akan mampu menebus kasih sayang yang telah mereka berikan. Yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa:

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan dosa kedua orang tuaku, dan sayangilah mereka sebagaimana mereka telah merawat dan mendidikku ketika aku masih kecil.”

Diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab pernah bertanya kepada Rasulullah,
“Ya Rasulullah, aku mungkin tidak bisa melihat wajah Allah di dunia ini. Tetapi aku ingin tahu, bagaimana tanda Allah tersenyum ridha kepadaku?”

Maka Nabi menjawab,

“Buatlah kedua orang tuamu tersenyum, niscaya Allah akan tersenyum kepadamu.”

Maka di hari Lebaran ini, mari kita buat ayah dan ibu kita tersenyum bahagia dan ridha kepada kita. Jika mereka ridha, Allah pun akan ridha kepada kita.

Tidak ada gunanya kita beramai-ramai pergi ke tempat hiburan jika kita belum berkunjung ke rumah orang tua kita. Datangilah mereka. Cium tangan dan kaki mereka. Jangan lepaskan sampai mereka berkata,

“Sudah Nak… Bapak, Ibu maafkan… lahir dan batin.”

Kemuliaan orang tua itu luar biasa. Bahkan sebelum kita meminta maaf pun, sering kali mereka sudah berkata,

“Nak, tidak ada salah apa-apa… kalaupun ada, sudah Ibu maafkan.”

Di luar sana banyak orang yang ingin pulang, ingin mudik, ingin mencium tangan ibu bapaknya yang mulai keriput, ingin memeluk tubuh mereka yang mulai rapuh. Tetapi tidak mampu pulang karena keterbatasan biaya atau keadaan.

Maka kita yang masih memiliki orang tua di dekat kita, jangan sia-siakan kesempatan ini. Datangilah mereka. Buat mereka tersenyum dan ridha kepada kita. Insya Allah, Allah pun akan tersenyum dan ridha kepada kita.

Jika kita ingin menyumbang pembangunan masjid, kita bisa transfer.

Jika ingin membantu fakir miskin, bisa lewat jasa pengiriman.

Tetapi jika ingin memuliakan orang tua, datanglah langsung. Sentuhkan tangan kita pada tangan mereka. Peluk mereka.

Karena sesungguhnya, yang mereka butuhkan bukanlah harta yang banyak. Mereka hanya ingin melihat anak dan cucunya bahagia di hari yang fitri ini.

Allahu Akbar… jamaah Sholat Idul Fitri rahimakumullah,

Dalam salah satu riwayat disebutkan bahwa Malaikat Jibril berdoa dan diaminkan oleh Nabi, di antaranya: celakalah seorang istri yang durhaka kepada suaminya. Mengapa istri yang durhaka kepada suami ditekankan? Karena dalam rumah tangga, suami memikul tanggung jawab besar, bukan hanya di dunia tetapi juga di akhirat.

Suami adalah pemimpin dalam keluarganya. Rasulullah bersabda bahwa setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang suami bertanggung jawab atas istri dan anak-anaknya. Jika istri tidak shalat, tidak berpuasa, lalai dalam kewajiban agama, maka di akhirat kelak suamilah yang akan ditanya: “Di mana tanggung jawabmu? Mengapa keluargamu tidak engkau jaga dari api neraka?” Sebagaimana firman Allah:

“Quu anfusakum wa ahlikum naara”

“Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Tanggung jawab suami bukan hanya di akhirat, tetapi juga di dunia. Coba kita bayangkan, ketika pulang kampung saat Lebaran, jika istri tidak memiliki pakaian yang layak, anak-anak tidak bisa mengenakan pakaian baru, siapa yang merasa malu dan memikul beban itu? Suami.

Berapa banyak suami yang berani berutang ke sana kemari demi agar anak dan istrinya bisa berlebaran dengan bahagia.

Berapa kali suami tidak tidur di tengah malam, memikirkan biaya pendidikan anak agar bisa ikut ujian.
Berapa kali ia memikirkan belanja dapur agar esok hari ada makanan yang bisa dihidangkan untuk keluarga.

Berapa kali suami memeras keringat, membanting tulang; panas matahari tidak ia hiraukan, dingin malam tidak ia pedulikan.

Berapa kali ia menahan rasa sakit dan lelah, tidak membangunkan istri karena tidak ingin mengganggu istirahatnya.

Berapa kali ia menyembunyikan keluh kesah dan penderitaan, karena tidak ingin istrinya ikut merasakan beban berat yang ia tanggung.

Maka ketika seorang istri meremehkan suaminya, membentaknya, membuka aibnya, merendahkan harga dirinya, sungguh itu perbuatan yang sangat berat. Jika ada ketidaksenangan, carilah jalan terbaik. Bicarakan dengan baik. Jaga kehormatan pasangan. Jangan sampai kemarahan menurunkan martabat diri sendiri.

Di hari raya ini, wahai para istri, datangilah suamimu. Cium tangannya yang mungkin kasar karena bekerja siang malam mencari rezeki. Peluk tubuhnya yang mungkin legam oleh terik matahari, yang melepuh demi biaya sekolah anak-anakmu agar kelak menjadi manusia yang mulia dan dihormati.

Dan sebaliknya, wahai para suami, jadilah suami yang baik. Jadilah teladan. Bagaimana mungkin anak dan istri kita menjadi baik jika kita sendiri tidak memberi contoh yang baik? Kepemimpinan bukan hanya tentang perintah, tetapi tentang keteladanan, kelembutan, dan tanggung jawab.

Allahu Akbar… jamaah Sholat Idul Fitri rahimakumullah,

Ya Allah, jangan Engkau terima shalat, zakat, dan puasa orang yang tidak mau memaafkan sesamanya.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Ketika tangan kita terluka karena pisau, lambat laun pasti akan sembuh. Namun ketika lisan ini melukai hati saudara kita hingga hatinya mati, luka itu sulit diobati. Luka fisik bisa kering, tetapi luka batin bisa dibawa sampai mati.

Ketika kuku kita panjang, yang dipotong adalah kukunya, bukan jarinya. Demikian pula ketika kita memiliki masalah dengan saudara kita, yang dibuang adalah masalahnya, bukan saudaranya. Jangan sampai perkara warisan, perkara batas tanah, atau persoalan dunia merusak tali silaturahmi di antara kita.

Memang memaafkan itu lebih berat daripada meminta maaf. Namun memaafkan itu lebih mulia daripada meminta maaf, karena kedudukannya berada di atas orang yang meminta maaf. Orang yang memaafkan adalah orang yang lapang dadanya dan tinggi derajatnya di sisi Allah.

Selama bulan Ramadhan, kita memperbaiki hubungan kita dengan Allah. Itulah hubungan ḥablum minallāh.an di bulan Syawal, di hari Idul Fitri ini, kita memperbaiki hubungan kita dengan sesama manusia, ḥablum minannās. Itulah makna silaturahmi dan halal bihalal.

Sengaja ataupun tidak, besar ataupun kecil, pasti kita punya salah. Jika tidak kepada Allah, pasti kepada sesama manusia. Para ulama sufi mengajarkan: tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus-menerus, dan tidak ada dosa besar jika disertai dengan istighfar dan taubat.

Sekecil apa pun dosa, jika ditumpuk terus-menerus akan menjadi gunung. Sebesar apa pun dosa, jika digempur dengan istighfar dan taubat, akan hancur dan lebur.

Maka inilah momen terbaik untuk saling meminta maaf.

Jangan merasa gengsi karena lebih tua.

Jangan merasa malu karena lebih muda.

Tidak harus yang muda selalu mendatangi yang tua. Tidak salah pula yang tua memulai meminta maaf kepada yang muda. Karena yang kita cari bukan harga diri, tetapi ridha Allah dan bersihnya hati.

Maka sepulang dari sholat Id ini, ciumlah tangan orang tua kita, suami atau istri kita, saudara-saudara kita. Jangan lepaskan sebelum mereka berkata,

“Sudah, Nak… sudah Ibu maafkan.”

“Sudah, Bu… sudah saya maafkan.”

“Sudah, Dik… aku maafkan.”

Karena kita tidak pernah tahu, apakah kita masih bisa merasakan Ramadhan dan Lebaran tahun depan. Bisa jadi inilah Ramadhan terakhir kita. Bisa jadi inilah Idul Fitri terakhir kita.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mau meminta maaf dan mau memaafkan.
Hati kita bersih, dosa kita diampuni, dan silaturahmi kita kembali terjalin.

 

Tidak ada komentar:

Bimbingan Calon Pengantin (Bimcatin) kepada pasangan calon pengantin Daryanto dan Dika Novia Pangestuti

  aporan Kegiatan Bimbingan Calon Pengantin (Bimwin/Bimcatin) P ada tanggal 3 Juni 2026, KUA Kecamatan Tegowanu melaksanakan kegiatan Bimbi...