Bimcanti Meraih
Keluarga Sakinah: Antara Takdir Jodoh dan Ridha Orang Tua
Pada hari Rabu, tanggal 1 April
2026, Abdul Khanip selaku Penyuluh Agama Islam Kecamatan Tegowanu melaksanakan
kegiatan Bimbingan Perkawinan (BIMCATIN) kepada calon pengantin, yaitu saudari
Asna dan saudara Hilmi yang berasal dari Desa Curug. Kegiatan ini berlangsung
dengan penuh khidmat dan suasana yang hangat, meskipun calon mempelai laki-laki
tidak dapat hadir secara langsung karena sedang mendampingi orang tuanya yang
sedang sakit di rumah sakit.
Dalam penyampaian materi,
disampaikan bahwa jodoh merupakan bagian dari skenario Allah SWT yang telah
ditetapkan sejak zaman azali. Jodoh, rezeki, kaya dan miskin, serta ajal
merupakan ketentuan Allah yang tidak akan tertukar dan tidak akan pernah salah alamat.
Sebagaimana firman Allah SWT:
وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ
"Dan di langit terdapat
rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu." (QS. Adz-Dzariyat: 22)
Hal ini menegaskan bahwa setiap
manusia telah memiliki ketetapan masing-masing, termasuk dalam hal pasangan
hidup. Jodoh tidak akan lari ke mana, dan akan datang pada waktu yang tepat
sesuai dengan kehendak Allah SWT.
Disampaikan pula kisah inspiratif
dari calon mempelai perempuan yang telah menempuh pendidikan di pondok
pesantren selama kurang lebih tujuh tahun tanpa sempat pulang ke rumah. Dalam
perjalanan tersebut, ia menerima pilihan jodoh dari orang tuanya, dan hanya
dipertemukan sebanyak tiga kali sebelum memasuki tahap pernikahan. Ini
menunjukkan bahwa dalam Islam, restu orang tua memiliki peranan yang sangat
penting dalam menentukan keberkahan rumah tangga.
Ketidakhadiran calon mempelai
laki-laki dalam bimbingan ini bukan tanpa alasan, melainkan karena sedang
berbakti kepada orang tuanya yang sedang sakit. Hal ini merupakan bentuk nyata
dari pengamalan ajaran Islam tentang berbakti kepada orang tua, sebagaimana
sabda Rasulullah SAW:
رِضَا اللَّهِ فِي رِضَا الْوَالِدَيْنِ وَسَخَطُ
اللَّهِ فِي سَخَطِ الْوَالِدَيْنِ
"Ridha Allah tergantung
pada ridha kedua orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka
keduanya." (HR. Tirmidzi)
Selain itu, juga diingatkan bahwa
surga berada di bawah telapak kaki ibu, sebagaimana dalam hadits:
الْجَنَّةُ تَحْتَ أَقْدَامِ الْأُمَّهَاتِ
"Surga berada di bawah
telapak kaki ibu." (HR. Ahmad)
Pesan penting lainnya yang
disampaikan adalah bahwa kebahagiaan dalam rumah tangga tidak semata-mata
ditentukan oleh banyaknya harta. Harta memang dapat menjadi sarana untuk
mencapai kesejahteraan, namun bukan jaminan kebahagiaan. Kebahagiaan sejati
terletak pada keberkahan hidup, ketentraman hati, serta hubungan yang dilandasi
iman dan takwa kepada Allah SWT.
Sebagaimana firman Allah SWT:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ
وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً
"Barangsiapa yang
mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman,
maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik." (QS.
An-Nahl: 97)
Di akhir bimbingan, disampaikan
doa dan harapan agar kedua calon pengantin senantiasa diberikan kemudahan dalam
menjalani kehidupan rumah tangga, serta memperoleh keberkahan, ketentraman, dan
kebahagiaan yang hakiki dalam membangun keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar