اَللهُ اَكْبَرْ (×9)
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى مَدَّ لَنَا مَوَائِدَ اِحْسَانِهِ وَاِنْعَامِهِ, وَاَعَادَ عَلَيْنَا فِى هَذَا اْليَوْمِ عَوَائِدَ بَرِّهِ وَاِكْرَامِهِ, وَاَلْبَسْنَا مَلاَبِسَ اْلعِزِّ وَاْلاَفْخَرِ. اَحْمَدُهُ حَمْدَ مَنْ نَطَقَتِ اْلاَلْسُنُ بِشُكْرِهِ فِى اْلمَسَاءِ وَالصَّبَاحِ, وَتَرَنَّمَ بِهِ اْلعَبْدُ فِى كُلِّ غُدُوٍّ وَرَوَاحٍ, وَسَبَّحَ بِحَمْدِ رَبِّهِ وَاسْتَغْفَرَ.وَاَشْهَدُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ, اَلْمُشَفَّعِ فِى الْمَحْشَرِ, وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ بِمِلَّتِهِ اشْتَهَرَ.
اَللهُ اَكْبَرْ (×٣(
عِبَادَ
اللهِ… اِتَّقُوا اللهَ وَاعْلَمُوْا اَنَّ
هَذَا يَوْمُ عِيْدٍ وَسُرُوْرٍ ... وَاِعْتَاقٍ مِنَ النَّارِ وَاُجُوْرٍ……..
Jamaah Sholat Idul Fitri yang dimuliakan Allah SWT,
Pertama-tama marilah kita senantiasa memanjatkan puji dan syukur ke
hadirat Allah SWT, karena dengan nikmat-Nya kita dapat melaksanakan sholat Idul
Fitri secara berjamaah di Masjid Baitul Muttaqin yang penuh berkah ini.
Kedua, shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada
junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, yang kita nantikan syafaatnya sejak di
dunia hingga di akhirat kelak.
Ketiga, saya berwasiat kepada diri saya pribadi dan kepada seluruh
jamaah sholat Idul Fitri sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan
ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi
segala larangan-Nya.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.
Jamaah sholat Idul Fitri yang saya muliakan,
Hari ini adalah hari raya Fitri atau Idul Fitri. Kata fitri
secara bahasa berarti kembali (berbuka), sebagai tanda telah selesainya kita
menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Dengan rahmat dan anugerah Allah SWT, kita
semua dapat menunaikan kewajiban puasa yang merupakan rukun Islam yang keempat.
Selama menjalankan puasa, kita mampu menahan hawa nafsu dari makan,
minum, dan hal-hal lainnya. Oleh karena itu, dengan datangnya Idul Fitri ini,
kita merasakan kemenangan, sebagaimana seorang prajurit yang baru pulang dari
medan perang dengan membawa kemenangan yang gemilang.
Sesungguhnya memang demikian, karena melawan hawa nafsu termasuk
dalam kategori jihad, yaitu perjuangan yang sangat besar. Sebagaimana
Rasulullah SAW ketika pulang dari peperangan melawan kaum kafir dan musyrik,
beliau bersabda:
رَجَعْنَا مِنَ الْجِهَادِ
الأَصْغَرِ إِلَى الْجِهَادِ الأَكْبَرِ
Artinya: “Kita telah kembali dari jihad kecil (melawan musuh)
menuju jihad yang lebih besar.”
Kemudian para sahabat bertanya, “Apakah jihad yang besar itu wahai
Rasulullah?”
Beliau menjawab:
جِهَادُ النَّفْسِ
Artinya: “Yaitu jihad melawan hawa nafsu.”
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.
Jamaah sholat Idul Fitri yang dimuliakan Allah SWT,
Banyak sekali manusia yang mengaku beragama Islam, namun tidak
pernah melaksanakan sholat, bahkan puasa pun tidak dijalankan. Anehnya, ketika
hari Idul Fitri tiba, mereka ikut bergembira dan bersenang-senang. Tingkah
lakunya seakan-akan seperti para pahlawan yang baru pulang dari medan perang
dengan membawa kemenangan, padahal sejatinya musuh pun tidak pernah mereka
hadapi, apalagi melawan dan mengalahkannya.
Jamaah sholat Idul Fitri yang dimuliakan Allah SWT,
Menyambut hari raya dengan rasa gembira dan suka cita tentu
diperbolehkan, namun hendaknya tidak berlebihan. Salah seorang ulama Islam, Abu
Yazid, berkata:
لَيْسَ الْعِيْدُ
لِمَنْ لَبِسَ الْجَدِيْدَ، وَلاَ لِمَنْ أَكَلَ الْقَدِيْدَ، وَلَكِنَّ الْعِيْدُ
لِمَنْ طَاعَتُهُ تَزِيْدُ، وَخَافَ الْوَعِيْدَ
Artinya: “Hari raya itu bukanlah bagi orang yang memakai pakaian
baru dan menikmati makanan lezat, tetapi hari raya adalah bagi orang yang
ketaatannya kepada Allah bertambah dan takut terhadap ancaman siksa-Nya.”
Dengan demikian jelaslah bahwa orang yang menyambut hari raya hanya
dengan bersenang-senang dan berbuat mubazir, sesungguhnya ia hanya mengikuti
hawa nafsunya semata.
Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ
حَتَّى يَكُوْنَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ
Artinya: “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian, hingga
hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran Islam).” (Diriwayatkan
oleh Imam Bukhari)
Maka bukan agama yang mengikuti keinginan hawa nafsu, melainkan
hawa nafsulah yang harus dikendalikan, diarahkan, dan ditundukkan oleh ajaran
Islam. Jika hal ini dapat dilakukan, barulah seseorang dapat disebut memiliki
iman yang sempurna.
Oleh karena itu, marilah kita senantiasa waspada terhadap godaan
setan. Sebab Nabi SAW bersabda:
Oleh karena itu, marilah kita senantiasa waspada terhadap godaan
setan. Sebab Nabi SAW bersabda:
إِنَّ إِبْلِيْسَ عَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ يَصِيْحُ فِي كُلِّ يَوْمِ عِيْدٍ،
فَيَجْتَمِعُ أَهْلُهُ عِنْدَهُ، فَيَقُوْلُوْنَ: يَا سَيِّدَنَا
مَنْ أَغْضَبَكَ نَكْسِرْهُ؟ فَيَقُوْلُ: لاَ شَيْءَ،
وَلَكِنَّ اللهَ قَدْ غَفَرَ لِهَذِهِ الأُمَّةِ فِي هَذَا الْيَوْمِ، فَعَلَيْكُمْ
أَنْ تُشْغِلُوْهُمْ بِاللَّذَّاتِ وَالشَّهَوَاتِ وَشُرْبِ الْخَمْرِ حَتَّى يُبْغِضَهُمُ
اللهُ
Artinya: “Sesungguhnya Iblis yang terlaknat berteriak pada
setiap hari raya, lalu berkumpullah para pengikutnya di sekelilingnya. Mereka
berkata: ‘Wahai pemimpin kami, siapa yang membuatmu marah, akan kami
hancurkan.’ Iblis menjawab: ‘Tidak ada, hanya saja Allah telah memberikan
ampunan kepada umat Muhammad pada hari ini. Maka sibukkanlah mereka dengan
kesenangan, syahwat, dan minuman keras hingga Allah murka kepada mereka.’” (Hadis
ini diriwayatkan dari sahabat Wahab bin Munabbih)
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.
Jamaah sholat Idul Fitri yang berbahagia,
Setiap orang yang memiliki cita-cita atau niat untuk meraih sesuatu
yang membawa kenikmatan, pasti dan harus berani menghadapi kesulitan,
penderitaan, serta harus tahan uji dan bersabar. Jika kita ingin merasakan
manisnya buah nangka, kita harus berani terkena getahnya. Jika kita ingin
merasakan manisnya madu, kita harus berani disengat lebah.
Singkatnya, setiap kebahagiaan dan kesenangan harus diraih dengan
keberanian menghadapi kesulitan dan keprihatinan. Demikian pula dengan hari
raya ini, hari yang dipenuhi dengan kegembiraan dan kebahagiaan, hanya dapat
diraih dengan kesediaan menjalankan puasa di bulan Ramadhan. Selama satu bulan
penuh kita menahan rasa haus, lapar, serta menahan diri dari segala hal yang
membatalkan puasa.
Oleh karena itu, orang yang ingin hidup enak tetapi tidak mau
bersusah payah, ibarat ingin makan buah nangka tetapi tidak mau terkena
getahnya.
Bersusah payah terlebih dahulu, kemudian baru merasakan
kebahagiaan, itu bukan hanya berlaku bagi manusia saja. Cobalah kita perhatikan
keadaan kupu-kupu yang berasal dari ulat. Ketika ingin bisa terbang bebas ke
sana kemari, ia harus berpuasa tidak makan dan tidak minum dengan membungkus
dirinya dalam kepompong selama beberapa hari. Hingga akhirnya ia berubah
menjadi kupu-kupu dan dapat terbang dengan indah dan sempurna.
Hal ini seharusnya menjadi pelajaran dan peringatan (tadzkirah)
bagi manusia yang mampu menggunakan akalnya.
Oleh karena itu, sangat tepat apa yang telah difirmankan oleh Allah
Ta’ala:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا، إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (سورة
الإنشراح: 5-6)
Artinya: “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada
kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.
Jamaah sholat Idul Fitri yang dimuliakan Allah SWT,
Ketika kita berpuasa, kita merasakan lapar dan dahaga. Itu pun
hanya pada waktu berpuasa saja. Jika tidak berpuasa, kita bisa makan, minum,
bahkan merokok sampai kenyang. Namun jika kita memperhatikan keadaan kaum fakir
miskin, sungguh sangat memprihatinkan kehidupan mereka. Terkadang sehari makan,
sehari tidak. Pakaiannya compang-camping tanpa ada penggantinya, dan setiap
hari berjalan menyusuri jalan demi meminta belas kasihan orang lain.
Orang-orang seperti ini setiap hari merasakan lapar dan dahaga.
Hati mereka senantiasa diliputi kesedihan karena tidak jelas apa yang akan
dimakan. Bahkan terkadang mereka juga harus menanggung anak-anak yatim.
Oleh karena itu, setelah kita merasakan penderitaan tidak makan dan
tidak minum selama sebulan penuh, seharusnya tumbuh rasa kasih sayang dalam
diri kita kepada kaum fakir miskin.
Karena itulah agama Islam mewajibkan umatnya untuk menunaikan zakat
fitrah. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:
صَوْمُ الْعَبْدِ
مُعَلَّقٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ حَتَّى يُؤَدِّيَ صَدَقَةَ الْفِطْرِ
Artinya: “Puasa seseorang itu tergantung antara langit dan bumi
hingga ia menunaikan zakat fitrah.”
Lalu, siapa yang wajib mengeluarkan zakat fitrah?
Yaitu setiap muslim yang memiliki kemampuan, yakni memiliki
kelebihan harta pada malam hari raya dan siang harinya, serta masih hidup
hingga terbenamnya matahari pada akhir bulan Ramadhan.
Apabila ada seseorang meninggal dunia setelah waktu Maghrib (akhir
Ramadhan), atau ada bayi yang lahir sebelum waktu Maghrib, maka orang tersebut
tetap wajib dizakati (dikeluarkan zakat fitrahnya). Demikian pula sebaliknya,
jika seseorang meninggal sebelum Maghrib atau bayi lahir setelah Maghrib, maka
tidak wajib dizakati.
Lalu, siapa yang berkewajiban mengeluarkan zakat untuk anak-anak?
Yang berkewajiban adalah orang tuanya. Jika tidak ada orang tua,
maka menjadi tanggung jawab orang yang menanggung nafkahnya sehari-hari.
Adapun zakat fitrah diberikan kepada siapa?
Allah SWT telah menjelaskannya dalam Al-Qur’an surat At-Taubah ayat
60.
إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ
لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ
وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ
ۖ فَرِيضَةً مِّنَ اللَّهِ ۗ
وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
Artinya:
“Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang
miskin, para amil zakat, orang-orang yang dilunakkan hatinya (muallaf), untuk (memerdekakan)
hamba sahaya, untuk (membantu) orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah,
dan untuk orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan
yang diwajibkan Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.
Jamaah Idul Fitri yang dimuliakan Allah SWT,
Setelah kita melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan dengan
dasar iman dan mengharap ridha Allah, maka Allah SWT akan mengampuni dosa-dosa
kita, seperti bayi yang baru lahir dari rahim ibunya. Sebagaimana sabda Nabi
Muhammad SAW:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ
مِنْ ذَنْبِهِ (رواه
أبو داود
Artinya: “Barang siapa menjalankan ibadah di bulan Ramadhan
dengan iman dan mengharap ridha Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang
telah lalu.”
Hadis tersebut menjelaskan tentang dosa yang berkaitan dengan Allah
SWT. Adapun dosa yang berkaitan dengan sesama manusia, belum akan diampuni
apabila kita belum saling memaafkan.
Pada kesempatan Idul Fitri ini, marilah kita gunakan untuk saling
bermaaf-maafan (halal bihalal) dengan menjalin silaturahmi kepada orang tua,
sanak saudara, teman, dan tetangga, guna memohon maaf atas kesalahan lahir dan
batin.
Sebagaimana sabda Nabi SAW:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ
فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ (رواه البخاري ومسلم)
Artinya: “Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan
dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
Dari khutbah ini, dapat kita ambil beberapa kesimpulan:
- Marilah kita merayakan Idul Fitri dengan
penuh suka cita, namun jangan sampai menuruti hawa nafsu hingga terjerumus
dalam godaan setan.
- Kebahagiaan dan kesenangan harus diraih
dengan kesabaran dalam menghadapi kesulitan. Hari raya ini dapat kita
rasakan setelah kita menjalankan puasa di bulan Ramadhan.
- Masih banyak kaum fakir miskin di sekitar
kita yang membutuhkan uluran tangan. Oleh karena itu, di hari yang penuh
kebahagiaan ini jangan sampai kita melupakan mereka, di antaranya dengan
menunaikan zakat fitrah.
- Dengan semangat Idul Fitri, marilah kita
saling memaafkan dan mempererat silaturahmi kepada orang tua, keluarga,
teman, dan tetangga.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
Artinya: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan
sungguh merugi orang yang mengotorinya.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar