اَلْحَمْدُ لله الَّذِى جَعَلَ التَّقْوَى خَيْرَ زَاد وَ اَمَرَنَا اَنْ نَتَزَوَّدُبِهَا لِيَوْمِ الْمَعَاد، لآ اله الا الله وَلِيُّ الْمُتَّقِيْن. اَشْهَدُ اَنْ لآ اله الا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَهُوَ اَكْبَرُ الْجَوَادُ الْكَرِيْم، وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْله الْمَوْصُوْفُ بِالْخُلُقِ الْعَظِيم. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّم وَ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آله وَ اَصْحَابِهِ اَهْلِ التَّقْوَى، وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّابَعْدُ فَيَا اَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ رَحِمَكُمُ الله اُوْصِيْكُمْ وَ اِيَّايَ بِتَقْوَى الله فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
Setiap manusia yang hidup di
dunia ini tentu memiliki keinginan dan cita-cita agar hidupnya dapat tenang,
tenteram, dan damai. Namun tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa
ketenangan hati hanya bisa diperoleh dengan banyaknya harta dunia dan tingginya
jabatan.
Oleh karena itu, tidak
mengherankan jika mereka berlomba-lomba mengejar harta dunia hingga melupakan
waktu, bahkan sampai meninggalkan kewajiban kepada Allah seperti sholat, puasa,
dan lainnya. Demikian pula dalam mengejar jabatan dan kedudukan, mereka tidak
lagi memperhatikan apakah halal atau haram, baik atau buruk. Yang ada dalam
pikirannya hanyalah bagaimana mendapatkan kekuasaan dan kedudukan
setinggi-tingginya.
Jamaah Jum’ah rahimakumullah,
Cara berpikir seperti itu
sejatinya tidak benar. Sebab Nabi Muhammad SAW bersabda:
لَيْسَ الْغِنَى بِكَثْرَةِ الْمَالِ وَلَكِنَّ الْغِنَى
غِنَى النَّفْسِ
Artinya: “Bukanlah kekayaan
itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan yang sesungguhnya adalah kekayaan
jiwa (hati).”
Kekayaan sejati adalah hati yang
merasa cukup dan selalu bersyukur kepada Allah SWT. Kita bisa mengambil
pelajaran, apakah kurang harta yang dimiliki oleh Qarun? Apakah kurang tinggi
kedudukan Fir’aun? Namun mereka tidak dapat merasakan kebahagiaan dan ketenangan
hati, bahkan berakhir dengan kebinasaan.
Jamaah Jum’ah rahimakumullah,
Lalu bagaimana cara kita meraih
kebahagiaan sejati, yaitu kebahagiaan di dunia dan di akhirat?
Sebagaimana disebutkan dalam
sebuah hikmah:
ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ تُفَرِّحُ الْقُلُوبَ:
ذِكْرُ
اللَّهِ، وَلِقَاءُ الْأَوْلِيَاءِ، وَكَلَامُ الْحُكَمَاءِ
Artinya: “Ada tiga perkara
yang dapat membahagiakan hati: berdzikir kepada Allah, berkumpul dengan para
kekasih Allah, dan mendengarkan nasihat para ahli hikmah.”
1.
ذِكْرُ اللَّهِ (Berdzikir
kepada Allah)
Senantiasa
mengingat Allah dengan membaca kalimat thayyibah, bermunajat, serta mengingat
nikmat dan rahmat-Nya. Sebagaimana firman Allah:
أَلَا بِذِكْرِ
اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artinya: “Ingatlah,
hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Rasulullah SAW
juga bersabda:
إِذَا مَرَرْتُمْ
بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا، قَالُوا: وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ؟ قَالَ: حِلَقُ
الذِّكْرِ
Artinya: “Apabila
kalian melewati taman-taman surga, maka singgahlah.” Para sahabat bertanya,
“Apa itu taman surga?” Beliau menjawab, “Majelis dzikir.”
2.
وَلِقَاءُ الْأَوْلِيَاءِ (Berkumpul dengan orang-orang saleh/ulama)
Dengan
berkumpul bersama para ulama dan orang saleh, kita dapat mengetahui mana yang
halal dan haram, serta ibadah kita menjadi lebih benar. Selain itu, kita juga
akan mendapatkan kedudukan mulia di sisi Allah.
Sebagaimana
firman Allah:
إِنَّمَا يَخْشَى
اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
Artinya: “Sesungguhnya
yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah para ulama.”
(QS. Fathir: 28)
Dan
firman-Nya:
وَمَنْ يَتَّقِ
اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
Artinya: “Barang
siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya
dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Talaq:
2-3)
3.
وَكَلَامُ الْحُكَمَاءِ (Mendengarkan dan mengamalkan nasihat ulama)
Mau
mendengarkan dan melaksanakan nasihat para ulama dan orang bijak. Sebab dengan
hikmah, hati akan hidup.
Sebagaimana
dikatakan:
إِنَّ اللَّهَ يُحْيِي
الْقَلْبَ الْمَيِّتَ بِنُورِ الْحِكْمَةِ كَمَا يُحْيِي الْأَرْضَ الْمَيِّتَةَ بِمَاءِ
الْمَطَرِ
Artinya: “Sesungguhnya
Allah menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah, sebagaimana Dia
menghidupkan bumi yang mati dengan air hujan.”
Kesimpulannya,
banyak atau sedikitnya harta dan tinggi rendahnya jabatan bukanlah jaminan
seseorang mendapatkan kebahagiaan, ketenangan, dan kedamaian hati. Karena
sumber kebahagiaan itu berada di dalam hati.
Dan
kebahagiaan sejati hanya dapat diraih dengan:
·
Berdzikir kepada Allah,
·
Mengikuti petunjuk para
ulama,
·
Serta berkumpul dengan
orang-orang saleh.
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar