Selasa, 17 Maret 2026

Kunci Ketengan hati


 اَلْحَمْدُ لله الَّذِى جَعَلَ التَّقْوَى خَيْرَ زَاد وَ اَمَرَنَا اَنْ نَتَزَوَّدُبِهَا لِيَوْمِ الْمَعَاد، لآ اله الا الله وَلِيُّ الْمُتَّقِيْن. اَشْهَدُ اَنْ لآ اله الا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَهُوَ اَكْبَرُ الْجَوَادُ الْكَرِيْم، وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْله الْمَوْصُوْفُ بِالْخُلُقِ الْعَظِيم. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّم وَ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آله وَ اَصْحَابِهِ اَهْلِ التَّقْوَى، وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّابَعْدُ فَيَا اَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ رَحِمَكُمُ الله اُوْصِيْكُمْ وَ اِيَّايَ بِتَقْوَى الله فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

Setiap manusia yang hidup di dunia ini tentu memiliki keinginan dan cita-cita agar hidupnya dapat tenang, tenteram, dan damai. Namun tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa ketenangan hati hanya bisa diperoleh dengan banyaknya harta dunia dan tingginya jabatan.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika mereka berlomba-lomba mengejar harta dunia hingga melupakan waktu, bahkan sampai meninggalkan kewajiban kepada Allah seperti sholat, puasa, dan lainnya. Demikian pula dalam mengejar jabatan dan kedudukan, mereka tidak lagi memperhatikan apakah halal atau haram, baik atau buruk. Yang ada dalam pikirannya hanyalah bagaimana mendapatkan kekuasaan dan kedudukan setinggi-tingginya.

Jamaah Jum’ah rahimakumullah,

Cara berpikir seperti itu sejatinya tidak benar. Sebab Nabi Muhammad SAW bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى بِكَثْرَةِ الْمَالِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Artinya: “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan yang sesungguhnya adalah kekayaan jiwa (hati).”

Kekayaan sejati adalah hati yang merasa cukup dan selalu bersyukur kepada Allah SWT. Kita bisa mengambil pelajaran, apakah kurang harta yang dimiliki oleh Qarun? Apakah kurang tinggi kedudukan Fir’aun? Namun mereka tidak dapat merasakan kebahagiaan dan ketenangan hati, bahkan berakhir dengan kebinasaan.

Jamaah Jum’ah rahimakumullah,

Lalu bagaimana cara kita meraih kebahagiaan sejati, yaitu kebahagiaan di dunia dan di akhirat?

Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hikmah:

ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ تُفَرِّحُ الْقُلُوبَ: ذِكْرُ اللَّهِ، وَلِقَاءُ الْأَوْلِيَاءِ، وَكَلَامُ الْحُكَمَاءِ

Artinya: “Ada tiga perkara yang dapat membahagiakan hati: berdzikir kepada Allah, berkumpul dengan para kekasih Allah, dan mendengarkan nasihat para ahli hikmah.”

1.    ذِكْرُ اللَّهِ (Berdzikir kepada Allah)

Senantiasa mengingat Allah dengan membaca kalimat thayyibah, bermunajat, serta mengingat nikmat dan rahmat-Nya. Sebagaimana firman Allah:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Rasulullah SAW juga bersabda:

إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا، قَالُوا: وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ؟ قَالَ: حِلَقُ الذِّكْرِ

Artinya: “Apabila kalian melewati taman-taman surga, maka singgahlah.” Para sahabat bertanya, “Apa itu taman surga?” Beliau menjawab, “Majelis dzikir.”

2.    وَلِقَاءُ الْأَوْلِيَاءِ (Berkumpul dengan orang-orang saleh/ulama)

Dengan berkumpul bersama para ulama dan orang saleh, kita dapat mengetahui mana yang halal dan haram, serta ibadah kita menjadi lebih benar. Selain itu, kita juga akan mendapatkan kedudukan mulia di sisi Allah.

Sebagaimana firman Allah:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Artinya: “Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah para ulama.” (QS. Fathir: 28)

Dan firman-Nya:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Artinya: “Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Talaq: 2-3)

3.    وَكَلَامُ الْحُكَمَاءِ (Mendengarkan dan mengamalkan nasihat ulama)

Mau mendengarkan dan melaksanakan nasihat para ulama dan orang bijak. Sebab dengan hikmah, hati akan hidup.

Sebagaimana dikatakan:

إِنَّ اللَّهَ يُحْيِي الْقَلْبَ الْمَيِّتَ بِنُورِ الْحِكْمَةِ كَمَا يُحْيِي الْأَرْضَ الْمَيِّتَةَ بِمَاءِ الْمَطَرِ

Artinya: “Sesungguhnya Allah menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah, sebagaimana Dia menghidupkan bumi yang mati dengan air hujan.”

Kesimpulannya, banyak atau sedikitnya harta dan tinggi rendahnya jabatan bukanlah jaminan seseorang mendapatkan kebahagiaan, ketenangan, dan kedamaian hati. Karena sumber kebahagiaan itu berada di dalam hati.

Dan kebahagiaan sejati hanya dapat diraih dengan:

·       Berdzikir kepada Allah,

·       Mengikuti petunjuk para ulama,

·       Serta berkumpul dengan orang-orang saleh.

 

Tidak ada komentar:

Bimbingan Calon Pengantin (Bimcatin) kepada pasangan calon pengantin Daryanto dan Dika Novia Pangestuti

  aporan Kegiatan Bimbingan Calon Pengantin (Bimwin/Bimcatin) P ada tanggal 3 Juni 2026, KUA Kecamatan Tegowanu melaksanakan kegiatan Bimbi...