Birrul walidain berarti berbuat baik kepada kedua orang tua. Hal ini merupakan kewajiban yang disyariatkan dalam agama Islam dan menempati urutan kedua setelah beribadah kepada Allah SWT. Sebagaimana firman Allah:
وَٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ
وَلَا تُشۡرِكُواْ بِهِۦ شَيۡـًٔ۬اۖ وَبِٱلۡوَٲلِدَيۡنِ إِحۡسَـٰنً۬ا
“Sembahlah Allah
dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan berbuat
baiklah kepada kedua orang tua.”
Birrul walidain
juga merupakan bentuk rasa syukur kita kepada orang tua. Sebab hingga saat ini
kita dapat merasakan kehidupan, memperoleh kedudukan, memiliki ilmu, tempat
tinggal, dan berbagai kenikmatan lainnya yang tidak terhitung jumlahnya. Semua
itu tidak lepas dari peran dan jasa kedua orang tua kita.
Marilah kita
sejenak membayangkan perjuangan seorang ibu ketika mengandung. Selama masa
kehamilan, aktivitasnya tidak senyaman biasanya, tidurnya tidak nyenyak,
makannya tidak enak, dan kondisinya semakin hari semakin berat dan lemah.
Sebagaimana firman Allah:
وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَـٰنَ
بِوَٲلِدَيۡهِ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُ ۥ وَهۡنًا عَلَىٰ وَهۡنٍ۬
“Kami
perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya; ibunya
telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah.”
Setelah sembilan
bulan mengandung, ibu melahirkan kita ke dunia dengan rasa sakit yang tidak
dapat digambarkan, bahkan mempertaruhkan nyawa. Setiap hari beliau merawat,
memberi makan, minum, dan pakaian dengan penuh kasih sayang yang tidak dapat
diukur dengan apa pun.
Ketika kita
beranjak dewasa, orang tua berusaha memberikan pendidikan yang terbaik tanpa
mengharapkan balasan apa pun. Mereka hanya berharap kepada Allah agar
anak-anaknya menjadi anak yang saleh dan salehah, bahagia di dunia dan di
akhirat.
Dengan segala
jasa dan kasih sayang orang tua yang tidak ternilai, Allah berfirman:
أَنِ ٱشۡكُرۡ لِى
وَلِوَٲلِدَيۡكَ إِلَىَّ ٱلۡمَصِيرُ
“Bersyukurlah
kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu; hanya kepada-Ku-lah tempat kembalimu.”
Lalu bagaimana
cara membalas kebaikan kedua orang tua? Allah telah menjelaskan dalam
firman-Nya:
وَقَضَىٰ
رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلۡوَٲلِدَيۡنِ إِحۡسَـٰنًا ۚ إِمَّا يَبۡلُغَنَّ عِندَكَ ٱلۡكِبَرَ أَحَدُهُمَآ
أَوۡ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنۡهَرۡهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوۡلًا
كَرِيمًا (23) وَٱخۡفِضۡ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحۡمَةِ
وَقُل رَّبِّ ٱرۡحَمۡهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرًا
“Tuhanmu telah
memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik
kepada kedua orang tua. Jika salah satu atau keduanya sampai berusia lanjut
dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali kamu mengatakan ‘ah’ kepada
mereka dan janganlah kamu membentak mereka, tetapi ucapkanlah kepada mereka
perkataan yang mulia. Rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh
kasih sayang dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, sayangilah mereka keduanya
sebagaimana mereka telah mendidikku waktu kecil.’”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar