Pada tanggal 8 Mei 2026 telah melaksanakan kegiatan penyuluhan keagamaan bersama jamaah bakda Jum’at di Masjid Baitul Muttaqin. Kegiatan ini diikuti oleh jamaah dengan penuh antusias dan berjalan dengan lancar serta khidmat.
Dalam penyuluhan tersebut disampaikan materi tentang pentingnya meningkatkan keimanan, menjaga kerukunan antar sesama, serta memperkuat pemahaman dan pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Jamaah juga diajak untuk terus memakmurkan masjid, menjaga ukhuwah Islamiyah, dan meningkatkan kepedulian sosial di lingkungan masyarakat.
Kegiatan penyuluhan bakda Jum’at ini diharapkan dapat memberikan manfaat, menambah wawasan keagamaan jamaah, serta mempererat hubungan silaturahmi antara penyuluh agama dan masyarakat di lingkungan Masjid Baitul Muttaqin Kejawan Tegowanu Grobogan.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَبِفَضْلِهِ تَتَنَزَّلُ الْخَيْرَاتُ وَالْبَرَكَاتُ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَأَشْكُرُهُ عَلَىٰ مَا أَوْلَانَا مِنْ نِعَمٍ لَا تُحْصَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً نَرْجُوْ بِهَا النَّجَاةَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَرْسَلَهُ اللّٰهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَىٰ نَهْجِهِ إِلَىٰ يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَاتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
قَالَ اللّٰهُ تَعَالَىٰ فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۚ إِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan kepada kita nikmat iman, nikmat Islam, nikmat kesehatan, serta kesempatan untuk kembali dipertemukan dengan hari-hari mulia di bulan Dzulhijjah. Bulan yang di dalamnya penuh dengan keutamaan, penuh dengan pahala, dan penuh dengan kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga beliau, para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan seluruh umat beliau yang istiqamah mengikuti sunnahnya hingga akhir zaman.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Di antara tanda orang beriman adalah selalu berusaha mengevaluasi amalnya. Ia tidak merasa cukup dengan amal yang sedikit, dan tidak merasa aman dari kekurangan dalam ibadahnya. Karena itu para ulama mengajarkan bahwa seorang mukmin hendaknya senantiasa memperbaiki kualitas amalnya dari hari ke hari.
Terlebih pada hari-hari mulia seperti sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ
“Tidak ada hari-hari yang amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah daripada sepuluh hari ini.”
Karena itu, para sahabat dan para ulama terdahulu berlomba-lomba memperbanyak amal saleh pada hari-hari tersebut; memperbanyak dzikir, sedekah, puasa, membaca Al-Qur’an, dan termasuk di dalamnya adalah ibadah kurban.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Di tengah semangat melaksanakan ibadah kurban, sering muncul pertanyaan di masyarakat: bagaimana hukum seseorang yang ingin berkurban, tetapi ketika kecil belum diaqiqahi? Mana yang harus didahulukan, aqiqah atau kurban?
Pertanyaan ini menunjukkan semangat kaum muslimin untuk beribadah dengan benar sesuai tuntunan syariat. Dan Islam adalah agama yang sempurna, yang telah memberikan penjelasan terhadap berbagai persoalan kehidupan.
Hadirin jamaah Jumat yang berbahagia,
Aqiqah adalah ibadah yang berkaitan dengan kelahiran anak. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
كُلُّ غُلَامٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ وَيُسَمَّى وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ
“Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya. Disembelihkan hewan untuknya pada hari ketujuh, dicukur rambutnya, dan diberi nama.”
Para ulama menjelaskan bahwa aqiqah adalah sunnah muakkadah, sunnah yang sangat dianjurkan. Di balik ibadah aqiqah terdapat pendidikan spiritual yang mendalam. Bahwa sejak kecil seorang anak didoakan agar tumbuh menjadi pribadi yang saleh, mampu mengendalikan hawa nafsunya, dan menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya.
Karena itu, aqiqah bukan sekadar menyembelih kambing. Tetapi ada nilai penghambaan, pendidikan, syukur, dan doa di dalamnya.
Namun demikian, jamaah sekalian,
Islam tidak memberatkan umatnya. Tidak semua orang tua memiliki kemampuan ekonomi ketika anaknya lahir. Ada yang hidup dalam keterbatasan, ada yang kesulitan memenuhi kebutuhan pokok, sehingga belum mampu melaksanakan aqiqah.
Maka dalam kondisi demikian, tidak ada dosa baginya. Sebab Allah Ta’ala berfirman:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya.”
Karena itu, apabila seseorang telah dewasa sementara dahulu belum diaqiqahi, maka tidak perlu merasa terbebani secara berlebihan. Sebagian ulama membolehkan ia mengaqiqahi dirinya sendiri, namun sebagian ulama lain memandang tidak perlu, karena waktu utama aqiqah telah lewat.
Jamaah rahimakumullah,
Adapun ibadah kurban adalah syiar besar dalam Islam. Kurban adalah ibadah yang menghidupkan keteladanan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan Nabi Ismail ‘alaihissalam dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.”
Kurban mengajarkan kepada kita tentang keikhlasan, pengorbanan, kepedulian sosial, dan ketundukan total kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Karena itu, apabila seseorang memiliki kemampuan pada tahun ini untuk berkurban, sementara ia dahulu belum diaqiqahi, maka para ulama banyak yang menganjurkan agar ia mendahulukan kurban. Sebab waktu kurban terbatas hanya pada hari raya Iduladha dan hari-hari tasyrik.
Sedangkan aqiqah memiliki keluasan waktu ketika anak masih kecil. Bahkan apabila telah dewasa, seseorang masih dapat memperbanyak sedekah dan amal saleh sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Dari sini kita belajar bahwa dalam Islam ada fiqih prioritas. Tidak semua amalan ditempatkan pada posisi yang sama. Ada amal yang waktunya sempit, ada yang waktunya luas. Ada yang lebih utama dikerjakan saat ini, dan ada yang bisa dilakukan di waktu lain.
Maka seorang muslim hendaknya bijak dalam menentukan prioritas amalnya.
Jangan sampai seseorang meninggalkan kurban yang waktunya terbatas karena terlalu sibuk memikirkan aqiqah yang telah berlalu masanya. Tetapi juga jangan meremehkan sunnah aqiqah dan menganggapnya tidak penting. Semua ibadah memiliki nilai dan keutamaannya masing-masing.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Dalam masalah menggabungkan niat kurban dan aqiqah, para ulama juga berbeda pendapat. Sebagian membolehkan, dan sebagian lainnya memandang lebih baik dipisahkan. Maka dalam persoalan seperti ini hendaknya kita saling menghormati dan tidak mudah menyalahkan.
Inilah indahnya Islam. Perbedaan pendapat di kalangan ulama tidak menjadi sebab permusuhan, tetapi menjadi rahmat dan keluasan bagi umat.
Yang paling penting adalah keikhlasan hati dan ketakwaan kepada Allah. Sebab Allah tidak melihat besar kecilnya hewan kurban kita, tetapi melihat ketakwaan dalam hati kita.
Allah Ta’ala berfirman:
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ
“Daging-daging kurban dan darahnya itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”
Karena itu, mari kita jadikan momentum Dzulhijjah ini untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, memperkuat kepedulian sosial, dan mendidik keluarga kita agar semakin dekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Didik anak-anak kita dengan iman, ajarkan mereka Al-Qur’an, biasakan mereka mencintai masjid, dan tanamkan akhlak mulia sejak dini. Sebab anak yang saleh tidak lahir begitu saja, tetapi tumbuh dari rumah yang dipenuhi doa, ibadah, dan keteladanan.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang istiqamah dalam ketaatan, menerima amal ibadah kita, menerima kurban kita, dan menjadikan keluarga kita keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.
فبارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم، وتقبل مني ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم.
أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم ولسائر المسلمين فاستغفروه، إنه هو الغفور الرحيم.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar